One Step Closer

One Step Closer
44



Sore itu wulan duduk disofa rumahnya, ia menatap layar handphone dengan gelisah. Ia menimbang-nimbang handphone dan berpikir keras bagaimana untuk berbicara dengan ayahnya.


Dengan menghela nafas panjang, ia menguatkan hati untuk menelfon nomor ayahnya.


Terdengar suara sambungan disebelah telfonnya. Dengan hati cemas ia menunggu jawaban sambungan telfon. Dan kini terdengar suara pria paruh baya yang berat menjawab telfonnya.


Ayah wulan/"wulan???"


Wulan/"aa, ayah??apa kabar??"ucapnya berlahan.


Ayah/"ayah baik, kamu bagaimana?? kapan pulang??"


Wulan/"aa,,"tiba-tiba suara wulan terhenti ketika mendengar suara perempuan yang paling ia benci mulai mengusik pembicaraannya dengan ayah.


Ibu tiri/"sini telfonnya?? eh, kamu wulan?? anak macam apa kamu gak pulang?? apa kamu gak tau ayah kamu sakit-sakitan??" ujarnya ketus.


Seketika bibir wulan membisu, sakit hatinya memunca. Wulan mencoba mengontrol emosinya untuk menjawab pertanyaan wanita yang paling ia benci.


Wulan/"wulan akan pulang segera" ucapnya dingin dan komunikasi itu pun terputus begitu saja.


Selalu, selalu wanita itu menghalangi ia dan ayahnya untuk berbicara. Sedari dulu ia mengambil alih semua keputusan yang seharusnya itu menjadi hak ayah.


Tanpa pikir panjang wulan menyusun pakaian kedalam koper kecilnya. Ia hanya membawa beberapa pakaian. Sesaat ia berpikir dan kemudian ia keluar kamar lalu turun kebawah untuk menemui mbak nita yang tengah menyusun cake premium wulan yang tinggal beberapa box lagi.


Wulan/"mbak??"


Mbak nita mengalihkan pandangannya ke arah wulan yang terlihat gelisah.


Mbak nita/"ya wulan? ada apa??"


Wulan/"titip toko yaa beberapa hari!"


Mbak nita/"???"


Wulan/"wulan mau jenguk ayah" ucapnya gelisah.


Mbak nita/"ayahmu sakit??


Wulan hanya mengangguk dengan wajah gelisah.


Mbak nita/"ya mbak ngerti, toko biar mbak urus"ucapnya seraya menepuk pundak wulan yang cemas.


Setelah mendapat kejelasan dari mbak nita, ia pun buru-buru untuk naik ke rumah atasnya untuk menurunkan koper kecil dan mengambil tas fossil merahnya. Dengan meraih jaket woltnya ia pun turun.


Tapi betapa kagetnya wulan ketika ia melihat sosok dr. Evan kini berada di depan meja kasir tengah berbicara dengan mbak nita.


Wulan/"dokter???"


dr. Evan/"ah, aku datang untuk memberikan mu obat"


Dan dr. Evan melihat dengan wajah bingung kearah wulan dengan mengerek koper kecilnya.


dr. Evan/"???"


dr. Evan/"kau akan pergi kerumah orang tuamu??"ucap dr. Evan yang telah lebih dulu tau dari mbak nita.


Wulan sedikit terkaget mendengar pertanyaan dr. Evan.


Wulan/"ah, iyya dokter"


dr. Evan/"aku akan ikut dengan mu"


Wulan/"hah??? tapi dokter??"


dr. Evan/"aku ingin langsung bertemu orangtua mu"ucapnya cepat seraya meraih handphonenya dan menelfon seseorang dengan serius.


Wulan hanya terbengong dengan dr. Evan. Wulan sedikit ragu dan mendekat kearah dr. Evan yang tengah menelfon membelakanginya. Wulan menyentuh pundak dr. Evan dan seketika dr. Evan membalikkan badannya dengan telah mengakhiri pembicaraan telfonnya.


Wulan/"dokter, maaf tapi sebaiknya dokter tak usah ikut!!"


dr. Evan/"???"


Wulan/"maaf tapi keluarga wulan berbeda dengan bayangan dokter?? jadi sebaiknya dokter gak usah kesana"ia benar-benar cemas.


dr. Evan/"kau tak benar-benar percaya aku??"ucapnya serius.


Wulan/"maaf tapi ini,,"


dr. Evan/"dengar, dipernikahan ini bukan hanya ada aku dan kamu wulan, ada keluarga kita, sebeda apa pun aku harus memahaminya, tidak kah aneh jika aku tak tau bagaimana kelurga mu??"jelasnya meyakinkan wulan.


Wulan tak bisa berkata lagi dengan penjelasan dr. Evan yang memang ada benarnya. Tapi sungguh ini hal yang berat.


Dan akhir kata dr. Evan pun ikut dengan wulan ke bandung untuk menemui orangtua wulan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Walau hati dan pikiran wulan berat, pada akhirnya ia pun ikut perkataan dr. Evan yang kini naik kedalam mobil alphard dr. Evan yang mengantarkan mereka ke bandara.


Wulan/"dokter?? anak-anak apa tak apa-apa??"


Terlihat dr. Evan tengah mengetik cepat dilayar handphonenya dengan serius. Ia harus mengatur ulang konsul dan beberapa tindakan oparsi untuk di tangani dengan rekan dokter lainnya.


dr. Evan/"ah, itu anak-anak terbiasa jika aku tinggal untuk beberapa hari, hanya ketika pulang harus membelikan sesuatu untuk mereka sebagai ganti ditinggal"ujarnya menjelaskan dan kembali fokus ke handphonenya.


Wulan pun hanya menganggu paham. Diam-diam Wulan melihat dr. Evan dengan lekat, baru kali ini ia melihat ekspresi dr. Evan berganti-ganti mengenyitkan dahinya dan sesekali tersenyum kelayar handphonenya. Dan tanpa sadar wulan pun sedikit tertawa kecil melihat ekspresi dr. Evan itu yang dianggapnya lucu.


dr. Evan/"kenapa??" ucapnya yang teralihakan ketika wulan tertawa kecil.


Wulan/"ah gak!!" ucapnya yang tiba-tiba mengubah ekspresi tawanya menjadi biasa.


Mungkin terlalu cepat semua ini, ia bahkan belum benar-benar mengenal dr. Evan dengan baik. Sesaat ia terteguh, dan mengalihakan pandangannya keluar jendela mobil.