One Step Closer

One Step Closer
36



Sosok wanita paruh baya itu masuk dengan mengagetkan Safa Marwah dan Wulan.


"Eyaaaang, " sambut Safa riang seraya bangun dan turun dari ranjang pasien itu.


Mata Wulan melebar, "Eyang??" gumamnya dalam hati. Dan bersegera turun dari ranjang pasien itu dan berdiri dengan gugup.


Wanita paruh baya yang dipanggil eyang itu pun masuk bersamaan dengan Safa dan berjalan pada Wulan dan Marwah.


" Cucu-cucu Eyang udah sembuh??, " tanya wanita paruh baya itu seraya menatap Marwah dengan hangat.


Marwah mengangguk dengan senang. Dan kini wajah eyang beralih melihat pada Wulan yang berdiri dengan canggung.


" Ini Eyang kita Tante, " jelas Marwah pada Wulan.


Wulan dengan ragu mengulurkan tangan pada wanita paruh baya itu yang melihatnya dengan hangat.


" Sa.., saya Wulan nyonya, teman Safa Marwah," jawab Wulan dengan gugup.


Tangan Wulan disambut hangat oleh Eyang.


" Panggil saja saya Ibu, dan jangan sungkan, saya senang kamu bisa berteman dengan Safa dan Marwah, " wajahnya ramah.


" Ah, baik ibu, iyya Safa Marwah anak yang baik pasti banyak teman yang ingin bermain bersama keduanya, " Wulan mencoba tenang.


Eyang mengangguk dengan senyum.


" Mimi Eva mana Eyang??, " tanya Safa.


" Oooh, Mimi Eva katanya sedang cari kado untuk kalian, mungkin sebentar lagi sudah datang kemari".


" Hhhmm, Safa Marwah, tante balik dulu yaa??" ucap Wulan berpamitan pada keduanya.


" Kok gitu??, kan kita belum selesai mainnya??, " sela Marwah cemberut yang kini turun dari ranjang pasien berjalan memegang tangan Wulan.


" Sayang, tante harus balik dulu, cepat sembuh biar kalian biasa ketempat tante lagi, " ucapnya menenangkan Marwah.


" Jangan pulang dulu tante, kita kan belum potong cake ulang tahunnya??, " rengek Safa.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan sosok dr. Evan masuk dengan kaget.


" Wulan??, " sapa dr.Evan.


Wulan reflek berpaling melihat dr. Evan yang kini berada di hadapannya.


" Evan??, " panggil ibunya pada dr. Evan.


" Ah, Ibu?? sudah lama sampai??, " tanya dr. Evan berjalan menuju ibunya dan meraih tangan untuk salam hitmat kepada ibunya.


" Baru saja, kamu dari mana???, " jawab ibu dr. Evan hangat pada putranya.


" Ah biasa, tangani beberapa pasien, " dan mata dr. Evan kini beralih melihat Wulan yang terdiam mematung.


" Kamu sudah lama??, " tanya dr. Evan pada Wulan.


Wulan hanya tersenyum canggung mengiyakan.


" Iyya, tapi ini saya mau balik dulu dokter, " dan Wulan pun berjalan meraih tasnya yang berada diatas meja sisi tempat tidur Marwah.


" Tante, tunggu dulu, kita potong cakenya dulu, kan sekarang udah ada papa, " pinta Marwah memegang tangan Wulan.


"Iyya tante yaa, " lagi Safa merengek.


Eyang melihat dengan sorot mata hangat, ia melihat wanita ini mampu membuat Safa Marwah begitu manja padanya.


" Safa Marwah, jangan gitu sama tante Wulan, kasian tante mungkin ada keperluan, " ujar papa mereka yang kini mencoba meraih lengan Marwah yang memegang tangan Wulan.


Marwah tak menjawab, dan terlihat Safa mulai manjatuhkan airmatanya, lalu selang detik kemudian menangis dan diikuti Marwah yang juga menangis.


Wulan mengehela nafas panjang, dan menarik tubuh Safa dan Marwah kedalam pelukannya.


" Oke, stop dulu nangisnya, kita akan potong kuenya sama-sama, " ujar Wulan menenangkan keduanya.


Dan tangis keduanya pun mereda. Eyang kagum dengan sosok Wulan.


Wulan pun bersegera mengambil kotak cake itu dan meletakkannya di meja makan pasien.


Safa Marwah bersemangat untuk naik ke atas ranjang kembali, keduanya bersemangat untuk memotong cake itu. Terlihat Wulan menanamkan lilin berangka 8 disana, dan menyalakannyan dengan pematik api.


" Nah sekarang udah siap, yuk nyanyi sama-sama, " ucap Wulan kepada Safa dan Marwah.


Dan terlihat dr. Evan mengambil posisi disisi Marwah dan Eyang berdiri disisi Wulan.


🎡 Slamat ulang tahun,,


Slamat ulang tahun, bahagia sejahtera slamat ulang tahun Safa Marwah🎡


Nyanyian itu terdengar riang dan suara tepuk tangan pun riuh sesaat. Terlihat wajah Safa Marwah bahagia, mereka antusias untuk meniup lilin. Tapi keduanya kompak menutup mata dan hal itu membuat Wulan, eyang dan dr. Evan tercengang.


