
“Wow, Ivan! Kau masih hidup?” untuk suatu alasan, Ivan datang ke kamar ku.
“Master Karl, dengan segala hormat. Aku hampir mati tadi malam!” di pagi yang cerah ini, Ivan dengan semangat masa mudanya mengeluarkan keluh kesahnya.
“Pertama, itu salah mu sendiri. Kau pikir istri mu tidak sensitif jika suaminya pergi menghilang entah kemana saat dirinya hamil? Jujur saja, aku sampai bertanya-tanya kenapa kalian bisa menikah?”
“Um.. Accidentally?” canda Ivan.
“Kau tahu.. jika istri mu mendengar ini. Aku tidak bisa membela mu.”
“Huh? Mana mungkin dia mendengarnya disini?” balas Ivan dengan percaya diri.
Saat Ivan selesai mengucapkan kalimat itu, sebuah suara pintu yang tiba-tiba tertutup menarik perhatiannya. Dari balik pintu kamar ku terdapat Selena yang masuk sembari tersenyum lembut.
“Apa pun itu, tolong jangan kotori kamar ku” ucap ku untuk memperingati Selena.
Ivan terlihat sangat gelisah, pelipis kepalanya berkeringat hingga membasahi kerah kemejanya.
“S-Selamat pagi, Sayang ku” ucap Ivan untuk memecah suasana.
“Oh? Selamat pagi, Sayang.. apa masih kurang untuk tadi malam?” tanya Selena dengan nada dingin.
“Master Karl, semua yang dipesan telah selesai. Sekarang.. kita hanya butuh ijin pengiriman barang pesanan” lanjut Selena sembari menyerahkan beberapa dokumen penting ke meja ku.
Aku menerima dokumen yang diberikan oleh Selena dan membaca isinya.
“Harusnya.. unit Alpha akan digerakkan untuk mengatasi masalah ini tapi mereka sibuk mengajar generasi baru kita di Akademi. Untuk itu..”
Aku segera berdiri dan mengambil peralatan khusus yang berada di bawah meja ku.
“Master Karl?” tanya Selena.
“Ah, tidak! Situasi seperti ini lagi?”
Kedua pasangan suami-istri ini memiliki frekuensi otak yang sama rupanya.
Aku segera membuka peralatan khusus itu, beberapa peta taktis dan skenario penyerangan militer terbuka. Ivan dan Selena bergegas mengamati peta taktis dan panduan skenario.
“Untuk yang satu ini.. rasanya sangat menjijikan untuk berhadapan dengan mereka” tambah Selena.
“Yah, bagaimana pun juga. Lawan kita kali ini adalah mayat hidup, persiapan khusus sangat diperlukan.”
“Siap, Master Karl!” balas kedua pasangan suami-istri tersebut.
Mereka lalu bergegas pergi untuk menjalankan rencana ini.
Setelah kedua pasangan itu pergi, Mercedes muncul dan membawa beberapa camilan. Dia tampak gelisah saat kertas kecil yang ia bawa terjatuh.
“M-Master Karl..” mendengar nada suaranya yang begitu kecil. Aku menyadari adanya kekhawatiran besar yang ada di dalam pikirannya.
Sekilas.. aku melihat sebuah lembaran foto yang memperlihatkan kondisi Kerajaan Flora. Jauh di atas langit, beberapa sumber api dan asap hitam melahap rumah-rumah warga. Disamping itu, sebuah lingkaran ritual sihir kegelapan tersebar di beberapa titik Kerajaan Flora.
Melihat reaksi Mercedes yang ketakutan, firasat ku semakin yakin untuk menggunakan skenario penyerangan militer yang telah dipersiapkan.
“Master Karl, maaf jika kakak ku terlalu merepotkan.”
“Tidak apa-apa, terkadang.. kita butuh tantangan untuk berkembang. Bukankah kau juga sama, Mercedes?”
“Um!” Mercedes menganggukkan kepalanya.
“Kakak mu ini sangat berdedikasi sekali tampaknya. Bukankah ini akan menjadi operasi mayat hidup yang besar?”
“Cukup, Master karl. Aku sedikit malu melihat tingkah laku kakak ku ini” balas Mercedes sembari menutup wajahnya.
“Jadi.. Um.. setidaknya.. boleh aku berbicara kepada kakak ku sebelum melakukan itu?” lanjut tanya Mercedes.
“Tentu saja, lagipula.. senjata itu dirancang untuk mayat hidup. Akan sangat memalukan jika targetnya manusia.”
“Terima kasih, Master Karl.”
[...]