
Pagi harinya, mas Evan yang telah mandi dan kini terduduk di ranjangnya seraya tersenyum mengingat cumbuannya semalam bersama Wulan. Ia pun tak sengaja untuk membereskan selimut yang semalam mereka gunakan untuk menutup tubuh mereka, melihat ada noda darah disana dan seketika ia merasa bangga karena telah memiliki Wulan utuh.
" Dokter Evan!!!, " panggilnya lembut seraya berjalan menuju hadapan mas Evan yang menoleh padanya dengan senyum yang hangat.
" Mas harus bersiap-siap untuk kekantor".
Mas Evan menatap dalam wajah berseri Wulan yang terlihat cantik. Berlahan ia menarik tubuh wulan untuk duduk dipangkuannya.
" Sepertinya Mas malas untuk kerumah sakit hari ini, " ucapnya seraya menyibak rambut Wulan menutup wajahnya yang cantik.
" Kamu benar-benar cantik, " pujinya.
Wulan meraih wajah mas Evan dan ia mencium sekilas bibir suaminya itu.
" Mas harus tetap kerumah sakit, " senyumnya yang kemudian melarikan diri untuk keluar dari kamar.
Mas Evan hanya tertawa senang melihat Wulan yang meninggalkannya begitu saja.
πππ
Diruang makan Wulan meletakkan pising berisi omelet dan segelas jus mangga untuk mas Evan. Dan beberapa saat sosok yang ditunggu pun keluar dengan tampannya.
" Mas, sarapan dulu, " panggilnya. Dan langkah kaki mas Evan pun menuju meja makan yang terlihat sarapan sederhana disana.
Mas Evan duduk sembari melihat aktifitas Wulan yang mondar mandir didapur bersih itu. Ia meraih jus mangga itu dan meminumnya berlahan.
Namun berlahan Wulan mendekat dengan meletakkan gelas berisi air putih hangat dihadapan meja mas Evan. Dan tangan mas Evan meraih tangan Wulan untuk membuat wanita itu terhenti.
" Boleh Mas bertanya??".
" Ya, " jawab Wulan seraya tersenyum.
" Mengapa kami menunda untuk tidur bersama Mas??".
Sesaat wulan terdiam, ia terkejut mendengarkan pertanyaan mas Evan. Dengan ragu ia menjawab pelan.
" Sejujurnya, ketika Wulan masih berusia 12 tahun, tanpa sengaja Wulan melihat ayah dan ibu tiri Wulan berhubungan badan. Dan itu cukup membuat wulan risih dan takut, dan entah kenapa Wulan menjadi trauma suara desahan dan wajah itu..." ucapnya yang tak sanggup membayangkan kembali ia pun reflek memeluk tubuhnya sendiri.
Namun mas Evan memeluk Wulan seketika.
" Maaf.. maafkan Mas yang sempat berpikir macam-macam untuk kamu" ucapnya menyesal.
" Maaf ya Mas, " ujar Wulan sedih.
Namun beberapa detik kemudian mas Evan menuntut Wulan untuk duduk dipangkuannya. Ia ingin menatap wajah istrinya. Dan berlahan ia menjatuhkan ciumanya pada bibir ranum Wulan dan hal itu disambut lembut oleh Wulan. Sesaat ***** berhasrat itu pun berubah menjadi dalam dengan kembali saliva mereka bercampur. Nafas yang menburu juga sentuhan mas Evan di punggung Wulan pun membangkitkan birahi mas Evan kembali. Namun Wulan menghentikan ciuman itu dengan tawa tertahan melihat bibir mas Evan yang telah belepotan lipstiknya.
" Ingat!!, Mas harus kerumah sakit, " ucapnya seraya menyisir rambut suami tampannya yang kini terlihat kesal.
πππ
Ditoko Wulan terduduk dengan wajah berseri. Mbak Nita menghampiri dengan segudang penasaran.
" Apa kam baik-baik saja??, " tanya Mbak Nita curiga.
" Kamu terlihat berseri sedari tadi, " tutur Mbak Nita lagi.
Wulan yang menyadarinya reflek menyentuh pipinya seolah memeriksa.
" Apa terlihat jelas??"
Mbak Nita hanya mengangguk pelan dengan senyum simpul.
" Kenapa??, " berbalik tanya pada Mbak Nita.
" Ah gak papa, " ucap Mbak Nita mencoba tak mejawab.
" Sepi tidak ada Safa Marwah".
" Yaa, mereka dibawa kak Eva berlibur ke Singapura, " jelas Wulan.
" Benarkah??, jadi kamu hanya berduaan dengan mas Evan??, " tebak Mbak Nita.
Wulan hanya tersenyum simpul menghindari untuk tak menjawab pertanyaa Mbak Nita.
πππ
Namun sore hal yang tak terduga membuat Wulan terkejut tak percaya.
" Mas Evan??," sapanya kaget ketika memasukkan cake-cake premium ke estalasenya
Mas Evan jalan berlahan membuat Mbak Nita, Wiwit dan Desi terkejut melihat suami Wulan datang.
" Mas??, tumben ke toko ada apa??, " tanya Wulan penasaran karena biasanya dijam ini mas Evan tengah sibuk dengan pasien konsul.
" Apa kamu punya waktu??, " tanya Mas Evan.
" Bagaimana kalau kita pergi berbulan madu??, " ucapnya pelan seraya menyentuh helayan rambut Wulan.
Wulan tersenyum mendengarkan ajakan mas Evan. Ia pun mengangguk setuju.
" Beri Wulan waktu untuk beres-beres toko," ucap Wulan yang senang.