One Step Closer

One Step Closer
29



Sepeninggalan dr. Evan, Wulan terus berdiam diri dikamarnya. Mbak Nita naik untuk mengecek keadaan Wulan yang pulang dengan wajah pucat.


" Wulan??, " panggil Mbak Nita yang melihat Wulan terduduk disisi tempat tidurnya dengan masih mengunakan gaun putih itu.


Wulan melihat pada Mbak Nita sesaat dan mencoba membuang sedihnya.


" Apa, kamu baik-baik saja??"


" Hhmm, iyaa, " jawabnya cepat.


" Bagaimana kamu bisa pulang dengan dr. Evan??, " tanya Mbak Nita lagi.


" Itu, ketemu diacara Mbak, " sahutnya datar.


" Sebaiknya Wulan mandi dulu ya Mbak, " ucapnya seraya meraih handuk digantungan dekat lemarinya, dan mencoba menyembunyikan memar lengannya.


Mbak Nita tak berkata lagi, ia pun memilih menunggu Wulan dibawah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah selesai mandi Wulan mengenakan kemeja lengan panjang dan rok sebetis dan berpikir akan turun ketoko segera, tapi langkahnya terhenti ketika melihat jas dr. Evan yang berada diatas tempat tidurnya.


"Jas dr. Evan??".


Sesaat bayangan pelukan dr. Evan ditubuhnya membuat Wulan sedikit berdebar. Sudah beberapa kali tubuhnya berada dalam dekapan dr. Evan.


Seketika Wulan seperti tersadar dari lamunnya melihat jas dr. Evan yang aroma parfumnya tertinggal dengan kuat dijas itu.


" Sebaiknya, kamu harus segera kembali pada tuan mu!!, " ucapnya berbicara pada jas dr. Evan yang kini telah ia gantung dihanger. Lalu Wulan melihat pada jas dr. Evan yang sebelumnya menghagatkan tubuh Wulan saat hujan kala itu.


" Dokter, kamu terlalu baik??, " ucapnya pelan seraya menyentuh bahu jas dr. Evan dengan lembut.


Namun lamunnya tersadar, dan ia pun menutup lemari pakaiannya lalu turun cepat ke bawah toko. Wulan ingin melupakan hal buruk yang terjadi tadi.


πŸƒπŸƒπŸƒ


dr. Evan kembali kerumah sakit Petramedika dengan perasaan yang berbeda. Ia cemas akan Wulan, namun disisi lain hatinya pun ikut terus berdebar mengingat bahwa tadi Wulan berlari kedalam pelukkannya.


Sesaat dr. Evan menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya, ia melonggarkan dasinya dan bersandar pada kursi putarnya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara telfon berdering. Dan terlihat nama "Bibik Rumah" tertera disana. Dengan segera dr. Evan menerima sambungan telfon itu.


" Hallo, Bik ada apa??


"Hallo, Tuan!!, Tuan, Non Safa dan Non Marwah, Tuan, " ucapnya gugup dengan suara panik.


" Kenapa Safa Marwah??, " sahut dr. Evan yang tersadar dan panik.


" Non Mafa Marwah pingsan Tuan, setelah diantar Nyonya Vivian, " jelasnya hampir menangis.


"APA???, " sabut dr. Evan kaget.


" Cepat Bik!!!, bawa keduanya kerumah sakit saya sekarang Bik, CEPAT!!!, " perintah dr. Evan yang frustasi.


" Baik Tuan, saya segera kerumah sakit".


Tut.., komunikasi itu pun terputus.


Tangan dr. Evan segera menghubungi Pak Didi yang tengah berada dirumah.


" Iya Tuan, " jawabnya panik.


"Pak, tolong bawa anak-anak segera kerumah sakit, " perintah dr. Evan.


" Baik Tuan, " ucapnya cepat.


" Sial, " ucapnya yang kesal karena pintu lift masih lama turun kelantainya.


Tangan dr. Evan pun kini melihat kearah layar handphonenya, ia berusaha mencari nama Vivian. Dan ia menemukannya, segera ia menekan tanda penghubung telfon itu pada Vivian.


" Hallo, Evan???, " sambut suara wanita yang terdengar senang.


" Apa yang telah kau berikan pada anak-anak??, " ucapnya dingin.


" Hah???, kau menelfonku hanya untuk mengintrogasi makanan anak-anak??, " tanya Vivian kecewa.


" CEPAT KATAKAN???, apa yang kau berikan pada Safa Marwah??, " tanya dr. Evan dengan nada marah dan frustasi.


