
Mbak Nita turun dengan murung, ia cemas memikirkan hal apa yang terjadi pada wulan. Dan tiba-tiba wiwit datang bersamaan desi.
" Mbak Wulan gimana??, " tanya Wiwit melihat Mbak Nita yang datang dari arah rumah atas Wulan.
" Wulan sakit, sebaiknya toko kita yang urus".
" Mbak Wulan sakit lagi??, " tanya Desi cemas.
Mbak Nita tak menjawab tapi ia hanya mengangguk sebagai isyarat bahwa pertanyaan Desi benar Wulan sedang sakit. Tapi sakit kali ini beda, hati Wulan yang dalam tengah sakit menahan keadaan yang ditimbulkan dari perpisahaannya dengan Rendi.
" Wit, bantu mbak buat roti yaa?, " ajak Mbak Nita.
" Iyya mbak, " balas Wiwit.
" Des, tolong beres-beres toko depan yaa, " perintah Mbak Nita pada Desi.
" Baik Mbak, " ucapnya yang berbalik badan kembali ke depan toko.
Suasana toko sedikit sepi, para pelanggang banyak yang kembali karena cake premium buatan Wulan tak tersedia. Bahkan mereka ada yang beberapa memaksa Desi untuk mencatat nama mereka, jadi jika Wulan telah kembali membuat cake, cake mereka laah yang harus diproritaskan.
Desi hanya mengikuti saja, tapi tidak membuat janji. Karena kondisi Wulan yang memang tengah sakit.
Sore harinya dua langganan kecil Dr. Dessert datang dengan gembira. Safa mengikuti langkah Marwah yang datang dengan senyum.
" **** Wulaaaan??, " panggil Safa didepan meja kasir.
" Eh, adik kecil maaf Tante Wulannya lagi sakit, " jawab Desi ramah.
" Tante Sakit??, " tanya Safa cemas.
" Sakit apa??, " timpal Marwah.
" Sakit demam, " jawab Mbak Nita yang datang dari arah dapur.
" Apa ada kue yang mau kalian beli??, " tanya Mbak Nita melayani sikembar.
" Apa, Tante Wulan dirumah sakit papa lagi??, " tanya Marwag yang terlihat gelisah.
" Enggak, tante Wulan ada dikamarnya, " jawab Mbak Nita ramah.
" Boleh gak, kami liat tante Wulan??, " pinta Safa.
" Hhmm, maaf yaa Safa Marwah, bukan gak ijinin tapi takutnya sakitnya menular ke kalian berdua, " jelas Mbak Nita dengan tidak enak.
Terlihat wajah Safa Marwah cemberut seketika.
" Maaf yaa, doain semoga Tante Wulan cepat sembuh, " jelas Mbak Nita pada keduanya.
Marwah mengangguk lesu, dan Safa memengang tangan Marwah. Dan menariknya untuk keluar dari toko Dr. Dessert.
Diluar toko Marwah melepaskan tangannya dari Safa, ia berlari menuju mobil dan mengetuk pintu mobil memanggil Pak Didi yang berada didalam mobil. Sesaat pintu mobil itu terbuka dengan berlahan.
" Ah iya, Non Marwah ada apa??, " tanya Pak Didi bingung.
" Pak, pak.., pinjem hpnya!!, " pinta Marwah.
" Cepat " pintanya lagi dengan menegadah tangan dihadapan Pak Didi.
"Oh.., ini Non, " ujarnya yang menyerahkan handphonenya ke arah Marwah.
" Telfon papa, " perintah Marwah pada Pak Didi.
" Hah??, " Pak Didi bingung.
" Ikh, Pak Didi, pencetin nomor hp papa cepet, Marwah mau ngomong!!".
"Oh, iyya sebentar Non, " ucap Pak Didi yang kembali mengambil handphonenya dan mengetik nomor telfon tuannya. Dan telfon itu tersambung ke handphone dr. Evan.
" Hallo Tuan, ini Non Marwah mau ngomong, " jelas Pak Didi.
" Oh, baik pak, " jawab dr. Evan santai.
Dan handphone itu pun diberikan ke pada Marwah yang menunggunya dengan cemas.
" Hallo papa??, Papa tante Wulan sakit!!, " jelas Marwah pada papanya.
