
Didalam mobil alphard itu suara canda tawa bahagia dari safa dan marwah memwarnai disepanjang perjalan menuju laut. dr. Evan tak henti-hentinya melihat ke arah Wulan. Ia senang bisa mengajak Wulan untuk jalan-jalan bersama. Walau awalnya ia ragu Wulan akan ikut, tapi berkat bantuan mbak nita wulan akhirnya ikut.
Safa dan Marwah bagai tak mau mengalah dalam mencari perhatian Wulan. Pak Didi juga ikut merasa senang melihat moment ini. Ia tau kedua nona kecil manjikannya sangat ingin memiliki ibu seperti Wulan.
Laju mobil alphard itu pun terhenti di sebuah lokasi laut yang terlihat indah, dengan cuaca yang tak bergitu terik untuk waktu siang itu. Safa Marwah bersorak senang ketika turun dari mobil dan melihat laut dengan antusias.
Keduanya berlari dengan tak sabar menuju tepi laut yang terlihat indah dengan deburan ombak yang silih berganti pecah dibibir pantai.
Wulan melihat jauh, kearah laut, seakan luas itu bisa ia lihat.
"indah" bisik Wulan seraya melepas nafas panjangnya. Satu persatu Wulan menanggalkan sepatunya dan berjalan menginjakkan kaki dipasir itu hingga berhenti di depan deburan ombak yang telah becah menjadi buih.
Dari jarak yang tak jauh terlihat dr. Evan mengamadikan moment indah itu didalam ponselnya. Ia tersenyum melihat wajah yang ia potret dengan indah menyatu dengan view laut. Tak lupa dr. Evan mengamadikan moment kedua putrinya yang kini telah basah bajunya dengan riang bermain dipinggir pantai.
dr. Evan turun melipat celananya hingga sebetis, dan kini ia berjalan menuju sisi wulan yang terlihat sendu.
"Apa kau suka??"
Wulan sedikti terkaget.
Wulan berpaling melihat dr. Evan disisi ya dan seketika ia mengangguk dengan mencoba merapikan rambutnya yang tergerai dan tertiup angin laut hingga memyusahkannya.
dr. Evan yang melihat itu, reflek mengeluarkan saputangannya dan ia membuka dan mengulungnya. Dan seketika ia berdiri dibelakang wulan dan tangannya menyentuh kepala wulan, yang reflek membuat wulan terkejut.
"dokter??" seru Wulan kaget.
"Sebentar" pintanya dan merapikan rambut Wulan kedalam jemarinya dan mengikatnya dengan saputangannya. Walau tak begitu rapi, tapi itu membuat Wulan tak kewalahan dengan rambutnya yang kini terikat cantik dengan saputangan dr. Evan.
"Terima kasih dokter" ucap Wulan canggung.
dr. Evan hanya tersenyum kearah wulan. Dan seketika matanya pun ikut melihat luasnya laut yang terbentang.
Waktu berjalan begitu cepat, Safa Marwah yang setelah mandi selama tiga jam, akhirnya menyerah ketika Wulan mengajak mereka naik dan mandi bersih, lalu makan siang yang kini telah jam 2 siang. Canda tawa terus mengalir dalam moment indah itu. Bagi marwah ini moment yang ia impikan. Ia berharap bisa selamanya seperti ini dengan tante wulan.
Karena kelelahan Safa dan Marwah akhirnya tertidur, dan mereka di gendong oleh dr. Evan dan pak Didi masuk kedalam mobil alphard yang disulap bak kamar untuk kenyamanan mereka tidur.
Wulan berjalan kembali disepanjang bibir pantai itu dengan hanya bertelanjang kaki. Matahari yang berangsur-angsur turun menambah indahnya pemandangan sore laut saat itu. Terdengar sayup-sayup suara seseorang memanggil namanya.
Dan Wulan memalingkan wajahnya mencoba mencari asal suara itu, dan ternyata dr. Evan melabaikan tangannya dari kejauhan, dan seketika ia berlari berlahan dengan pasti kini dr. Evan berada di hadapan wulan.
"Aku menemukanmu" gumam dr. Evan dalam hati. Seraya tersenyum kearah wulan.
"Laut yang indah"
"Ya" sahut Wulan menyetujui ucapan dr. Evan
"Ua"jawabnya Wulan sembari mengangguk menyetujui ucapan dr. Evan yang sama dengan dirinya.
"Dulu ada sebuah puisi yang saya sukai di usia 20 tahun. isinya kurang lebih seperti ini?"
"Bertemu seseorang dalam hidup adalah orang yang membawa seluruh hidupnya bersamanya.
Hati itu rapuh, karena telah dirusak
Dia datang bersama hatinya"
Sesaat Wulan melihat kearah dr. Evan. dr. Evan hanya memandang laut yang luas itu seraya melepaskan nafas panjang.
"Saat menyukai puisi itu, aku tak mengerti maknanya, namun setelah aku mengetahuinya aku menjadi tak menyukainya lagi"
"Kenapa??"
"Ada banyak hal yang setelah kamu ketahui menjadi hal yang berat untuk kamu pahami" ujarnya berlahan melihat kewajah wulan.
"aku cemas dengan mu yang terlihat tenang dan bisa menyimpan semua dalam benak mu, Wulan"
Sesaat Wulan terpanah akan pernyataan dr. Evan.
"Mungkin tak seperti yang dokter pikirkan" elak Wulan yang ragu dan menatap kearah laut kembali.
"Wulan?? aku akan menunggu mu" ucap dr. Evan dengan sungguh. Dan menatap wajah Wulan yang terlihat indah dengan warna laut sore.
Secara naluri perlahan dr. Evan melangkah mendekat dan memeluk tubuh wulan kedalam dekapannya.
"Maaf... 5 menit, beri aku 5 menit seperti ini"
Wulan yang terpanah, terdiam menerima pelukan dr. Evan yang hangat. Wulan seketika menutup matanya sesaat.
πΆπΆπΆπΆπΆ
Salam sahabat..
Maaf upnya tengah malam, kebetulan ada lagi ada tenaga dan ilham juga mendukung untuk menulis kisah dr. Evan dan mbak wulan.
Jangan lupa beri like dan koment sebanyak-banyak yaa sahabat. Dan plisss beli vote juga π
Dan mari berpeluk bersama π€£ biar gak meluk guling π
Terima Kasih yorobun