One Step Closer

One Step Closer
10



Sepuluh hari berlalu, Wulan benar-benar tak kembali untuk melihat hasil labnya. Ia benar-benar menyibukkan diri untuk melupakan sakitnya, ia berfikir lebih baik tak begitu tau hasil labnya, karena ia merasa jauh lebih baik menerima kondisi kekurangannya.


Namun pagi ini Wulan bangun dengan berat, perutnya terasa sakit sekali, keram dan nyeri. Ia bangun untuk mencoba turun kebawah, membuka pintu toko karena suara bel pintu sudah memanggil dua kali.


Ketika Wulan membuka pintu toko terlihat Mbak Nita dan Desi anak baru tengah berbicara ringan. Namun wajah Mbak Nita terkejut melihat Wulan yang pucat pasih dengan keringat bercucuran.


" Kamu kenapa??, " ujar Mbak Nita cemas seraya meraih sisi lengan Wulan, namun tiba-tiba Wulan roboh jatuh pingsan.


Sontak membuat Desi yang hanya berdiri didepan Mbak Nita turun meraih tubuh Wulan yang jatuh pingsan dengan wajah panik.


" Des !!! , cepat ambil kunci mobil didekat meja kasir, " ujar Mbak Nita panik dengan mencoba menyanggah tubuh Wulan yang terkulai lemah tak berdaya.


" Iyya Mbak, " ucap Desi cepat seraya berlari masuk kedalam toko dan membuka laci meja kasir dan menemukan gantungan kunci mobil Freed itu, dan segera berlari kembali kearah Mbak Nita.


" Cepat buka pintu mobil, kita bawa Wulan segera kerumah sakit, " perintah Mbak Nita panik.


Dengan segera Desi membuka kunci mobil, dan sedetik kemudian ia kembali untuk membantu mbak Nita memopong wulan kedalam mobil.


Mereka membawa tubuh Wulan ke dalam mobil, setelah dilihat pas, Mbak Nita berlari cepat ke sisi pintu mengemudi dan menghidupkan mobil Freed itu dengan segera.


" Des, kunci aja dulu toko, kamu ikut Mbak kerumah sakit, " ujarnya cepat.


Desi kembali berlari kedepan pintu toko dan menguncinya dengan cepat. Ia kembali lagi ke arah mobil dan naik mobil itu dengan segera.


" Kita jalan, " ujar Mbak Nita dengan wajah panik.


Mobil Freed itu pun melaju cepat kekota menuju rumah sakit terdekat Petramedika.


Hingga mobil itu pun sampai pada perkarangan rumah sakit Pertamedika dan langsung menuju jalur IGD, dan dengan panik Mbak Nita turun dengan berlari memanggil beberapa perawat untuk menurunkan Wulan.


Dan tepat pada saat itu mobil Alphard dr. Evan sampai, dan mata dr. Evan teralihkan kearah mobil Freed dengan logo Dr. Dessert yang tengah terparkir di jalur IGD.


" Stop Pak !!!, " perintah dr. Evan tegas.


Dengan rem mendadak Pak Didi pun menghentikan laju mobil Alphard itu dengan segera. dr. Evan buru-buru turun dari mobil lalu ia setengah berlari menuju IGD.


dr. Evan masuk dengan terengah-engah, ia melihat sekitaran dan memanggil perawat.


" Tadi ada pasien baru masuk??, dimana??, " ucapnya seraya mengatur nafas.


" Ada dokter, disana!!, seorang perempuan, " jelas seorang Perawat.


dr. Evan dengan segera berlari kecil menuju tempat tidur pasien paling ujung yang tengah dikerumunin dua Perawat disana. Dan matanya syok melihat Wulan pucat pasih.


" Apa yang terjadi??, " tanya dr. Evan.


" Pasien pingsan dan tensi 80/70, " jawab Perawat 1.


" Stetoskop, " ujar dr. Evan meminta.


" Ini dokter !!, " ujar Perawat kedua seraya menyerahkan ditangan dr. Evan.


Dengan seksama dr. Evan mulai memeriksa Wulan, lalu ia melihat mata Wulan dengan lampu senter kecil, lalu ia melihat kearah jam tangan.


" Pasangkan infus segera!!!, dan masukkan obat Xxxx kedalamnya, " perintah dr. Evan panik.


" Baik dokter, " jawan kedua Perawat bersamaan dan bersegera menuju lemari infus.


Mata dr. Evan melihat kesisi Wulan terlihat seorang wanita dengan wajah syoknya.


" Apa yang terjadi??, " dr. Evan bertanya pada Mbak Nita.