" Hah??, tante Wulan sakit??, "ucapnya terkaget.
" Iyya, Papa kemari yaa??, cepat!!, " perintah Marwah.
" Oke, papa kesana sekarang, " ujarnya dengan cemas.
Dan Marwah mengembalikan handphone itu ke Pak Didi. Terlihat Safa disisi Marwah melihat dengan bingung.
" Ini, makasih Pak, " Marwah mengembalikan handphone Pak Didi.
" Papa bilang apa??, " tanya Safa pada Marwah.
" Papa mau kesini, kita tunggu aja didalam yuk!!, " ajaknya pada Safa yang kini meraih tangan Safa dan melangkah bersama menuju kedalam toko kembali.
Terlihat wajah aneh dari Mbak Nita dan Desi yang masih mengobrol di meja kasir.
" Apa ada kue yang mau dibeli??, " tanya Mbak Nita kembali dan mendekat kearah keduanya.
Safa menggeleng pelan.
" Kita tunggu papa disini, tante, " jelas Marwah.
" Ooh, baik kalo begitu, " ucap Mbak Nita tersenyum.
πππ
Dan tak lama berselang dr. Evan sampai dengan mobil sedan mewahnya. Ia turun dengan segera menuju kedalam toko Dr. Dessert. Kedatangan dr. Evan disambut gembira oleh Safa dan Marwah.
" Papaaa!!!, " seru Safa gembira.
Mbak Nita yang sedang menghitung jumlah orderan menjadi terkaget dengan panggilan Safa yang menyambut papanya. Dan ia pun menuju kekerumunan Safa Marwah dan juga dr. Evan.
" Dokter, ada apa yaa??, " tanya Mbak Nita.
" Saya ditelfon Marwah, katanya Wulan sakit??, " jelas dr. Evan.
" Ah, iiya benar Wulan memang sedang sakit, tapi hanya demam biasa, " ujarnya canggung.
" Biar saya periksa, " pintanya pada Mbak Nita.
" Ah, hhmm, baik Dokter, ikut saya kerumah atas Wulan, " ujarnya sedikit ragu.
" Ikuuttt..., " pinta Marwah merenggek.
" Hhmm, Safa Marwah disini dulu yaa, papa sebentar periksa tante Wulan".
Wajah keduanya pun cemberut.
" Sebentar aja, yaa, " bujuk dr. Evan pada keduanya agar menurut.
Dan dr. Evan pun kembali dengan segera mengikuti Mbak Nita yang telah melewati ruang dapur kue menuju tangga rumah atas Wulan.
Mbak Nita mengetuk pintu rumah Wulan. lalu membuka pintu itu sedikit pelan. Terlihat Wulan berdiri dengan berpegang pada kursi meja makan. Mata dr. Evan melihat dengan terpanah sosok Wulan yang lemah.
" Wulan??, kamu kenapa??, " ujar Mbak Nita cemas dan segera memegang sisi lengan Wulan.
dr. Evan berdiri tepat dihadapan Wulan, melihat dengan sedih.
" Dokter??, " Wulan menatap dr. Evan.
" dr. Evan kemari untuk memeriksa keadaan kamu, " kata Mbak Nita.
" Apa perutmu sakit lagi?, " tanya dr. Evan pada Wulan.
Wulan menggeleng pelan.
" Ah, lebih baik kamu duduk dulu Wulan biar dokter bisa periksa kamu, " ujar Mbak Nita dengan berlahan mengarahkan tubuh Wulan untuk duduk di sofa tv.
Mbak Nita mendudukkan Wulan disofa dengan hati-hati.
" Mbak, tolong air hangat dan tolong buatkan minum untuk dokter, " pinta Wulan pada Mbak Nita.
" Ah, baik, " ujarnya yang berjalan meninggalkan Wulan dan dr. Evan yang tengah mengeluarkan Stestoskop miliknya dari dalam tas.
Setelah memasang Stestoskop itu ketelinganya, dr. Evan meminta ijin untuk memeriksa.
" Maaf saya periksa".
Wulan mengangguk pelan dengan mata nanar.
Dan dengan serius dr. Evan memeriksa tubuh Wulan. Selang dari itu ia mengeluarkan tensi elektrik dari dalam tasnya. Dan lagi ia meminta izin untuk memengang lengan Wulan yang terbalut cardingan warna pink soft.
