One Step Closer

One Step Closer
31



Tiga hari terlewatkan sejak pertemuan terakhir Vivian dan Yuda itu. Pagi ini Vivian semangat memandikan anak-anak, ia ingin mengajak keduanya jalan-jalannya. Ditambah lagi sekarang sudah ada babysitter baru yang membantunya menghandel si kembar.


" Duh, cantiknya dua anak Mommy, hari ini kita jalan-jalan sama om Yuda, tapi janji jangan nakal ya sayang??, " ujarnya seraya mengecup kening keduangnya bergantiian.


" Saya siap-siap dulu, kak Ani jaga anak-anak disini yaa".


" Baik Nyonya!!, " jawab kak Ani sigap dengan segera beralih ikut duduk bermain dengan kedua putri kembar majikannya.


Vivian keluar dari kamar anak-anaknya dan mencari Bibik didapur seraya ia mengambil satu roti panggang yang telah disediakan untuk sarapannya.


" Bik, siapin keperluan susu anak-anak, saya mau bawa jalan-jalan, dan tolong bilang Pak Didi untuk siap-siap!!".


" Baik Nyonya, " jawab Bibik patuh.


Vivian berjalan balik menuju kamarnya dan bersegera bersiap untuk pergi. Vivian berdandan sederhana, ia tak ingin terlihat mencolok.


Sekitar 30 menit ia bersiap dan semua keperluan sudah dibereskan bibik dan dimasukkan kedalam mobil.


" Pergi dulu yaa Bibik, ayo dadaaah Bibik Safa Marwah??, " ucapnya seraya menarik tangan Safa untuk mengikuti gerakan dadahnya.


Mobil itu pun keluar dari perkarangan rumah mewah dan melaju dengan santai menuju mall MOI.


Butuh waktu 45 menit jarak tempuh dari rumah ke MOI, tapi jalan tidak terlalu macet. Vivian memberi kabar pada Yuda bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju MOI. Dan ternyata Yuda telah lebih awal sampai disana.


Sesampai di MOI Vivian membawa anak-anaknya ke Playground. Ia ingin Safa dan Marwah bermain terlebih dahulu setelah itu baru bisa duduk santai dengan Yuda. Hampir dua jam Safa Marwah main tanpa lelah, wajah bahagia mereka terpancar senang, sesekali mereka melihat posisi duduk Mommy mereka yang tak memperhatikan keduanga bermain, tapi tengah asyik menatap layar handphonenya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sepeninggalan Vivian, Bibik dirumah dikejutkan dengan kepulangan tuannya Evan yang membuat ia sangat terkaget.


" Ah, Tuan akhirnya pulang?, " ucapnya kaget.


" Apa kabar Bik??, sekaget itu melihat saya pulang??," ucapnya sumringah seraya membuka tali sepatu dan meletakkan jaket tebalnya.


" Ah, iyya Tuan karena Nyonya bilang 2 minggu lagi tuan baru pulang??, " jelas Bibik.


Evan hanya tersenyum dan ia melihat seisi rumah dengan bingung.


" Kok sepi Bik??, pada kemana??," tanya Evan seraya bangun dari kursi dan masuk keruang tengah yang sunyi.


" Hhmmn itu Tuan, Nyonya keluar membawa Non Safa Marwah jalan-jalan," ucapnya sedikit ragu.


" Ooh, ya udah Bik, saya mau mandi dulu, tolong masakin lado yang enak yaa Bik, " ucapnya berjalan kekamar utama rumah itu.


Bibik hanya menatap sedih kearah Tuannya yang berlalu masuk kekamar utama.


Evan bersegera melepaskan pakaian dan bersegera masuk kekamar mandi. Ia benar-benar lelah dengan perjalanan Jepang- Singapura, Singapur - Jakarta.


Butuh 20 menit Evan menyegarkan diri. Ia pun bergegas kelemari pakaiannya yang ia ingat memiliki beberapa potong baju kaos dan celana jeans disana.


Namun, seketika Evan terdiam, wajahnya bingung melihat terdapat 6 kemeja lengan panjang dengan warna-warna terang tergantung disana, dan ada beberapa celana kain yang tersusun dibawahnya.


Evan berkeras mengingat bahwa ia benar-benar tidak ada kemeja seperti ini. Ia juga tau bahwa baju-baju dengan warna terang bukan lah stylenya dan ketika ia melihat sizenya juga jelas bukan ukurannya.


Dengan wajah bingung Evan bersegera berpakaian dan keluar dengan membawa baju kemeja itu kehadapan Bibik yang berada di dapur.


" BIBIK???, " panggilnya dengan suara keras.


Bibik datang menghadap didepan Evan yang terlihat pucat ketika melihat tuannya membawa pakaian selingkuhan Nyonyanya.


" Jelasin ke saya, ini milik siapa??, " tanya Evan seraya melihat kearah Bibik.


Wajah Evan memerah, tanggannya mengepal kuat kebaju kemeja itu.


" Maaf, maaf Tuan, saya dan Pak Didi tak bisa berbicara, kami ingin memberitahu Nyonya besar dan Non Eva, tapi selalu diancam oleh Nyonya Vivian".


