
“Yang Mulia, bagaimana ini?” tanya seorang Ajudan ke Rajanya.
“Wilayah kecil itu lagi? Kita pernah menantangnya dan Putri ku pernah mengunjungi wilayah itu. Berdasarkan ucapan dari Putri ku, pemilik wilayah itu memiliki teknologi yang jauh berbeda dengan milik kita. Jika kertas ini benar, berarti mereka sedang ada disini” sang Raja duduk termenung di kursi kerajaannya.
Informasi yang tersebar di langit malam mengatakan adanya aktivitas mata-mata yang tersebar di wilayah mereka. Yang menjadi masalah adalah.. posisi mereka terhimpit oleh dua masalah.
Pertama adalah serangan mayat hidup.
Kedua adalah aktivitas mata-mata dari wilayah kecil.
Sang Raja menutup matanya dan mengambil tindakan penting.
“Hiraukan saja mata-mata ini, tapi.. jika pasukan kita menemukan mereka. Pastikan untuk memanfaatkan mereka!” perintah sang Raja.
“Siap, Yang Mulia!”
Suasana Kerajaan Abzien menjadi mencekam di kedua sisinya.
“Masalah demi masalah melanda kerajaan ini.. itu artinya..” Sang Raja terdiam dan melihat sekeliling.
“Waktunya kabur dari tanggung jawab ini!” sang Raja bangkit dari tempat duduknya dan bergegas keluar melalui pintu depan. Namun, sosok wanita yang mengenakan armor lengkap ada di depannya.
“Urk! Aku terlambat lagi! Sial!” ucap sang Raja.
“Hoho.. mau kemana lagi, Darling??” sosok wanita itu mengenakan armor lengkap dan mahkota emas di atas kepalanya. Armor yang ia kenakan memiliki ketebalan yang menutup seluruh badannya, dari penampilannya saja bisa membuktikan jika armor itu cukup berat.
“Kembali ke dalam, ada sesuatu yang harus kau dengar!” perintah sang Ratu.
Kerajaan Abzien terbilang cukup unik, biasanya.. pemegang kekuasaan tertinggi dipegang oleh Raja dan Ratu hanya pendamping politiknya. Namun, Kerajaan Abzien memiliki politik yang berbeda dengan kerajaan lain dan menempatkan wanita sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
Sang Raja hanya bisa mengikuti permintaan Sang Ratu.
Saat pintu terkunci, Sang Ratu mengeluarkan isi pemikirannya secara terbuka.
“Kurasa.. sudah waktunya Putri kita untuk menikah” ucapan sang Ratu ini membuat sang Raja terkejut.
“Hah?! Yang benar saja! Di tengah situasi seperti ini?!” rasa terkejut sang Raja tercermin di kalimatnya.
“Huh?! Putri ku yang kelewat polos dan bodoh itu?!”
“Maaf saja, dia memang Putri kita tapi kebodohannya menurun dari mu” balas sang Ratu.
“Hey?! Aku tidak sebodoh dan naif seperti itu. Terakhir ku lihat, dia sedang mengurung diri di kamar kan?”
“Benar juga, setelah ia di usir dari wilayah kecil itu. Sikapnya menjadi berubah. Sepertinya, ada sesuatu yang menampar di wajahnya saat itu. Terlebih, dia ingin menikahi anak dari mantan bangsawan Kerajaan Flora.”
“S-Siapa?” mendengar kalimat tentang Kerajaan Flora. Ingatan kecil tentang pembantaian pasukan Kerajaan Abzien masuk ke dalam ingatan sang Raja.
“Jika tidak salah.. Duke Flora. Uh, siapa itu namanya?”
“Karl de Flora?”
“Nah, itu!!”
“TIDAAAAAKK?!!”
Mendengar nama Karl de Flora, sang Raja menjadi panik dan ingatan tentang mimpi buruk medan perang kembali berputar di otaknya. Sebuah mimpi buruk yang menguasainya selama bertahun-tahun. Perang yang terjadi antara Kerajaan Abzien dan Kerajaan Flora dengan melibatkan mantan Duke Flora berakhir kegagalan.
Ia terpaksa menurunkan pasukannya untuk membawa kembali mayat-mayat yang hancur berantakan. Karena ketamakan kecil dan keangkuhannya, ia mengalami kekalahan yang sangat besar.
Sang Raja memuntahkan isi perutnya. Ia teringat tentang mayat yang berlubang di tubuhnya, organ tubuh yang terbuka, bagian tubuh yang hilang, dan kondisi tak layak untuk disebut mayat.
Itu karena.. kondisi tubuh mereka sangat sulit dikenali.
Tapi, seragam mereka menunjukkan identitas sebagai prajurit Kerajaan Flora.
Berkat Karl de Flora, mimpi buruk itu terekam di ingatan sang Raja Kerajaan Abzien.
“Huuuekkk!!” sang Raja kembali memuntahkan isi perutnya.
“Cih! Dasar lemah!” ucap sang Ratu.
[...]