
Didalam taksi eksluksif itu selama perjalanan menuju bandara, mas Evan dengan sangat serius melihat ke layar handphonenya. Ia tengah mengubah jadwal ulang dengan rekan kerjanya dr. Wayu untuk beberapa hari.
Wulan pun tak mau kalah, ia pun tengah membalas cansel pesanan cake premium yang tidak bisa ia penuhi milik pelanggan. Memang berdampak tidak baik untuk citra usahanya yang jarang mengcansel pesanan pelanggan yang telah jauh-jauh hari mengorder.
Sesaat Wulan menghela nafas pajang. Dan ia melihat sisi jendela mobil taksi itu yang melewati gedung-gedung tinggi. Tiba-tiba ia teringat akan Safa dan Marwah. Dan ia mulia mencoba menghubungi kak Eva untuk bisa berbicara dengan Safa dan Marwah. Namun dari sebrang sana tak jua mengangkat telfon dari Wulan.
"Wulan??".
" Ya??"
" Apa ada masalah??, " ucap Mas Evan yang memperhatikan ekspresi wajah Wulan yang sedikit sedih.
" Wulan rindu anak-anak, Mas" ucapnya pelan.
Mas Evan tersenyum lembut. Ia pun meraih jemari ramping Wulan yang memegang handphonenya.
" Kamu, benar-benar baik, " ucap Mas Evan seraya tersenyum.
" Kamu bisa dengan sangat sayang pada kedua putriku".
Wulan hanya tersenyum simpul kepada mas Evan. Namun jauh dilubuk hatinya ada desiran perih yang ia tahan.
" Andai.., andai Wulan punya kesempatan mas, Wulan juga ingin memiliki anak darimu," lirih batin Wulan dalam diamnya yang kembali melihat luar jendela mobil taksi.
Sesampai dibandara Wulan dan mas Evan duduk di ruang VVIP yang disediakan oleh pihak maskapai sebagai layanan prioritas.
Keduanya sibuk bercerita bak dunia milik berdua, hal yang mungkin dulu terhalang oleh sifat kaku Wulan namun kini Wulan jadi begitu mesra pada Mas Evan.
Hingga tiba jadwal penerbangan menuju bali. Didalam pesawat Wulan dan mas Evan duduk dikurai bisnis. Terlihat Wulan tertidur bersandar pada bahu mas Evan yang juga ikut tertidur dengan jemari saling bertautan. Bahkan para pramugari yang ingin menyajikan makanan pun ikut segan untuk membangunkan keduan. Namun karena beban tugas pramugari itu pun mencoba membangunkan pelanggannya.
" Permisi, pak??, " sapa Pramugari, mencoba membangunkan.
Dan mas Evan terbangun dengan reflek memberi kode pada Pramugari itu untuk memelankan suaranya. Dan sedetik kemudian ia memberi isyarat untuk tak menerima sajian makanan yang disediakan oleh maskapai.
Pramugari itu paham dan ia pun kemudian beralih ke pelanggan yang lain yang telah menunggu.
Jarak tempuh Jakarta-Bali sekitar 1jam 55 menit, dan tanpa terasa pesawat itu pun kini turun mendarat di bandara Denpasar.
" Mas??, kok tadi dipesawat gak ada dikasih makanan yaaa??, " ingat Wulan bingung.
" Ada, tapi karena kamu tidur Mas menolak mereka sajikan makanan, " jawabnya santai.
" Loh kok gitu??, " ucap Wulan yang tiba-tiba berhenti berjalan dan tangannya yang terpaut pada mas Evan pun menghentikan langkah mas Evan dengan bingung.
" Jadi rugi dong kita, udah bayar mahal tiketnya tapi gak makan, " ujarnya dengan cemberut.
" Kamu bisa sekesal itu karena gak makan??, " celetuk mas Evan.
" Ya kan, kita rugi karena gak makan dengan harga tiket mahal, apa lagi dengan pesawat itu, " jelas Wulan.
" Akhirnya sifat pelit kamu keluar juga yaa, " ujar Mas Evan tersenyum.
" Apa??, pelit??, " ujarnya tak percaya dengan penilaian mas Evan.
" Maaf ya mas, ini tuh bukan pelit tapi ini perhitungan!!, " ujarnya jadi tambah kesal.
Mas Evan pun sukses tertawa lepas melihat ekspresi istrinya yang tersinggung.
" Trus gimana??, apa perlu kita balik lagi kepesawat??, untuk minta makanannya??" ujarnya masih menahan tawa.
" Ya gak laah!!, " dengan mengedutkan bibirnya. " Cuma jadinya kita rugi, bayar mahal tapi fasilitasnya gak kita ambil, jadi hambur-hamburin uangkan namanya, " jelasnya dengan kembali berjalan mengikuti mas Evan yang menariknya kembali untuk berjalan menuju luar bandara.