" Katakan sekarang, Vivian pergi kemana??," ucapnya dengan marah.


" Bibik tidak tau tuan, mungkin tuan bisa telfon Pak Didi, karena Nyonya pergi dengan Pak Didi, " ujarnya takut.


" Telfon, Pak Didi..., cepat Bik!!, " bentaknya marah.


Sehingga Bibik terkaget dan berlari kecil menuju meja kecil disudut dapur lalu meraih handphonenya dengan segera menelfon Pak Didi.


Evan menunggu dengan frustasi, sakit hatinya memunca dengan sangat. Ia tak membayangkan Vivian begitu berani membawa pria lain kedalam rumahnya. Dan bahkan tidur dikamar utama. Ia benar-benar syok.


Bibik kembali menghampiri Evan yang tengah duduk dengan sorot mata marah.


" Tuan, kata Pak Didi, Nyonya sedang di mall MOI"


" Bagus!!!, Bibik ikut saya, cepat ambil kunci mobil Vivian sekarang, " ucapnya kasar.


Bibik berlari cepat, ia menuju lorong garasi dan mengambil kunci mobil dikotak kunci mobil sedan Altis Nyonya Vivian dan ia menyerahkan pada Evan. Dan Evan meraihnya dengan kasar segera ia berjalan cepat menghidupkan mobil sedan Altis milik Vivian.


Dan dengan menahan emosi Evan membawa mobil sedan itu dengan cepat. Bibik hanya bisa berdoa didalam hati menahan takut melihat tuannya membawa mobil dengan emosi dan kecepatan tinggi membelah jalan raya ibu kota menuju mall Moi.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sesampai di mall Moi itu, Evan dan Bibik turun dengan segera dan mencari posisi Pak Didi untuk bertemu. Dengan intruksi Evan, ia memerintahkan Pak Didi untuk mencari dilantai dasar sampai lantai dua mall itu, sedangkan ia dan Bibik mencari dilantai atas.


Hampir dua jam mereka mencari, berputar-putar mall moi yang luas itu. Namun wajah Bibik tiba-tiba berubah pucat, ia memanggil tuannya dengan cepat.


" Tu.., tuan,, Nyonya ada disana??, " ucapnya yang takut ketika melihat ekspresi Evan yang meradang melihat istrinya tengah duduk bercumbu mesra dengan pria lain dihadapan kedua anaknya yang sedang duduk makan dengan seorang babysitter.


Evan berjalan dengan cepat masuk kedalam restauran jepang itu langkahnya tegas menuju tempat duduk Vivian yang membelakangi pintu masuk restauran. Dan dengan marah Evan menarik kasar bahu pria yang tengah merangkul istrinya dengan leluasa.


BRUG..., Yuda terseret jatuh keluar dari tempat duduknya dan Vivian terpekik kaget ketika melihat hal itu. Dan seketika wajah Vivian pucat pasih melihat pada orang yang telah melempar Yuda hingga tersungkur dilantai.


" Ee,,Evan??, " ucapnya takut.


Dengan tidak memberi ampun Evan melampiaskan kemarahannya pada Yuda, ia menghajar Yuda sekeras-kerasnya hingga Yuda kewalahan.


Terdengar jeritan Vivian meminta tolong, disambut tangisan kedua si kembar yang melengking membuat keributan didalam restauran Jepang itu yang awalnya hening menjadi memanas karena para pengunjung dan beberapa pelayan kewalaha mererai Evan yang dengan buas memukul Yuda tanpa jeda.


Hingga tangisan babysitter memanggil Vivian dengan panik.


" Nyonyaaaaa!!, tolong Nyonyaa, Safa dan Marwah gak sadar Nyonyaaaa!!!, " ujarnya panik menangani kedua sikembar yang terjatuh tiba-tiba setelah menjerit histeris melihat pertengkaran Yuda dan Evan didepan mata mereka.


" Ya tuhan??, Evan??, EVAN Safa Marwah??," ucapnya frustasi memeluk kedua putrinya sudah memerah dengan ruam-ruam sekujur tubuh dan tergolek pingsan tak berdaya.


Seketika Evan terhenti, menghujam pukulannya pada Yuda. Dengan marah ia mendorong Vivian hingga terjatuh.


" Singkirkan tangan kotormu pada mereka, BIBIK??, cepat angkat Marwah, " ucapnya yang bersegera mengendong Safa yang terlihat paling parah ruam ditubuhnya.


Vivian bangun dari tempat ia tersungkur karena dorongan Evan yang kuat, dan melihat dengan tangis dimatanya.


" KAU *******!!, dan tunggu surat cerai itu datang!!," ujar Evan yang berlalu dari restauran itu meninggalkan pendosa Vivian dan Yuda yang tergolek kesakitan akibat hujan pukulan Evan yang tak bisa ia elak.


Evan dan Bibik berlari kecil menujun eskalatro untuk segera turun membawa Safa Marwah yang tak sadarkan diri.


Flash back story dr. Evan off (end)