" Ah, tadi pagi saya datang, wajahnya sudah pucat dan berkeringar dingin dokter, " jelas Mbak Nita mengingat kejadian beberapa menit kebelakang.


" Pindahkan pasien keruang perawatan ibu anak, Saya akan memeriksa lebih lanjut disana, " perintahnya kepada Perawat yang telah selesai memasang infus.


" Baik dokter, " jawab Perawat paham.


Mbak Nita hanya mendengarkan intruksi dr. Evan kepada perawatnya, namun ia beralih mendekat ke sisi Wulan dan memegang tangannya. Ia masih syok melihat Wulan yang jatuh pingsan didepannya tadi.


πŸƒπŸƒπŸƒ


dr. Evan berjalan cepat menuju ruangannya, ia mengambil kartu pasien Wulan dan hasil lab, lalu ia bergegas kembali keruang rawatan ibu anak dan masuk kekamar Sakura, terlihat Wulan tidak sepucat tadi.


" Suster tolong persiapan USGnya, " perintah dr. Evan pada Perawat seraya menjauh dan membalikan badan.


" Baik Dokter, " ucap Perawat itu yang dengan segera melangkah kearah sisi Wulan dan membantu membuka baju Wulan setengah dan menutupnya dengan selimut rumah sakit sehingga hanya menyisakan perut Wulan saja, sedetik kemudian ia meraih gel yang ia oleskan ke atas perut wulan.


" Sudah Dokter, " ucapnya pelan.


dr. Evan pun melangkah berbalik menuju kursi depan monitor USG dan ia meletakkan alat USG itu diatas perut Wulan yang rata.


Dengan teliti mata dr. Evan mengamati monitor yang memperlihatkan visual dalam organ rahim Wulan.


Dan dr. Evan pun menghela nafas panjang.


" Sudahku duga, " gumamnya seraya meletakkan kembali alat USG tersebut dan ia bangun dari kursi itu.


Mbak Nita menghampiri dr. Evan dengan ragu.


" Dokter, adik saya kenapa??, " tanya Mbak Nita.


" Pasien sedang haid, tapi karena gangguan hormon dan kista rahimnya, juga karena reaksi obat yang ia minum sehingga haid yang berbulan-bulan tak keluar bereaksi seperti ini," jelas dr. Evan.


" Apa itu berbahaya??, " tanya Mbak Nita lagi.


" Tidak, hanya reaksi tubuh Wulan tidak kuat menerimanya ditambah lagi ia Anemia, " terang dr. Evan.


Mbak Nita mengangguk mencoba paham. Dan hatinya pun lega, karena tidak ada yang serius dari Wulan.


" Baik saya tinggal dulu, mungkin sebentar lagi pasien sadar, " ujar dr. Evan dengan mengambil kartu pasien Wulan dan berjalan meninggalkan kamar rawat Wulan.


"Baik dokter, terima kasih, " ucap Mbak Nita sopan.


Sepeninggalan dr. Evan, Mbak Nita mengirim kabar Wulan sakit kepada Rendi. Ia mengabarkan Wulan jatuh pingsan tadi pagi dan kini tengah dirawat di rumah sakit Pertamedika.


πŸƒπŸƒπŸƒ


dr. Evan berjalan dilorong kamar pasien dengan lemah, kejadian tadi membuatnya syok. Entah apa yang membuat dirinya jadi sepanik itu ketika melihat wajah Wulan yang pucat pasih.


Dengan ditemani Suster ia masuk ke kamar-kamar pasien lain untuk melakukan Visit Dokter, mengecek keadaan pasien pasca operasi dan lain-lain.


Setelah visit ke 20 pasien, dr. Evan kembali ke ruangan dengan badan lelah, ia melepaskan dasi dan membuka kancing lengan bajunya sehingga melipatnya hingga ke siku. dr. Evan duduk dengan melemahkan tubuhnya dalam kursi kerjanya, ia melirik jam tangan yang sudah pukul 1 siang. Ia baru teringat melewatkan finger print (absen) dan ia pun melewatkan sarapan pagi yang sekarang sudah jam makan siang.


" Suster !!, " panggilnya dengan alat panggil.


Dan sedetik kemudian Suster masuk dengan terburu-buru


" Ya dokter".


" Saya keluar sebentar, tolong minta Perawat diruang perawatan untuk memantau pasien dikamar Sakura, kabari jika ia telah siuman, " ujar dr. Evan seraya bangun dan mengambil jaket coatnya.


" Baik Dokter, " jawab Suster paham.


Lalu dr. Evan pun berjalan keluar dari ruangannya menuju lift.