Wulan hanya mengangguk. Dan ketika Wulan menyikap lengan cardingannya terlihat kulit putih Wulan yang bersih, seketika dr. Evan seolah terkesima melihatnya. Namun ia segera memasangkan sarung tensi itu ke arah lengan Wulan.
" Dokter??, " panggil Wulan pelan.
dr. Evan mengalihkan pandangannya pada layar monitor itu untuk melihat ke arah Wulan.
" Ya, " jawab dr. Evan.
" Sebelumnya Wulan minta maaf, " ucapnnya sedikit ragu.
" Bisakah, Dokter untuk tidak datang lagi ketoko saya??, " ucapnya menatap dr. Evan.
Seketika ada rasa kecewa yang dirasa oleh dr. Evan dengan permintaan Wulan.
" Hhmm, baik, " jawab dr. Evan berat.
" Wulan enggak melarang anak-anak untuk datang, hanya terkadang dengan dokter yang selalu datang Wulan merasa nantinya akan menimbulkan fitnah. Wulan tak ingin dicap sebagai prempuan tidak baik-baik, terlebih dokter sudah punya keluarga, apa yang akan istri dokter pikirkan??, " terangnya.
dr. Evan sempat berpikir sesaat "bagaimana jika sekarang Wulan tau bahwa ia sudah tak beristri lagi??, dan bahkan sedang mencari seorang ibu untuk kedua putrinya!!! ". Tapi dr. Evan urungkan, melihat kondisi Wulan yang sepertinya dalam kondisi tidak baik. Ia hanya mengangguk mengiyakan maksud Wulan.
" Hhmm, baiklah, " jawab dr. Evan datar.
Dan tiiiit..., terdengar suara dari tensi eletrik itu menunjukkan angka yang dihasilkan dari pemeriksaannya dilengan Wulan. dr. Evan melihat dan mencatat resep dengan cepat dan menyerahkannya pada Wulan.
" Kamu Anemia, dan ini ada beberapa resep yang saya tulis, jagalaah kesehatan dan buatlah kue yang enak, karena Safa dan Marwah sedih melihat kamu sakit, " saran dr. Evan.
Sesaat Wulan memandang wajah dr. Evan yang tulus dengan ucapannya.
Wulan hanya mengangguk pelan. Dan dr. Evan pun bangun seraya membereskan alat medisnya tadi kedalam tas. Ia berdiri seraya wulan juga ikut berdiri.
" Semoga kamu cepat sembuh, " ucapnya pada Wulan dan membalik badannya meninggalkan Wulan.
Namun tiba-tiba tangan Wulan meraih lengan dr. Evan.
" Dokter, maaf dan terima kasih banyak, " ucap Wulan dengan senyum sekilas.
dr. Evan mengangguk dan ia berjalan kembali kearah pintu rumah Wulan dan keluar turun dianak tangga. Namun ketika turun dianak tangga ke 7 dr. Evan terhenti lalu berbalik badan melihat pada pintu rumah Wulan. Entah apa yang terlintas dibenak dr. Evan dengan melihat sedih. Lalu kembali turun menuju bawah.
Kedatangan dr. Evan dari rumah atas Wulan disambut senang oleh kedua putrinya.
Marwah berlari menuju papanya.
" Tante Wulan gimana papa??, " tanya Marwah antusias.
" Hhmm, Tante Wulan harus banyak-banyak istirahat dan rutin minum obat, " jawabnya menjelaskan.
" Kapan tante sembuh??, " timpal Safa.
" Segera, pasti tante Wulan cepat sembuh dengan obat yang papa kasih, " kembali menjelaskan dengan lembut.
" Sekarang papa balik ke rumah sakit dulu yaa".
" Ah, dokter ini airnya??, " kata Mbak Nita.
" Gak papa, saya harus balik segera, " ucapnya menolak dengan sopan.
" Safa Marwah, segera pulang yaa kalo sudah siap memilih kuenya".
" Baik papa, " jawab keduanya bersamaan.
dr. Evan pun berjalan keluar toko meninggalkan Safa Marwah dan Mbak Nita yang tak enak karena air yang dibuat tak diminum oleh dr. Evan.