" Evan?? apa pantas kau memarahi aku seperti itu, aku ibu mereka??, jelas aku memberi makanan yang terbaik untuk anak-anakku??, " sahut Vivian yang tersinggung dengan bentakan Evan dari telfon itu.


" Aku tanya sekali lagi, apa yang kau beri pada Safa Marwah??, " ucapnya kali ini dengan menahan emosi.


" Aku mengajak mereka makan sushi di mall Xxxx dengan keluargaku, karena hari ini ulang tahun Safa dan Marwah, " ucapnya datar.


" Bagus!!, " sahut dr. Evan seraya mengertakkan rahang bawahnya.


" Apa kau lupa bahwa anak-anakmu alergi makanan laut???, apa kau tau mereka sekarang pingsan karena alerginya kambuh??, dan sekarang apa kau pantas disebut IBU mereka???, " tutur dr. Evan kesal dan mematikan handhpone itu tanpa menunggu jawaban dari Vivian.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Butuh waktu 40 menit dari rumah menuju rumah sakit. Di pintu depan IGD dr. Evan menunggu dengan cemas, ia mondar mandir menunggu Pak Didi dan Bibik membawa Safa dan Marwah. Beberapa perawat juga menunggu dengan setia disisi dalam IGD, kapan pun dibutuhkan mereka segera bergerak.


Dan mobil Alphard itu pun masuk ke perkarangan rumah sakit dan langsung menuju jalur IGD dengan sigap dr. Evan menyambut kedua putrinya yang tergolek lemah dengan wajah memarah dengan bercak-bercak ruam sekujur tubuh.


Para perawat yang sedari tadi stanby dengan sigap membawa kedua putri dr. Evan kedalam ruang pemeriksaan IGD. Terlihat dr. Silvi dokter Spesialis anak dan alergi sudah stanby menyambut kedua putri dr. Evan yang sedari dulu dirawat olehnya. Safa dan Marwah memiliki alergi akut akan makanan laut. Reaksi keduanya pun sama, mereka akan menderita ruam dan sesak yan menbuat mereka pingsan tak sadarkan diri.


dr. Evan terduduk dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan dr. Silvi yang bergantian menagani keduanya. Sejujurnya dr. Evan takut, takut hal buruk terjadi pada Safa dan Marwah. Dulu hal ini pernah terjadi jauh sebelum ia bercerai dengan mantan istrinya. Ketika Safa dan Marwah masih berumur 3 tahun setengah.


Setelah sekitar 40 menit dr. Silvi menangani Safa Marwah ia berjalan mendekat pada dr. Evan yang terduduk lemah. Ia melihat seorang Dokter yang kini berada diposisi keluarga pasien yang menunggu dengan cemas tanpa bisa berbuat apa-apa.


" Sepertinya mereka makan terlalu banyak, sehingga alergi mereka kambuh lagi, " jelas dr. Silvi seraya melihat kembali pasiennya Safa dan Marwah dari kejauhan.


" Apa kau lupa mereka alergi makanan laut??".


" Aku??, justru ibu mereka yang lupa akan penyakit bawaan anaknya!!, " ujarnya dingin. Dan seketika ia menghela nafas panjang.


" Terima kasih dr. silvi, " imbuhnya seraya bangun menuju kedua bad pasien putrinya.


" Jangan sungkan, " kata dr. Silvi.


dr. Evan meminta perawat untuk memindahkan perawatan kedua putrinya kekamar perawatan ibu anak.


Sesaat wajah sedih dr. Evan terlihat disana ketika melihat kearah bad kedua putrinya yang kini tertidur tenang.


dr. Evan menuju luar IGD dan melihat Bibik dan Pak Didi yang sudah setia padanya selama bertahun-tahun terduduk didengan wajah cemas.


" Pak, Bik?? makasih banyak ya, " ucap dr. Evan tulus.


" Gimana kedua Non tuan??, " tanya Pak Didi.


" Non Safa Marwah baik-baik aja kan tuan???, " ujar Bibik yang benar-benar khawatir.


" Iyya? mereka baik-baik aja Pak, Bik, saya ucapin terima kasih banyak sama Pak Didi dan Nibik yang benar-benar mencemaskan Safa Marwah, " ucapnya tulus kepada keduanya.


" Sebaiknya, Bibik sama Pak Didi pulang dulu, disini Safa Marwah dirawat sama perawat. besok siang datang aja dan bawa beberapa pakaian tidur anak".


" Baik Tuan, kami permisi, kabari bila ada apa-apa yaa tuan, " kata Pak Didi.


" Iyya, " sahutnya dengan mengangguk.