" Nah sekarang potong kuenya yaa, Eyang mau rasa, " ucap ibu dr. Evan pada keduanya.


" Ini enak loh Eyang, tante Wulan yang buat, " jelas Safa pada Eyangnya.


" Oya??, " sahut ibu dr. Evan terkaget dan melihat pada Wulan yang tersenyum malu-malu.


Wulan pun memberikan dua pisau plastik untuk memotong cake kepada Safa Marwah. Dan keduanya menerima dengan senang dan seketika tangan mereka kompak membelah cake itu.


Wulan memberikan piring plastik kepada keduanya untuk menaruh potongan cake tersebut yang kini bentuknya telah berantakan.


" Ini untuk Eyang, " memberikan piring plastik yang telah berisi cake itu kepada Eyangnya yang menyambut dengan senang dan mencium Safa dan berganti pada Marwah.


" Makasih sayang, semoga kalian sehat selalu" doa Eyang tulus.


" Untuk tante biar Marwah suapin, " ucapnya dengan memotong cake itu dengan sendok kecil lalu menyuapi kepada Wulan.


" Sini Safa juga mau, " pintanya yang merebut sendok ditangan Marwah dan ia pun memotong cake kecil lalu menyuapi kepada Wulan yang terlihat penuh dimulutnya.


Wulan berusaha menahan cake yang masuk kemulutnya.


" Dan sekarang buat Papa dari kita, " ucap Safa yang memotong cake dengan sendok yang sama memotong dan menyuapi padsmulut papanya.


" Safa tunggu, itu sendok bekas tante, ganti yaa, " sangah Wulan yang segera memberi sendok lain pada Safa.


" Udah gak papa, " balas dr. Evan seraya membuka mulut menerima suapan cake tersebut dari tangan Safa.


Wulan hanya bisa bengong saja. Eyang (ibu dr. Evan) tersenyum simpul melihat pada moment indah itu.


" Cakenya kita bagi-bagi ke perawat lain boleh gak tante??, " tanya Marwah.


" Boleh sayang, terserah Safa Marwah aja, " ujarnya lembut.


Dan mungkin moment itu akan indah pada waktu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah membantu Safa Marwah memotong cake dan membagikannya kepada para perawat jaga, lalu Wulan meminta ijin untuk pulang.


" Saya pulang dulu ya, ibu " pamit Wulan.


" Iya, tapi kamu besok datang lagi yaa??, biar kita bisa ngobrol, " pintanyadengan tulus.


" Ah, iyya, saya usahakan, " jawab Wulan sungkan seraya menuju pintu keluar dan berpas-pasan dengan Safa Marwah yang telah kembali dari membagikan cake keperawat.


" Tante mau kemana??, " tanya Safa.


" Sayang tante harus pulang, " seraya membelai wajah Safa.


" Biar saya antar, " tawar dr. Evan.


" Ah, jangan-jangan dokter!!," ujarnya cepat dan kini ia berada diluar pintu kamar sakura.


Namun tangan Wulan diraih dr. Evan.


" Saya antar!!, papa antar tante Wulan dulu yaa " ujar dr. Evan seraya menarik tangan Wulan meninggalkan kedua anaknya didepan pintu kamar.


Wulan berjalan dengan tidak nyaman, beberapa mata perawat melihat kearah mereka dengan heran.


" Dokter??, " panggil Wulan seraya berhenti.


dr. Evan pun berhenti seketika.


" Dokter saya bisa jalan sendiri, jadi tolong tangannya dilepas, " pinta Wulan.


" Ah, maaf, " dr. Evan pun melepaskan tangan Wulan seketika.


Tiba-tiba seorang perawat berlari tergesa-gesa kearah dr. Evan.


"dr. Evan, ada pasien darurat baru sampai, tolong dokter?? dr. wayu sudah keluar tadi, " ucap perawat dengan sedikit terengah-engah.


" Oke baik, " lalu ia beralih melihat Wulan.


" Wulan bisa sendiri dokter, " mencoba meyakinkan dr. Evan.


" Mana handphone kamu???, " pintanya dengan menegadah tangan kedepan Wulan.


" Handphone?? ini!!, " jawab Wulan yang segera diraih oleh tangan dr. Evan. Dan dengan serius ia membuka layar handphone Wulan dan menekan nomor lalu sedetik kemudian handphone dr. Evan berdering.


" Ini no saya, kabari jika kamu sudah ditoko, " pinta dr. Evan seraya menyerahkan kembali handphone itu ketangan Wulan. Lalu ia pun berbalik badan berlari kecil pada perawat yang sudah lebih dahulu berlalu.


Wulan terbengong sepeninggalan dr. Evan.


" Dokter ini?? bener-bener!!, " celetuk Wulan yang sedikit bingung. Namun ia berlalu jalan meninggalkan gedung rumah sakit itu.