
“Kau tahu situasi saat ini kan?” tanya Ayah ku.
Aku segera menemui Ayah ku untuk mengatasi masalah ini. Dalam sejarah keluarga kami, berurusan dengan agama sangat merepotkan. Itu karena terlalu banyak aturan di dalamnya mengenai kewajiban dan larangan untuk setiap pengikutnya.
Sejak dulu, kami hanya membantu pihak kuil saat dibutuhkan. Kesampingkan tentang korupsi kecil dan penipuan berlandaskan agama mereka, kami tidak sebodoh itu untuk tertipu.
“Yang benar saja, donasi 10.000 Koin Emas hanya untuk menghidupi anak-anak terlantar dan biaya perawatan korban perang? Mereka terlalu melebih-lebihkan sesutatu.” Balas ku.
“Tidak juga, memang benar mereka golongan orang-orang yang merepotkan namun kekuatan mereka cukup kuat untuk menguncang dunia.”
“Ah.. benar juga. Jika tidak salah.. mereka memiliki pengaruh besar di kerajaan tetangga kita kan? Masalahnya adalah.. apakah mungkin mereka melakukan gerakan kecil di balik layar?”
“Tentu saja mereka melakukannya, memanipulasi kebijakan politik di Kerajaan Flora pernah mereka lakukan. Terima kasih untuk itu.. kita sekarang memiliki pajak tambahan untuk mendirikan bangunan.”
“Terdengar mencurigakan, haruskah kita berperang melawan mereka?”
“Dengan situasi saat ini, lebih baik menghindari perang dahulu. Masih banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki. Seperti.. kenapa aku menjadi Kepala Akademi?”
“Ayah, jika mereka mengetahui aku yang memimpin akademi itu.. bukankah akan terlihat konyol? Aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk itu.”
“...” Ayah kami terdiam dan menghela nafas yang begitu panjang.
“Asal kau tahu, Karl. Mereka akan tunduk kepada mu tanpa terkecuali?”
“Huh?” Aku sangat kebingungan dengan perkataan Ayah ku.
“Lupakan itu, kau harus bersiap-siap mengikuti ujian masuk yang telah direncanakan.”
“Eh? Kenapa aku harus mengikutinya?” aku sedikit merasakan firasat buruk tentang ini.
“Karl, apa jadinya jika Chiyuki di biarkan berkeliaran di Akademi yang berisi bangsawan dari kerajaan lain?”
“Eh? Kenapa mereka kesini? Bukankah di kerajaan mereka ada Akademi tersendiri?”
“Sepertinya.. wilayah kita saat ini menjadi oasis di tengah gurun.”
“Ah, begitu rupanya. Mereka ingin menyelidiki seberapa berbahaya kita ini dengan mengirim mata-mata mereka? Hmm.. aku jadi terpikirkan ide bagus tentang ini.”
“Ide apa lagi yang kau buat ini?” tanya Ayah ku yang penasaran.
“Yah.. terserah pada mu. Aku akan menunggu keputusan mu tentang ini.”
“Oh, kita akan melakukannya nanti.”
“Eh?”
“Boleh ku minta beberapa kertas? Ada beberapa soal tambahan yang diperlukan saat ujian masuk.”
Ayah ku segera memberi beberapa kertas dan peralatan tulis yang diperlukan. Jika kerajaan tetangga sedang memata-matai kami maka hanya satu hal yang bisa dilakukan. Memberi mereka informasi rahasia kami tanpa cacat sedikit pun.
Pertanyaan yang mendasar adalah.. bagaimana cara membedakan bangsawan dan agen mata-mata?
Pertanyaan itu hanya bisa di jawab langsung oleh orang yang bersangkutan.
Sebuah pertanyaan simpel namun menjebak telah tertanam. Jawaban dari pertanyaan simpel ini akan menentukan identitas kecil mereka.
“Oh.. begitu. Aku yakin bangsawan kerajaan akan terjebak ke dalam pertanyaan ini apalagi dengan nilai skor yang begitu tinggi.” Ayah ku yang penasaran dengan daftar pertanyaan ini pun duduk di sebelah ku.
“Yah, bukan cuma itu saja.. pertanyaan ini akan mengintip keseharian dan identitas mereka.”
“Cerdik juga, darimana kau tahu pertanyaan ini akan menentukan kepribadian mereka?”
“Nah, ini hanya sebagian kecil dari perang psikologis. Mereka takut kalah jika beradu kekuatan murni, maka kita akan memberi mereka pilihan mengenai perang psikologis.”
“Karl.. untuk catatan kasar. Kita tidak ingin menambah situasi kembali buruk seperti tahun-tahun sebelumnya.”
“Tenang saja, Ayah. Untuk perang yang satu ini.. di jamin aman asalkan mereka tidak terlalu bodoh untuk bertindak atau Chiyuki yang berindak di luar jalur.”
“Ah.. masuk kan itu ke dalam daftar situasi terburuk kita. Oh! Hampir saja lupa. Bagaimana dengan tawaran pihak kuil?”
“Yah, kita terima sajalah. Ah! Jika bisa kita adopsi anak-anak berbakat untuk mengisi Akademi kita yang kosong itu.”
“Siap, Boss!” canda Ayah ku.
[...]