
Tiga minggu berlalu, kondisi Wulan sudah jauh membaik. Moodnya telah kembali seperti tidak terjadi hal yang besar sebelumnya. Para pelanggang pun kembali berdatangan dan orderan cake premium pun masuk tanpa henti.
Mungkin ada hikmahnya dari semua yang telah Wulan hadapi. Uang 1 miliyar yang Ibu Rendi berikan, juga telah ia transfer kembali kerekening Ibu Rendi. Suasana hatinya jauh lebih baik, ia tengah menata kembali hatinya untuk lebih kuat menjalani hari-hari dan terus mencoba pengobatan alternatif untuk sakitnya.
Dan seperti permintaanya kepada dr. Evan untuk tak lagi datang ketokonya pun dipenuhi oleh dokter itu, tapi kedua putrinya tak pernah absen untuk datang menemui Wulan seminggu 3 kali. Dan Wulan selalu senang menyambut keduanya.
Namun guncangan itu, belum benar-benar reda menimpa diri Wulan. Siang itu datang seorang wanita muda dengan wajah bahagia.
" Mbak, apa bisa saya ketemu sama mbak Wulan??, " ucap wanita muda itu sopan.
" Yaa..., saya sendiri mbak, ada perlu apa yaa??, " ucapnya meninggalkan meja kasir menuju wanita muda itu.
" Waah, bersyukur bisa bertemu dengan mbak Wulan, bisa minta waktunya sebentar mbak??, atau mbak lagi sibuk yaa??, " ucapnya ragu.
" Ah gak, saya gak sibuk, mari ikut saya duduk di cafe mini Dr. Dessert, " tawar Wulan seraya mengarahkan wanita muda itu, untuk mengikutinya.
" Baik, " ucapnya antusias mengikuti Wulan yang berjalan memasuki mini cafe dr. Dessert yang baru dibuka selama beberapa bulan ini atas permintaan pelanggan.
" Silahkan duduk mbak, apa yang bisa saya bantu??, " tanya Wulan.
" Panggil saja saya, Luna, " ucapnya senang.
" Ah, mbak Luna, ada yang bisa saya bantu??"
" Hhmm begini, 3 minggu lagi saya akan menikah, dan acara nikah dan pesta bersamaan jadi saya ingin memesan wedding cake dan 2 meja dessert cake untuk para tamu, " ucapnya seraya menyerahkan undangan warna peach itu kehadapan Wulan yang mendengar dengan seksama.
Wulan menerima undangan itu lalu melihat sekilas dan membuka undangan itu yang terlihat cantik baik desain juga warna yang dipadukan dengan tinta emas. Wulan membaca dengan teliti, dan seketika matanya terpanah dengan nama Raden Rendi Pangalila ST, MT dangan Dr. Luna Alista.
Tubuh Wulan terguncang, sorot matanya kembali melihat wajah Luna yang terpancar bahagia. Seakan suara bicara Luna tak terdengar lagi ditelinganya, hatinya seketika nyeri sakit dan tiba-tiba reflek meraba sisi dadanya yang sakit.
" Mbak??, Mbak Wulan kenapa??, " tanya Luna yang menyadari perubahan wajah Wulan yang sedikit pucat.
" ah..., hhmm gak papa, " ucapnya sedikit bergetar berusaha untuk tetap tenang.
" Bener gak papa mbak??, " tanya Lina lagi yang ragu melihat wajah Wulan.
Wulan mengangguk pelan.
" Jadi gimana mbak??, apa bisa saya order wedding cake dan 2 meja dessert cake sekitar 300 cup cake flower??, " ucapnya sungguh.
" Hhmm..., mungkin saya hanya sanggup membuat wedding cake, karena tenanga saya terbatas, " ucapnya pelan.
" Atau mbak bisa saya beri rekomendasi teman saya, untuk meja dessertnya??, teman saya tidak akan mengecewakan, " ucap Wulan menyakinkan.
" Hhmm, baiklaah saya ikut mbak Wulan saja yang lebih paham, dan soal harga berapa pun akan saya bayar hanya tolong buat wedding cake yang indah untuk pernikahan saya nanti, " pinta Luna pada Wulan.
Wulan mengangguk pelan, ia terus berusaha untuk bisa bertahan duduk didepan Luna. Wanita yang akan menjadi pendamping Mas Rendi. Setelah Deal model apa yang Luna inginkan, lalu ia pun keluar dari toko Dr. Dessert dengan wajah puas dan senang.
Hanya Wulan yang masih terpaku duduk di meja yang ditinggalkan Luna tadi. Ia masih mencoba untuk menenangkan hatinya yang bergejolak, ia melihat lagi undangan yang ditinggalkan Luna untuknya.
"Ya Tuhan..., apa semua ini balasan untukku??, " lirihnya dalam hati, seraya menatap dua nama diundangan itu dengan mata sedih.
Namun Mbak Nita datang mendekat ke sisi kursi Wulan.
