My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!

My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!
Chapter 22 - Tutorial Genosida Naga



Seorang pengelana pernah mengatakan ini, “Aku mencari perunggu tapi malah menemukan emas.”


Ucapan itu menggambarkan apa yang ada di hadapan kami. Titik besar yang kami temui adalah seekor naga besar seperti kastil yang masih bernafas dengan tubuh penuh luka. Sepertinya dia selamat dari serangan Chiyuki dan Mercedes.


Holy ****!


Naga sebesar itu saja masih bisa selamat melawan duo mengerikan itu? sedangkan mereka hanya kelelahan tanpa luka sama sekali? Apa sih yang mereka lakukan? Pembulian terhadap naga sangat susah loh! Dan sepertinya mereka melakukan pembulian itu dengan perasaan gembira.


Sekali lagi aku menyadari bahwa adik ku tidak lah normal.


“Kau lihat ini, Ayah?” tanya ku.


Posisi kami saat ini sedang berdiam di dalam kendaraan dan mengamati naga yang terluka itu dari jauh. Beberapa naga kecil melindungi naga itu. Yep, dia adalah pemimpin kawanan naga ini. Sumber utama dimana kelangkaan makanan sedang terjadi akhir-akhir ini.


“Ukuran sebesar itu dan sisiknya yang tampak tebal.. Karl.. apa kita bisa mengalahkannya?”


“Ya Ndak Tau, Kok Tanya Saya.”


“...”


“Serius sediki, Karl!” ucap Ayah ku dengan nada tegas.


“Dengan senjata saat ini, kurasa kita bisa mengalahkannya. Lihat saja luka-luka di tubuhnya.”


“Luka sebanyak itu dan dia masih belum mati? Apa dia memiliki sembilan nyawa?”


“...”


“Serius sedikit, Ayah! Nyawa kita dalam bahaya di sini!” sekarang giliran ku membalasnya dengan nada marah.


“Oh.. oke.. oke.. apa rencananya?”


“Simpel! Pertama-tama kita negosiasi dulu. Sekarang bawa kendaraan ini ke depan dia dan biarkan aku bernegosiasi.”


“Terserah dirimu, Karl.”


Kendaraan kami perlahan bergerak menuju naga yang terbaring itu. Lampu sorot yang ada di kendaraan kami perlahan menarik perhatian naga-naga kecil di sekitarnya. Mereka lalu bergerak aktif untuk melindungi naga besar yang penuh luka itu.


Kami berhenti tepat di depan naga-naga kecil itu.


Aku lalu mengeluarkan pengeras suara yang terpasang dan mencoba bernegosiasi dengan naga itu. Well, walaupun ini termasuk tindakan nekad karena tidak semua naga memahami bahasa manusia namun seharusnya naga sebesar ini memiliki kemampuan berbahasa yang cukup.


“Ekhem.. tes.. tes.. satu.. dua.. oke pas.. untuk naga di sana apa kau bisa mendengar suara ku?”


Bukan hanya jawaban yang ku dengar melainkan eraman mencekam yang diarahkan pada kami.


“Hey, jawab aku jika kau paham dengan ucapan ku.”


“Oy!!”


“Hey!!”


“Dih, sombong sekali diri mu.”


Aku sudah mencoba memprovokasi mereka namun tidak ada jawaban yang kuterima. Hanya eragan yang tidak bersahabat terdengar. Itu artinya.. mereka memohon untuk mati bersama ketua mereka bukan?


“Bagaimana ini, Ayah? Mereka tidak menjawabnya.”


“Tentu saja lah! Mana mungkin naga bisa menjawab!”


“...”


“CIH, MANUSIA! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI WILAYAH KU!”


Ayah ku sangat terkejut ketika mendengar suara bergemuruh di atas kendaraan yang kita tumpangi, “Dia bisa berbicara!”


Aku bisa melihat kekaguman Ayah ku yang mendapati fakta bahwa naga bisa berbicara.


“Ekhem, Hey kau kadal! Kami kemari memberi mu dua pilihan. Mati perlahan atau mati cepat?” tawar ku.


Tanpa basa-basi aku memberinya dua pilihan.


“KUHAHAHA!! SETELAH KALIAN BERHASIL MELUKAI KU SEKARANG KALIAN YAKIN BISA MENGALAHKAN KU? JANGAN BERMIMPI KALIAN!!”


Baiklah! Tantangan diterima! Terimakasih telah menjadi bahan hidup uji coba kami.


Terimakasih, naga bodoh!


Pengorbanan mu akan ku kenang selalu!


Langsung saja aku mengaktifkan senjata spesial ku. Sebuah tabir asap namun mengandung fosfor putih di dalamnya, dimana fosfor putih itu bersifat membakar apa saja yang disentuhnya jika terkena udara dan efek lainnya seperti iritasi mata, ganguan pernafasan berat, bahkan membuat luka bakar.


Yep, senjata yang satu ini tidak manusia namun lawan kita naga.


Jadi, boleh dong?


Tanpa basa-basi lagi, tabir asap fosfor putih ini menyebar. Suara desiran fosfor yang terbakar masuk ke telinga kami.


Perlahan namun pasti, erangan nafas terakhir mereka terdengar dan titik-titik kecil di radar perlahan menghilang.


“Dan.. inilah.. tata cara melakukan genosida naga dengan benar!”


“Hah?” sahut Ayah ku.


Persetan dengan aturan perang dan kemanusiaan!


Di dunia ini tidak ada aturan itu!


[...]