
Kegemparan yang terjadi dari kedua kerajaan yang bertengkar mengundang perhatian lebih dari kerajaan sekitarnya. Kerajaan tetangga yang lebih makmur tentu saja mengejek nasib kedua kerajaan tersebut.
Itu karena kerugian yang mereka dapat jauh lebih mengerikan daripada masalah internal kerajaan mereka. Tentu saja, ini menjadi bahan bercanda yang terekam dalam sejarah mereka.
Kerugian yang di alami oleh Kerajaan Flora adalah penurunan bahan pangan hingga 70% dan penurunan sumber daya militer mencapai 80%.
Sementara itu, Kerajaan Abzien hanya mengalami kerugian sumber daya militernya yang mencapai 60%. Simpanan bahan pangan mereka lebih dari cukup untuk bertahan dan menjualnya ke kerajaan sekitar. Itu cukup untuk menambal kerugian yang mereka alami.
Sejarah ini tercatat hingga menjadi tiga bagian.
Pertama, mantan Duke Flora memilih keluar dari Kerajaan Flora dan itu menjadi bahan bercanda di semua kerajaan mengenai keputusannya yang bijak.
Kedua, hubungan antara Kerajaan Flora dan Kerajaan Abzien menjadi semakin dekat karena desakan damai dari rakyat mereka.
Ketiga, teknologi mantan Duke Flora menarik perhatian dari bangsawan yang mengungsi di wilayah mereka dan memilih untuk tetap tinggal di sekitar wilayah mereka. Tentu saja, bayaran yang diberikan tidaklah murah. Mereka menarik orang-orang yang berpotensi di setiap bangsawan dan memaksanya untuk melakukan kontrak kerjasama.
Perjanjian damai akhirnya benar-benar terjadi, karena situasi politik yang terlalu di paksa oleh keadaan. Mantan Duke Flora di jatuhi hukuman untuk menganti kerugian, namun mereka menolaknya dan memberi ancaman mengerikan untuk menghapus Kerajaan Flora dari peta dunia.
Perjanjian damai itu pun di setujui tanpa melibatkan mantan Duke Flora setelah di temukan adanya korban yang selamat dari pembantaian dua kerajaan. Walaupun mantan Duke Flora terlibat di dalamnya, mereka tidak menyerang tenda pasukan medis. Karena hal itu, perjanjian perang dengan etika pun di setujui. Setiap tenaga medis di medan perang tidak boleh di serang dan ini adalah perjanjian pertama mengenai etika dalam peperangan.
Kedua kerajaan itu perlahan pulih.
Dan.. setelah tujuh tahun berlalu. Kerajaan itu pun telah bangkit sepenuhnya.
Mandan Duke Flora pun memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun wilayah mereka ke tingkatan yang lebih dari sebelumnya. Bangunan desa kini berubah menjadi bangunan kota. Masyarakat pedesaan pun berubah menjadi masyarakat elite yang mengerti akan hukum dan taat aturan. Kejayaan tempat ini sangat terasa dengan perkembangan peralatan modern di dalamnya.
Fasilitas umum, layanan transportasi, kebutuhan pangan dan sandang tercukupi, serta pembangunan di beberapa wilayah telah menarik masyarakat yang hilang. Itu tidak lepas dari kerja keras Karl dan asset milik Duke Flora sebelumnya.
Wilayahnya memang kecil, namun kekuatan di dalamnya melebihi kemakmuran dari tujuh kerajaan di samping mereka. Hingga, sebuah akademi khusus di bangun. Akademi itu menjadi pembuka era yang baru mengenai perkembangan teknologi ke depannya.
“Hikss.. di kehidupan sebelumnya aku terlalu sibuk mengatur wilayah dan melupakan tujuan yang satu ini.”
“Siapa yang akan menolak untuk menjalani masa lajang penuh cinta di dalam akademi! Bahkan akademi kerajaan tidak sebanding dengan ini.”
“Dan.. terlebih lagiii..”
“Kenapa aku yang menjadi Kepala Akademi?”
Pertanyaan itu di tujukan untuk orang-orang yang berada di dalam ruang rapat. Beberapa mantan bangsawan Kerajaan Flora yang memilih membuang status mereka hanya kebingungan ketika mendengar pertanyaan ini.
Mereka tidak berani untuk menjawabnya, karena...
Sosok di depan mereka adalah penyebab utama dari semua perubahan yang terjadi.
Mana mungkin mereka berani mengambil tindakan untuk melangkahinya, bukan?
“Bukankah itu sudah jelas, Onii-sama? Jika mereka yang mengurusnya, kita hanya membuang-buang sumber anggaran untuk projek gagal. Ah! Benar juga! Kenapa tidak memberi kesempatan untuk mereka. Jika mereka tidak berguna, kita hanya perlu mengantinya saja.”
“Chiyuki.. pemahaman mu akan penganti sangat berbeda dari kamus umum.”
“Eng?”
Saat ini, perjuangan Karl masih terus berlanjut untuk mengubah adiknya menjadi normal. Karl paham betul mengenai makna “penganti” di pikiran adiknya itu. Layaknya barang yang rusak dan dibuang, itu juga berlaku untuk manusia di mata Chiyuki.
“Ugh, haruskah aku berjuang lebih lama lagi?” gumam Karl.
[...]