
Saat pagi menjelang, kami di kejutkan dengan sebuah surat yang di kirim langsung oleh pembawa pesan Kerajaan Flora. Isi surat itu tidak terlalu penting, hanya sebuah undangan persidangan yang di kelola oleh pihak kerajaan untuk mencari jalan damai atau kekacauan yang di sebabkan oleh “Kami”.
Well.. aku tidak terlalu peduli dengan semua itu. Tapi, tampaknya orang tua kami sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi.
Kami sedikit menikmati makan pagi dengan tekanan yang tidak biasa.
Tapi, aku dan Chiyuki sangat menikmati makan pagi ini. terlebih dengan surat yang ditunggu-tunggu itu. Prediksi mengenai mereka menempuh jalur damai ini di sebabkan karena sebagian persediaan makanan mereka telah di hancurkan oleh pasukan kecil kami.
Orang bodoh mana yang memulai perang dengan perut kosong. Bahkan, untuk memenangkan sebuah pertempuran tidak di hitung dari jumlah pasukan. Memainkan mental dan tekanan sebuah pasukan yang berjumlah besar sangat memuaskan. Aku tidak berhenti-hentinya tersenyum melihat kabar baik ini.
“Onii-sama, bukankah ini yang kita tunggu-tunggu?” ucap Chiyuki memecah suasana.
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Hanya saja, kedua orang tua kami masih kebingungan dengan ucapan Chiyuki.
Mercedes yang sedari tadi cemberut pun masuk ke dalam percakapan kami, “Master! Jangan kira aku tidak ikut dalam bagian ini! Aku juga sudah berusaha keras loh!”.
Yang ini ada benarnya juga, semua informasi mengenai penyimpanan bahan makanan kerajaan tidak lepas dari campur tangan Mercedes. Siapa sangka dengan memberinya hak istimewa mengelola tawanan, Mercedes langsung mencari informasi sensitif mengenai hirarki militer Kerajaan Flora.
Hasilnya, beberapa kelemahan Jendral dan petinggi militer berhasil di amankan. Sebagai seorang yang menjunjung tinggi kerahasiaan, aku akan mengembalikannya pada mereka. Tentu saja, skandal kecil dan korupsi mereka tidak seberapa dengan kerusakan yang di sebabkan.
“Kerja yang bagus, Mercedes” ucap ku.
Mercedes masih saja cemberut mendengar pujian ku ini. Well.. akan sangat di sayangkan jika dia bekerja dengan suasana hati yang runyam. Jadi, aku memaksakan diri ku untuk menyuapi mulutnya menggunakan alat makan ku.
Teknik ini biasanya digunakan oleh sepasang kekasih untuk saling menyuapi dan menciptakan suasana romantis. Seberapa efektif kah teknik ini? kita lihat saja nanti.
Aku segera mengambil beberapa makanan ku yang tersisa, mengambilnya hingga terasa cukup dan mengarahkannya pada mulut Mercedes.
“Mercedes, buka mulut mu...”
Mercedes yang melihat ini pun bergegas membuka mulutnya dan menghampiri suapan ku. Satu suapan penuh itu mampu membuat kedua telinganya bergerak bersamaan. Aku bisa mengerti kenapa dia begitu bahagia dengan teknik ini.
Namun, itu semua tidak berjalan mulus dengan aura mengerikan yang terpancarkan oleh adik tercinta ku.
Yep, tatapan dingin dan menusuk itu pun menembus diri ku.
Orang tua kami yang menyadari perubahan ini pun memberi kode kecil pada ku untuk menenangkan Chiyuki. Dengan sisa makanan yang tidak seberapa, Mercedes memaksa ku untuk menyuapinya lebih lanjut dan sesekali tersenyum ke arah Chiyuki. Dia sengaja melakukannya untuk memancing reaksi Chiyuki.
“Master~” kali ini Mercedes menyandarkan tubuhnya pada ku. Reaksi Chiyuki cukup berbahaya karena ia memegang pisau daging yang di sediakan.
Pisau itu cukup tumpul karena di desain untuk memotong daging yang tidak terlalu keras. Tapi, saat Chiyuki melemparnya ke arah Mercedes. Pisau itu menancap di dinding dan menyisakan gagang pisaunya saja. Cukup cepat untuk ukuran pisau tumpul yang dilemparkan dari tangan seorang gadis.
“Mer-Ce-Des” dengan ucapannya yang terbata-bata. Chiyuki segera menghampiri Mercedes yang menempelkan tubuhnya pada ku.
“Master~” Mercedes hanya menghiraukan ucapan Chiyuki dan semakin menempelkan tubuhnya pada ku.
Bagaimana dengan ku? Aku yang sudah sedikit terbiasa dengan kejadian ini pun memahami apa yang akan terjadi.
Tentu saja..
Tanpa kekuatan.
Aku bisa apa?
Saat ini, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Di sisi lain, gadis-gadis serigala yang memandangi Mercedes pun memiliki reaksi yang sama dengan Chiyuki. Mereka memegang erat pisau kecil di tangan mereka.
Oh! Tidak!
Aku harap ini hanya perasaan ku saja.
Satu Chiyuki saja sudah merepotkan, apalagi ada satu peleton Chiyuki?
Aku harap gadis-gadis ini bukan seperti yang ku kupikirkan.
Yep, Ku harap.
Setidaknya, kali ini aku merasakan apa yang orang tua ku rasakan.
[...]