One Step Closer

One Step Closer
46



Malam itu wulan tak bisa tidur dikamar hotelnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang gelisah.


Kata-kata dr. Evan mengema dipikirannya.


"kamu!!"ucap dr. Evan yang terbayang dalam pikiran wulan.


Wulan pun menghela nafas panjangnya, sembari menarik selimut menutupi wajahnya.


"maaf dokter" ucapnya sendiri seraya memejamkan matanya untuk bisa tidur.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Esok paginya wulan bangun terlalu cepat, ia tak benar-benar tidur semalam. Wulan mengenakan pakaian kasual kemeja kerah vitoria dengan celana jeans warna gelap. Ia melihat jam di handphonenya baru jam 7 pagi. Dan ia terduduk karena sadar ini terlalu pagi, mungkin saja dr. Evan belum bangun pikirnya, yang terpaku melihat luar jendela hotel.


Namun tiba-tiba terdengar suara bel pintu kamarnya berbunyi.


Ting tong..


Wulan mengerutkan dahinya, berpikir siapa yang memencet bel pintu kamarnya sepagi ini.


Berlahan wulan membuka pintu kamarnya dan terlihat dr. Evan berdiri disana. Wulan terpaku melihat dr. Evan dengan pakaian yang lebih casual, berbeda dari biasa yang ia lihat dengan stelan kemeja berdasi dan jas rapi.


dr. Evan/"ternyata kau juga sudah siap"ujarnya yang melihat wulan.


" ayo kita sarapan dulu"


Wulan/"ah, ia dokter, sebentar!!" ujarnya seraya kembali masuk kedalam kamar dan mengambil tas juga handphonenya. Dan ia pun memakain sepatu onitsuka warna crem biru.


Dan keduanya berjalan menuju ruang restoran hotel untuk sarapan. Wulan mengambil beberapa kue dan meminta air putih hangat kepada pelayan hotel. Terlihat dr. Evan mengambil sereal yang telah diisi dengan susu dan ia meminta kopi hangat.


Wulan/"hhmmm, dokter??"panggilnya pelan.


dr. Evan/"ya"


wulan/"maaf ya, jika nanti situasi dirumah tidak begitu baik, ayah bukan orang yang ramah dan mungkin tante dwi juga akan sedikit ketus"


dr. Evan/"tante dwi??"


Wulan/"ah, itu ibu tiri wulan, tapi karena hubungan kami tak begitu baik, sapaan itu mungkin jauh lebih bisa diterima"


Wulan/"maaf dokter" ucapnya cemas akan reaksi dr. Evan


dr. Evan/"maaf??? untuk??


Wulan/"mungkin akan banyak ketidak nyamanan untuk dokter"


dr. Evan hanya membalas dengan senyum akan kecemasan wulan.


dr. Evan/"jangan khawatir hal yang mungkin tidak seperti yang kau bayangkan, sekarang makan laah"


Wulan hanya bisa mengangguk saja, yaa bagaimana pun ia sudah katakan terlebih dahulu gambaran seperti apa yang akan terjadi di rumah wulan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Waktu menunjukkan pukul 9 lewat pagi. dr. Evan tengah menelfon seseorang dengan serius. Dan tak berselang lama sebuah mobil sedan honda civic hitam memarkir didepan gedung hotel. Dan dengan seketika dr. Evan mengajak wulan untuk keluar dari gedung dan turun menuju mobil tersebut.


Dan dari sebelah pengemudi keluar seorang pria botak yang berlari kecil kehadapan dr. Evan.


Pria botak/"ini tuan, kuncinya" ucapnya seraya menyerahkan kunci mobil tadi ketangan dr. Evan.


dr. Evan/"makasih kang dodik, kabari ibu kalo gak bisa sore ini mungkin besok saya pulang"


kang dodik/"baik tuan, hati-hati dijalan tuan"ucapnya yang segera pergi menuju luar gerbang hotel dan baik angkot.


Wulan yang sedari tadi melihat hanya memperhatikan saja dengan diam.


dr. Evan/"ayo kita jalan"


wulan/"ya"ujarnya yang turun dari teras hotel menuju pedal pintu mobil yang ternyata telah duluan diraih dr. Evan yang mempersilahkan wulan untuk masuk.


Selang beberapa detik kini dr. Evan pun telah duduk disamping joknya. Dengan menyalakna mesin mobil dan memasukkan gigi mobil, berlahan mobil itu pun bergerak keluar pagar hotel.


dr. Evan/"alamat rumah mu dimana??"


Wulan/"ah itu di kompleks perumahan permata Xxxx, daerah Xxxxx"


dr. Evan hanya menganggu dan seingatnya daerah itu tak jaraknya tak jauh. Mobil sedan civic hitam itu pun meluncur dengan mulus ke alamat rumah wulan.