One Step Closer

One Step Closer
33



Jalan malam yang sedikit lengang itu melancarkan laju mobil sedan dr. Evan. Wulan sendiri mencoba melihat jalan malam itu dengan membenamkan pikiran-pikiran sendiri.


Tak berselang lama mobil itu pun masuk kedalam perkarangan rumah sakit. dr. Evan memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia untuk para dokter.


Keduanya berjalan tanpa ada pembicaraan sama sekali. Beberapa perawat menatap kearah Wulan yang berjalan berdampingan dengan dr. Evan. Mereka melihat dengan heran.


Ketika sampai pada pintu kamar sakura, dr. Evan membuka pintu dengan pelan. Dan terlihat keduanya tengah duduk ditemani oleh seorang suster paruh baya yang sedang membenarkan tempat bantal Safa.


" Papa??," sambut Marwah senang.


dr. Evan masuk, ia hanya tersenyum pada Marwah yang tengah mencari-cari sosok yang ingin ia jumpai. Safa yang tadi sedang ingin rebahan pun menjadi semangat kembali.


" Tante Wulannya??, " tanya Marwah penasaran karena papanya masih berdiri didepan pintu kamar mereka tanpa bergerak.


" Disini, " sahut dr. Evan dengan senyum dan berlalu masuk kedalam dan terlihat sosok yang mereka rindukan tersenyum pada Safa Marwah dengan hangar.


Wulan pun masuk dan berjalan cepat mendekatin tengah tempat tidur Safa dan Marwah yang berjarak. Keduanya berebut untuk mengapai Wulan.


dr. Evan pun melangkah pada Safa.


"Sini papa gendong duduk ditempat Marwah, " ujar dr. Evan yang meraih Safa dan Wulan membantu memegang infus Safa dan berjalan menuju tempat tidur Marwah.


Marwah mengamburkan diri kedalam pelukan Wulan yang kini duduk diranjangnya. Safa pun tak mau kalah memeluk tubuh ramping Wulan yang memeluk mereka dengan senang.


dr. Evan yang terduduk di ranjang Marwah pun melihat dengan senang karena Safa Marwah benar-benar senang dengan kedatangan Wulan.


Safa Marwah larut dalam obrolan dengan Wulan, dunia yang tak pernah dr. Evan lihat sebelumnya. Wulan yang dengan hangat mendengar keluh kesah si kembar dan ia bisa menenangkan Safa Marwah tanpa merengek.


Mata dr. Evan terus menatap ketiganya dengan hangat, " apa ini yang namanya ikatan kasih sayang??, " gumamnya dalam hati. Walau pun bukan keluarga tapi Wulan dengan tulus memberi kasih sayangnya kepada Safa dan Marwah.


Waktu berlalu begitu saja dr. Evan sudah meninggalkan ketiganya karena ada panggilan darurat dari IGD.


Jam sudah mengarah pada pukul 12 malam lewat, Safa yang tak ingin kehilangan Wulan memilih tidur bersempitan dengan Marwah yang membiarkan kakaknya untuk tidur di 1 ranjang yang sama. Dengan manja Safa Marwah meminta Wulan juga ikut tidur bersama mereka.


Wulan yang tak bisa mengelak pun mau tidak mau jadi mengalah dengan bujukan mereka.


" Hhmm, kali ini aja yaa??"


" Tante dulu waktu tidur pernah diceritain cerita gak sama mommynya??," tanya Safa.


Wulan yang tengah mencoba membenarkan posisinya seraya tangan kanannya memeluk kedua tubuhnya yang hanya tergapai setengah.


" Hhhhm.., dulu yaa, mommy tante dulu cepat banget tidurnya, tante belum tidur mommy tante udah tidur duluan, jadi gak sempat deh cerita-cerita".


" Sama donk kayak kita, mommy kita juga gak pernah nemanin kita tidur apa lagi cerita, " kata Safa.


" Ah, mungkin mommy kalian capek kayak, mommy tante dulu begitu, karena seharian beresin rumah, buat kue dan ngejagain tante, " jelas Wulan mengingat kenangan lamanya.


" Tapi mommy kita memang gak capek kok tante, semua-semuakan dikerjain sama Bibik??, " jelas Marwah.


" Hhmm, kita tidur aja yuk??, tante udah ngantuk banget nie," sela Wulan untuk menyudahi obrolan yang membuat Wulan tak enak.


Wulan menepuk-nemuk lembut ketubuh Marwah, dan kedua gadis kecil itu pun tertidur lelap. Niat Wulan ingin segera pulang setelah menidurkan kedua gadis kembar ini. Namun Wulan yang tak biasa bergadang pun ikut tertidur bersama Safa dan Marwah diatas ranjang rumah sakit itu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dr. Evan kembali kekamar sakura dengan lelah, ia baru menagani pasien persalinan prematur karena kecelakaan lalu lintas dini hari. Namun dr. Evan masuk, tatapan matanya terpanah melihat Wulan yang tertidur bersempitan dengan seraya memeluk tubuh kedua putrinya.


Langkah dr. Evan mendekat kesisi ranjang itu dan melihat dengan lekat-lekat wajah Wulan yang tidur terlelap.


Sesaat dr. Evan melihat ke bawah kaki tempat tidur lalu ia meraih selimut untuk menutupi tubuh ketiganya.


Deg...deg..


Jantung dr. Evan berdetak cepat, ia mengagumi Wulan. Secara naluri tangannya ingin menyentuh ujung poni ramnut Wulan yang cantik membingkai wajah Wulan yang tertidur.


" Terima kasih, Wulan, " gumamnya berbisik sendiri.


Sentuhan itu pun ia urungkan. Dan ia beralih melihat sisi kamar untuk mematikan lambu agar sedikit redup. Dengan berjalan pelan ia duduk di kursi yang terdapat disisi sebelah ranjang Marwah.


Dengan berusaha untuk mendapatkan posisi nyaman dr. Evan pun melepaskan lelahnya dengan tertidur dikursi dengan kedua tangannya menyila didadanya.