" Kapan kita menghambur-hamburkan uang??, jika itu untukmu, berapa pun akan mas hamburkan!!, " ucapnya yang kini menatap Wulan.
" Hallo??, " seraya menatap wajah Wulan.
" Ah, iyya pak, saya sudah di depan. Oke, innova putih yaa??, Baik, " ucapnya yang mengakhiri komunikasi itu.
Dan tak berselang lama innova putih itu pun berhenti didepan mereka. Dan seorang bapak paruh baya turun menyambut keduanya.
" Maaf, pak saya terlambat, " ujar pak Supir sopan.
" Gak kok pak, " jawab Evan.
Dan pintu mobil innova itu pun terbuka, berlahan Wulan dan mas Evan pun masuk kedalam mobil dan di ikuti pak supir yang duduk dikemudi. Tak lama mobil itu pun melaju pelan.
Didalam perjalanan menuju villa hotel, terdengar obrolan hangat pak supir dan mas Evan. Wulan hanya mencoba menjadi pendengar setia.
Jauh perjalanan hingga akhirnya mobil innova itu sampai di sebuah hotel mewah The Samaya. Dan keduanya disambut hangat oleh para pelayan disana.
Ketika Wulan memasuki ruang kamar yang terlihat Lux itu ia menikmati suasana kamar yang tentram.
" Apa kamu suka??, " tanya mas Evan menunggu respon Wulan.
" Yaa, ini bagus sekali mas. Tapiiii.." ucapnya terhenti ketika mas Evan meraih pinggangnya dan membalikan tubuh Wulan, hal itu membuat Wulan kaget mendapatkannya diri terkunci dilingkar lengan mas Evan.
" Berhentilah menghitung!!, kamu tau mas sudah lama menantikan hal ini, bukankah hal yang pantas mas nikmati setelah lelah bekerja, " ujarnya menatap wajah Wulan.
Wulan pun tersenyum lembut seraya menyisir rambut mas Evan jemarinya turun ke pundak mas Evan.
Dan cup.. ciuman singkat dibibir mas Evan pun ia berikan pada suaminya.
" Tapiii, sebaiknya kita mandi dulu" sambungnya melanjutkan ucapnya yang terputus tadi. Dan sontak keduanya tertawa lepas.
" Ayo, kita mandi bersama??, " pintanya dengan wajah nakal yang berlahan menarik tubuh Wulan untuk melangkah ke ujung pinggir kolam renang pribadi dikamar itu, dan Wulan mengikuti dengan bingung. Dan sedetik kemudian mas Evan merenggut tubuh Wulan untuk jatuh bersama kedalam kolam, sehingga Wulan reflek berteriak.
" Kyaaaaak.., "jeritnya seraya memejamkan mata dengan memeluk tubuh mas Evan erat.
Dan Bruuum.. suara deburan tubuh Wulan dan Mas Evan jatuh bersama dalam kolam. Dan semenit kemudian tubuh mereka yang kembali mengapung diatas kolam dan Wulan berusaha bernafas.
" Mas???, apa mas gila??, Wulan gak bisa renang!!!, " ucapnya panik seraya memukul pundak mas Evan yang tertawa lepas.
" Ya, aku gila, gila karena kamu!!, " ucapnya dengan memeluk tubuh Wulan yang masih mengatur nafas.
Dengan menatap wajah Wulan dalam berlahan ia membantu Wulan untuk mererai rambutnya yang basah disamping wajah Wulan. Dan ia menemukan bibir ranum Wulan yang berwarna pink natural. Dan sedetika kemudian Mas Evan jatuhkan ciuman bibir Wulan, dan disambut kaget oleh Wulan. Namun berlahan ia mencoba menikmati pangutan lembut bibir suaminya itu. Hingga saliva keduanya bercampur dengan lidah mereka saling bertemu.
Suasana romantis itu berlangsung lama hingga keduanya terbawa suasana. Berlahan ciuman itu terterai dengan nafas yang tersenggal dari keduannya.
" Kamu tau??, Mas tak pernah sebahagia ini. Terima kasih, Wulan".
Wajah wulan merona, ia terpersona dengan tiap ucapan mas Evan.
Wulan mencium bibir mas Evan sekilas.
" Tapi bisakah kita ketipi?? ini sudah membuat Wulan dingin, " pintanya.
Tiba-tiba mas Evan mendengus pelan.
" Ya Tuhan, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada wanita tak romantia ini!!" selanya seolah sesal.
Wulan/"maafkan yaa dokter!!" ujarnya dengan tawa tertahan melihat suaminya yang seketika cemberut, namun tersungging senyum mengoda disana.
Dan nalam itu menjadi malam yang indah untuk keduanya.