One Step Closer

One Step Closer
50



Esok paginya, wulan bangun seperti biasa. Ia bersiap-siap didepan cermin seraya melihat jam di handphonenya. Hari ini dr. Evan mengajak wulan kerumahnya untuk bertemu dengan ibu dr. Evan yang kabarnya telah siap menyambut kedatangan wulan.


Jantung wulan masih berdebar dari semalam. Ia meraba dadanya sendiri untuk merasakan debaran jantungnya yang aneh.


Wulan/"jantung, kau kenapa??/ucapnya sendiri didepan cermin.


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.


Ting..tong..


Wulan segera berjalan kearah pintu kamarnya. Dan berlahan pintu itu terbuka, dan terlihat sosok dr. Evan yang sedang mengetik jemarinya dilayar handphone dengan serius.


Deg..


Jantung wulan berdebar lagi.


dr. Evan/"kau sudah siap??"sapanya melihat kearah wulan yang terpaku melihat dr. Evan.


Wulan/"ah, yaa!!" ucapnya yang tersadar dari terpakunya.


"tapi sebentar dokter, wulan ambil tas dulu??"


dr. Evan pun menganggu, dan wulan pun berlari kecil kedalam kamarnya seraya meraih tas merahnya. Beberapa menit kemudian wulan keluar dengan menyelempangkan tad tadi bahunya.


dr. Evan/"wulan??"


Wulan/"ya??"


dr. Evan/"sepertinya aku harus kembali kejakarta sore ini, apa kau masih ingin tinggal??"


Wulan/"gak dokter, wulan ikut pulang juga"ucapnya segera.


"kalau begitu beri wulan waktu sebentar yaa untuk bereskan koper wulan"


dr. Evan/"oke" ucapnya seraya tersenyum kearah wulan. Dan wulan pun kembali kekamarnya dengan segera dan membereskan alat kosmetik dan beberapa baju yang tak banyak kembali kedalam tas kopernya.


Selang beberapa menit wulan pun keluar dengan telah mengerek koper kecilnya.


Wulan/"sudah siap"


dr. Evan menganggu dan ia lagi-lagi meraih tangan wulan untuk jalan bersama. Tapi kali ini beda, wulan yang masih tak terbiasa dengan sikap dr. Evan kali ini debaran jantungnya pun ikut berreaksi dengan perlakuan dr. Evan.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Selama perjalanan wulan hanya mencuri-curi pandang melihat dr. Evan yang serius dalam menyetir.


Wulan terus bergulat dengan batinnya sendiri.


"kenapa baru berpikir sekarang wulan?? kemari-kemari kemana??"pekik batinya lagi.


dr. Evan/"ada apa??"tanya dr. Evan yang sadar sedari tadi wulan mencuri-curi melihat dirinya.


Wulan/"ah?? gak ada??" ucapnya seraya membuang pandangannya pada jendela sisinya.


Dan tak berselang lama, mobil sedan civic itu masuk ke sebuah kawasan perumahan elit bandung. Dengan melewati beberapa jalan akhinya mobil itu masuk kesebuah perkarangan rumah mewah berwarna putih.


Mobil terparkir tepat di samping taman yang terlihat seorang pembersih kebun tengah membersihkan rumput-rumput dihalaman rumah itu. Berlahan wulan turun dan terlihat dr. Evan menurutkan buah tangan yang telah wulan beli tadi sebelum sampai kerumah.


Tiba-tiba kang dodik datang menghampiri dr. Evan dan menbantunya membawakan buah tangan. Dan kang dodik berjalan cepat kedalam seraya bersuara memanggil nyonya rumah dengan terburu-buru.


kang dodik/"nyonya!!tuan muda sudah pulang??"panggilnya buru-buru kedalam rumah yang besar itu.


Dan tak berselang lama terlihat ibu dr. Evan datang menyambut dengan berlari kecil kedepan rumah. Ia bersegera mendekat kearah wulan yang terlihat kaget disambut ramah oleh tuan rumah. Wulan dengan canggung tersenyum.


Ibu dr. Evan/"akhirnya kalian datang, ibu sudah rindu sama kalian, ayuk wulan masuk dulu" ujarnya ramah menyambut wulan.


Wulan hanya menganggu mengikuti ibu dr. evan yang merangkulnya untuk masuk kedalam rumah. Wulan masuk kedalam rumah itu dengan hati sedikit was-was, ia sedikit canggung.


Ibu dr. Evan/"ibu senang kamu kemari, cuma ibu kok tiba-tiba udah kebandung tanpa kabar dulu?"


Wulan hanya membalas dengan senyum.


Mereka pun melewati ruang tamu yang cantik dengan sofa mewah yang tersusun rapi disana. Mereka trus masuk kedalam rumah dan terhenti dimeja makan yang telah terhidang makana yang masih hangat disana.


Ibu dr. Evan/"yuk, kita makan dulu, ibu udah masak dari tadi untuk kalian, coba makan ini yaa wulan" ujarnya yang memberikan piring yang telah terisi nasi kuning.


Wulan menyambutnya dengan berlahan.


Wulan/"ah, makasih bu"dan meraih kursi yang telah disodorkan oleh dr. Evan untuknya.


Ibu dr. Evan/"aduuuh ibu seneng banget hari ini"ujarnya yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dengan kedatangan wulan.


dr. Evan bagai terlewatkan dimata ibunya, tapi ia senang melihat senyum terus mengembang di wajah ibunya.


Ibu dr. Evan/"jadi sudah tentuin tanggal pernikahan??"ujarnya antusias kepada wulan dan dr. Evan.


Wulan seketika tak jadi memasukkan sedok untuk memakan nasi kuningnya. Tangannya terhenti dan beralih melihat dr. Evan yang berada disampingnya.


dr. Evan/"sudah bu" jawabnya cepat.


Ibu dr. Evan dengan wajah senang meraih mangkuk nasi kuning dan menambahkan lagi sendok nasi kedalam piring wulan yang terlihat bengong dengan antusias ibu dr. Evan.