" Undangan siapa??, " ucapnya mencoba meraih undangan dari tangan Wulan, dan seketika matanya terbelalak melihat nama Rendi disana.
" Ini..., ini undangan Rendi??, dia akan menikah??, " ujar Mbak Nita terkejut.
Wulan hanya mengangguk lemah.
" Lalu wanita itu siapa??, " tanya Mbak Nita kembali.
" Wanita yang akan menikah dengan mas Rendi dan ia memesan wedding cake untuk pernikahannya, " jawab Wulan lesu.
" Hah??, kamu serius wulan??, ini..., ini gila??, " ujarnya tak percaya.
" Dan kamu nyanggupinya???, " ujarnya lagi mencoba menebak pada wulan.
Wulan mengangguk seraya melihat Mbak Nita yang terlihat syok.
" Apa salahnya??, bukankah itu rejeki??, " tutur Wulan mengelak.
" Kamu bilang rejeki??, rejeki yang menyakiti kamu??, " sahut Mbak Nita lagi dengan wajah tak percaya pada wajah putus asa Wulan.
" Sudahlaah Mbak, mungkin sudah begini nasib Wulan. Ini juga yang mungkin Tuhan balas atas perbuatan Wulan yang menyakiti hati Mas Rendi, " ujarnya pasrah lalu bangun meninggalkan Mbak Nita yang masih tak percaya.
Walau Wulan tak pernah mengeluarkan seluruh perasaan yang ia rasa, tapi Mbak Nita tau Wulan tengah berusaha menguatkan dirinya sendiri. Mbak Nita merasa kasihan dengan Wulan, ini pasti masa-masa terberat untuk Wulan. Ia berdoa dengan tulus semoga Wulan bisa bertemu dengan orang yang akan membuatnya sempurna suatu saat nanti.
πππ
Hari berlalu begitu saja, pikiran Wulan terus tertuju pada tanggal pernikahan Mas Rendi dan Mbak Luna. Bahkan kini berat badannya turun dengan tanpa ia sadari.
Sore itu Safa dan Marwah datang dengan lesu ketoko Dr. Dessert. Wulan melihat keduanya tak tersenyum sedari tadi mereka masuk. Wulan menghampiri Safa dan Marwah dengan seraya memeluk keduanya bergantian.
" Kalian kenapa??"
" Papa sakit, " ujar Safa lesu.
" Tapi masih harus kerumah sakit, " kata Marwah yang sama lesu dengan Safa.
Seketika Wulan terkaget dengan pemberitahuan Safa dan Marwah. "Ah.., sudah lama ia tak melihat dr. Evan, dan dr. Evan benar-benar tak pernah muncul lagi ditoko, " pikirnya dalam hati. Dan dengan segera ia mengajak Safa dan Marwah untuk duduk di cafe mini miliknya.
" Papa kalian pasti sembuh, kan papa seorang dokter, jadi Safa dan Marwah cukup doa semoga papa sehat kembali, " ucapnya lembut.
" Kasian papa, " kata Marwah.
" Iyya kasian papa, " timpal Safa.
" Hhmm, gimana kalau tante buat sesuatu biar kalian gak sedih yaa, mau??, " hibur Wulan.
" Tapi, tante buat juga untuk papa yaa??, " kata Marwah.
" Hah??, hhmm.., gimana yaa??, " ujar Wulan ragu.
" Iya yaa tante, buat untuk papa jugan, " pinta Safa.
" Hhmm, baiklaah, tapi tunggu dulu yaa, mungkin agak lama sedikit, " ucapnya dengan sedikit mengedipkan mata ke arah keduanya.
πππ
Sejam kemudian, Wulan kembali kearah Safa dan Marwah yang tengah asyik duduk bercanda gurau. Ia datang dengan sudah membawa kotak sedang yang sudah terbungkus plastik.
" Ini, puding mangga, " ujarnya seraya membuka kembali kotak tersebut dihadapan Safa Marwah.
Dan terlihat wajah kagum dan antusias dari keduanya.
" Hhmm, tapi janji satu hal sama tante, " ucapnya seraya menutup kembali kotak puding tersebut.
" Janji apa??, " tanya Marwah binggung.
" Jangan bilang kalau puding ini dari tante Wulan yaa, tapi ini kalian beli bersama untuk papa kalian, oke??, " ujarnya meyakinkan keduanya.
" Kenapa??, " tanya Safa bingung.
" Hhmm, ya gak kenapa-napa, gimana??, bisa janji??, " ujar Wulan seraya mengulurkan jari kelingkingnya kearah sikembar.
Safa dan Marwah sedikit bingung, tapi keduanya mantap berjanji kelingking dengan Wulan. Dan ketiganya tertawa bersama.
Safa dan Marwah pum akhirnya keluar toko Dr. Dessert dengan senang. Langkah mereka cepat masuk kedalam mobil Alphard.
" Pak Didi, kita jemput papa yaa??, " kata Marwah.
" Baik Non, " jawab Pak Didi paham.
Keduanya terlihat bahagia menerima puding mangga dari Wulan.