
Sejauh yang ku tahu, Ayah ku memang menyuruh ku untuk menggunakan beberapa pengrajin yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu. Aku terlalu memakan kata-kata itu sepenuhnya, hingga tanpa sengaja mereka membuat kendaraan yang sama hingga berjumlah 5.
Ayah ku sedikit memberikan saran untuk menamai mereka, akan sangat canggung jika kendaraan mengerikan itu tidak memiliki nama untuk di ingat.
Aku tidak masalah dengan masukan itu tapi ada sedikit peraturan kecil yang menyangkut di dalamnya.
“Kendaraan ini harus memiliki nama wanita?” ucap ku setelah membaca proposal yang diberikan Ayah ku.
“Apa kau punya saran, Sebastian?” tanya ku.
Saat ini, aku sedang bersantai bersama Sebastian dengan menikmati dinginnya angin malam di beranda kamar ku.
“Proposal dari Master? Maaf kan aku, Karl-sama tapi aku tidak terlalu banyak bertemu wanita akhir-akhir ini.”
“Bagaimana dengan istri dan anak-anak mu? Bukankah mereka ada di istana kerajaan Flora?”
“Mereka akan kembali ke sini setelah mendengar rumor yang beredar akhir-akhir ini.”
“Rumor? Rumor yang mana?”
“Ah, itu..”
Sebastian terdiam sesaat. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Rumor yang beredar mengenai keluarga kami memang sedang tersebar ke seluruh wilayah Kerajaan Flora. Masalahnya adalah.. rumor yang mana?
Terlalu banyak rumor yang beredar.
Dan jika ditanya tentang rumor, rumor yang mana?
“Maaf jika aku sedikit menyinggung mu, Karl-sama. Tapi apa tidak apa-apa jika kita membuang pasukan kerajaan dan menggantinya dengan pasukan yang baru?”
“Oh, itu? bukanlah masalah” jawab ku secara singkat.
Rumor yang sedang hangat saat ini adalah adanya pemotongan anggaran militer untuk mengganti militer kita yang lama dengan militer yang baru untuk adaptasi senjata militer baru. Tentu saja keputusan ini dilandasi dengan persetujuan Ayah ku. Jadi, jika mereka ingin protes maka mereka harus menyampaikan langsung pada Ayah ku.
“Apa Duke sebelumnya tidak masalah dengan ini?” tanya Sebastian.
“Oh, kakek? Well.. jika dia membeli panzerfaust itu untuk bersenang-senang berarti dia setuju bukan?”
“Ah! Dia menjadi seperti muda lagi setelah mengenal senjata itu.”
“Betul sekali, melihat kakek kembali energik seperti itu sangat memuaskan bukan.”
“Oh!!”
Tiba-tiba saja, Sebastian terpikirkan sesuatu yang menyerang kepalanya.
“Bagaimana dengan Remi, Karl-sama?”
“Remi? Maksud mu Nenek?”
“Ya, bagaimana dengan menamai kendaraan itu dengan Remi. Kendaraan kuat dan tahan banting sangat serasi dengan karakteristik Remi-sama, bukan?”
“Mungkin.. dia akan membelinya untuk hadiah ulang tahun pernikahan mereka?”
“OH! AKU BARU KEPIKIRAN!”
Ide yang dibawa oleh Sebastian ini cukup masuk akal. Kendaraan dengan kode nama “REMI” yang dipersenjatai senjata berat untuk serangan jangka panjang dan berpindah-pindah. Sama seperti nenek yang mantan seorang wakil jendral besar yang akhirnya menikahi kakek karena alasan politik.
Sama seperti semasa karirnya di militer, kendaraan ini memiliki kecocokan yang besar dengan nenek. Ini sangat pas.
“Kalau begitu, aku akan menamai unit kendaraan itu dengan nama Remi-class. Akhirnya! Tugas yang menyusahkan ini selesai. Entah kenapa memikirkan sebuah nama sangat sulit. Ngomong-ngomong.. darimana kau menamai ketujuh anak mu itu, Sebastian?”
“Aku hanya menceritakan ini pada mu, Karl-sama. Kenyataan dibalik nama mereka adalah ketidaksengajaan saat mendengar nama-nama tamu Duke-sama yang berkunjung. Aku hanya mengubah sedikit nama mereka agar layak digunakan oleh anak-anak ku.”
“Ah.. sangat sulit juga menentukan nama. Well.. terimakasih untuk menemani ku kali ini, Sebastian. Kurasa.. sudah waktunya Chiyuki datang untuk tidur bersama.”
Tepat setelah itu, Chiyuki datang ke kamar ku membawa rantai dan pengkita kunci yang lumayan banyak.
“Selamat malam, Onii-sama.”
Aku bisa melihat senyumnya yang manis tapi...
Sebuah perasaan yang berat memasuki ku.
“Kalau begitu, aku permisi dahulu, Karl-sama.”
“Haaaa~ selamat malam, Sebastian.”
Sebastian hanya mengangguk dan membawa sisa minuman yang tertinggal di dalam kamar ku.
Sesaat setelah Sebastian melangkah keluar, Chiyuki bergegas melapisi pintu dan jendela kamar ku dengan rantai yang menghalanginya untuk terbuka.
“Fufufu~ sekarang hanya ada kita berdua, Onii-sama”
Kurasa, tindakan ku saat makan malam itu memancingnya untuk bertindak nekad seperti ini.
“Kita akan tidur bersama malam ini...”
“Hanya berdua...”
“Tanpa gangguan...”
“Fufufu~”
Sepertinya.. malam ini..
Aku harus bertahan hidup di setiap detiknya.
[...]