My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!

My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!
Chapter 99 - Selamat Tinggal



Serangan nuklir telah terjadi, tapi..


Entah kenapa, aku tidak merasakan rasa bersalah sedikit pun. Itu seperti “Mereka pantas mendapatkannya” dan kami sangat puas.


Secara garis besar, sisa-sisa Kerajaan Flora telah hancur berantakan. Tembok besar dan istana kerajaan yang menjulang tinggi sebagai penanda kejayaan mereka telah menghilang. Simbol dan kekuasaan mereka telah hancur sepenuhnya.


Well.. semua bangsawan Kerajaan Flora selamat tapi.. hanya wilayah Ibukota Kerajaan Flora saja yang hancur. Jika pun mereka ingin membangun kerajaan sekali lagi, itu butuh waktu bertahun-tahun.


Jika kalian menganggap kami hanya menghancurkan Ibukota Kerajaan Flora? Segera buang pemikiran itu..


Karena.. ide kecil dari Chiyuki ini sangat mengejutkan ku.


Untuk menghancurkan kerajaan, kita harus mempunyai dua sisi yang saling mendukung dan kami mengambil kedua sisi tersebut.


“Onii-sama, Chiyuki punya ide kecil yang tiba-tiba terpikirkan. Daripada membiarkan hama menyebar. Kenapa kita tidak membuat satu tempat yang berisi hama dan menghancurkan sarang besarnya?”


Jika konteks percakapan itu adalah pertanian. Teknik dan konsep yang dipakai sudah pas. Tapi, jika “Hama” yang di maksud adalah silsilah kebangsawanan Kerajaan Flora. Maka.. arti perkataan Chiyuki berubah total.


Di tengah invasi kami, perubahan rencana dilakukan. Daripada menyerang Ibukota Kerajaan Flora dengan bom nuklir, kami sedikit menambah bonus kecil dengan menghancurkan perdagangan, pertanian, keuangan, militer, dan kepercayaan publik Kerajaan Flora. Taktik yang pernah ku gunakan saat mengirim pesan kecil beberapa tahun lalu.


Sepertinya, secara tidak langsung aku mengajari Chiyuki tentang kejahatan perang.


Well.. tidak ada salahnya kan? Itu hanya kejahatan perang. Secara hukum kerajaan, tidak ada larangan untuk melakukan kejahatan perang.


Meracuni sumber mata air? Daripada menggunakan racun.. cukup dengan perang psikologi membuat mereka ketakutan.


Merampas ternak dan bahan makanan pokok? Menggunakan taktik pengeboman karpet sudah cukup bagi kami.


Mempekerjakan tawanan perang dengan kontrak perbudakan? Kami memakai metode yang sama, hanya saja.. Mercedes yang berperan penting di sini. Keahlian Mercedes untuk mengubah ingatan seseorang sangat efisien. Lagipula.. jika mereka masih berguna, kenapa tidak dimanfaatkan?


Ruang komando taktis di isi pembicaraan kecil. Pembicaraan itu tidak penting sih, jika saja Mercedes tidak ikut di dalamnya.


“Aku pernah membaca ini di buku sejarah umum, Kerajaan Flora berdiri ketika seorang pengelana menemukan daerah kecil yang subur dan terdapat kandungan bijih emas di aliran sungainya. Penemuan ini menarik minat perhatian pengelana lain dan membuat mereka menetap di wilayah yang sama. Perkembangan itu membuat wilayah itu dipenuhi pengelana baru dan membuka mata pencaharian berupa pertambangan dan pertanian. Semua itu berjalan lancar hingga sifat ego, ketamakan, dan iri hati muncul di antara mereka. Mereka lalu membentuk kelompok dan saling membunuh untuk menempati kekuasaan. Seperti itulah nasib Kerajaan Flora yang malang terbentuk.”


“Ugh.. seperti yang diharapkan dari bangsawan Kerajaan Flora” balas Mercedes.


“Ya.. Maaf..” Aku, Chiyuki, Ayah ku, dan Ibu ku secara bersamaan mengucap kalian itu dengan nada datar.


“Eh?” Mercedes terdiam sejenak setelah mendengar jawaban kami.


“...”


“Ah!!” sepertinya Mercedes telah memahami maksud balasan kami.


Kami memang memiliki garis darah dari orang-orang itu. Aku tidak ingin menyangkalnya, bahkan aku pernah iri dengan salah satu bangsawan hanya karena sumber daya alam mereka sangat mendukung.


Ego, tamak, dan iri hati adalah sifat alami manusia. Manusia cenderung tidak puas dengan pencapaian yang telah diperoleh.


Contohnya seperti saat ini, jauh di atas langit. Aku melihat sisa-sisa bangsawan terakhir dari Kerajaan Flora. Mereka secara terbuka menolak wilayah aman yang telah kami berikan dan bergerak menuju kerajaan tetangga.


“Well.. bukankah sudah saatnya kita memutus rantai dendam tidak sehat ini.”


Perkataan terakhir ku ini, kami mengucapkan salam perpisahan terakhir untuk bangsawan Kerajaan Flora. Mungkin sejarah akan mencatat kejadian ini sebagai detik-detik terakhir kebangsawanan Flora.


Tiga detik telah berlalu dan pemandangan kami dipenuhi oleh kilauan putih akibat ledakan kecil yang menghujani garis terakhir Kerajaan Flora.


Selamat tinggal, Kerajaan Flora.


[...]