
Syarat utama menjadi seorang penguasa adalah memahami kerakusan dan sifat alami manusia. Karena dengan memahami kedua itu, semua masalah yang bersumber dari perasaan manusia dapat diatasi dengan mudah.
Contohnya adalah.. perampok-perampok yang menyebut diri mereka sebagai merchant.
Berkat insiden kemarin dan kendaraan yang di buat oleh anak ku. Kami memiliki prestasi besar untuk mencegah datangnya invasi naga-naga yang kelaparan. Insiden itu tampaknya memancing hidung tamak mereka untuk mendapatkan sisik naga dengan harga yang murah.
Kedatangan mereka mudah ditebak. Laporan yang ku dapat dari petualang mengatakan jika sisik naga yang kita buru memiliki kualitas yang sangat baik. Membunuh naga tanpa merusak banyak lapisan sisik naga memang sangat susah, itulah yang menyebabkan penurunan kualitas sisik naga terjadi.
Tapi..
Menghadapi ketamakan mereka cukup mudah untuk dilawan.
Aku telah mengutus Sebastian untuk membawa merchant-merchant itu menghuni kamar pelayan yang kosong dan memberi mereka pelayanan kecil untuk tetap nyaman di kediaman kami.
Aku harus berbicara mereka untuk menentukan target penjualan. Laporan yang masuk dari Karl, dia butuh setidaknya 1.000.000 koin emas untuk membuat ulang kediaman kami dan memasok beberapa senjata keamanan di dalamnya.
Entah sejak kapan dia memiliki ide gila seperti itu, namun dengan kendaraan yang dibuatnya itu membuat ku sangat yakin dia masih memiliki ide gila lain di kepalanya.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku memasuki bekas kamar pelayan kami.
Di hadapan ku terdapat merchant bertubuh gemuk. Setiap merchant memiliki satu ciri khas yaitu kemampuan mereka untuk menilai barang mereka dalam sentuhan mata mereka. Tapi, kelicikan itu digunakan untuk menipu kualitas dan harga barang.
“Maaf membuat kalian menunggu, terlalu banyak merchant lain yang antusias membeli sisik naga kami.”
Sedikit basa-basi memang diperlukan, terlebih aku harus mengamati cara bermain orang di hadapan ku ini.
“Harusnya kami yang meminta maaf, Duke Flora. Karena datang tiba-tiba seperti angin.”
“Tidak apa-apa lagian kalian juga butuh sesuatu yang diharapkan ketika datang kesini bukan? Langsung saja kita ke masalah utama itu karena masih ada beberapa merchant lain yang sedang menunggu ku.”
“Ahahaha! Duke Flora tampaknya tidak suka basa-basi. Kalau begitu langsung saja kita melihat barang yang di dapat dari invasi naga.”
Melihat reaksi mereka yang langsung datang setelah sehari berlalu adalah.. tampaknya mereka megetahui kemana naga-naga itu pergi. Orang-orang licik seperti ini kenapa sangat mudah menjamur sih?
“Bagaimana dengan ini, 500.000 koin emas untuk 10 sisik naga bagian dada” aku lalu menjetikkan jari ku dan Sebastian datang bersama dengan troli yang berisi sisik naga.
Merchant itu lalu berdiri dan mengamati sisik naga itu. Aku bisa melihat gerakan bibir dan matanya yang tampak serasi seolah melihat barang yang di ia cari ada di sini.
“Hahaha.. Duke Flora.. anda memang sangat suka bercanda tampaknya. Sisik naga ini lumayan bagus jika tidak retak di dalamnya. Bagaimana jika kami membelinya dengan harga 100.000 koin emas untuk 10 sisik naga ini.”
“Hmmm.. aku ragu kita tidak bisa sepakat dalam hal ini” aku lalu bergegas bangkit dan berjalan keluar.
“Duke Flora??” merchant itu tampak kebingungan.
“Oh, bisnis kita berakhir disini. Maaf telah menggangu waktu kalian. Kalian boleh pergi lewat pintu depan.”
“Heh? Ah! Tunggu!”
“Em? Kenapa lagi?”
“Eh... etto..”
“Sumber ku mengatakan jika sisik naga ini memiliki kualitas yang sangat baik namun di mata kalian ini hanyalah sampah bukan? Aku tidak mungkin berbisnis dengan merchant yang tidak bisa menilai barang dan dengan ini akhirnya aku tahu seberapa buruk kualitas barang kalian.”
“Eh? Ah! Bagaimana dengan 700.000 koin emas untuk 10 sisik naga?”
“Heh? Kalian menaikkan harga kalian? Bagaimana dengan 1.000.000 koin emas untuk 10 sisik naga.”
“T-tunggu dulu, bukankah itu terlalu berlebihan untuk sekedar sisik naga?”
“Well, aku bisa menjualnya kepada merchant lain jika kalian tidak membelinya.”
“Kuh!” tampaknya dia bimbang untuk mengambil keputusan.
Aku kembali bergegas pergi sembari melambaikan tangan ku.
“Tunggu! Kami akan membelinya! 1.000.000 koin emas untuk 10 sisik naga!”
“Oke, setuju!” tanpa basa-basi lagi, kami sepakat dengan keputusan tiba-tiba ini.
Dengan cara ini, akhirnya kami berhasil memeras habis merchant-merchant licik ini.
Siapa yang akan menyangka jika mereka akan di peras balik bukan?
Sungguh sangat ironi sekali mereka, bukan?
[...]