
Bagi kami, bertahan hidup adalah tujuan utama kami. Tak peduli bagaimana sikap diskriminasi yang kami dapat, selama itu untuk bertahan hidup maka kami tidak mempermasalahkannya. Saat orang tua ku masih hidup, kami tinggal jauh di dalam hutan. Berburu adalah kemampuan dasar yang kami miliki. Tanpa kemampuan itu, sudah pasti kaum kami akan mati kelaparan.
Karena insiden meluasnya habitat monster ganas, tempat tinggal kami menjadi target serangan dan hanya kami lah yang selamat. Untung saja ada sekelompok manusia yang membawa kami ke tempat penampungan sementara.
Dan entah kenapa, kami tiba di dalam wilayah Duke Flora. Rumor berkembang pesat mengenai keluarga ini. Bisa di bilang mereka baru saja melakukan pembantaian massal untuk pengkhianat yang bermain di belakang mereka.
Aku sangat setuju dengan itu, pengkhianatan adalah dosa besar untuk kami. Maka, setelah membuat perjanjian kontrak yang menguntungkan kami. Karl-sama mengajari kami beberapa metode jebakan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Biasanya kami menggunakan belati dan anak panah untuk berburu, sesekali menggunakan perangkap duri yang ditutupi dengan dedaunan. Tetapi, setelah Karl-sama memperkenalkan kami cairan yang menghasilkan kekuatan hancur yang kuat. Seketika itu juga, insting berburu kami menjadi aktif.
Kami, gadis-gadis serigala suku Lyod menawarkan kesetiaan terbesar kami untuk keluarga Duke Flora dan itu dibuktikan dengan berburu Queen Thorn Wild Boar.
Tugas itu sebenarnya sangat mudah karena Thorn Wild Boar di tempat kami jauh lebih ganas daripada di wilayah Duke Flora. Di tempat kami setidaknya harus mengumpulkan beberapa pasukan pemburu untuk menumbangkannya namun dengan bantuan pengetahuan yang diajarkan oleh Karl-sama, kami menggunakan perangkap peledak untuk serangan kejutan.
“Hime-sama, bagaimana ini? apa kita perlu menggunakan perlengkapan yang diperagakan dia?” seorang teman dekat ku berkata seperti itu pada ku. Pertanyaanya sedikit kurang sopan namun dengan keadaan kami yang seperti ini maka perlu beberapa waktu untuk beradaptasi.
Menerima seorang pemimpin untuk kelompok kami butuh setidaknya satu tahun dan saat ini hanya aku lah pemimpin sementara kelompok ini.
Karena suku kami di dominasi wanita, mencari pemimpin laki-laki sudah menjadi tradisi saat pemimpin sebelumnya memutuskan berhenti atau mengalami insiden yang tidak terduga.
“Xia, di dalam kerajaan ini. Karl-sama memiliki kekuatan yang penting loh. Jadi jangan sebut dia seperti itu. Panggil Karl-sama dengan penuh rasa hormat!” pembelajaran yang seperti ini sangat penting untuk bertahan di dunia manusia.
“Maaf kan aku, Hime-sama. Aku akan lebih berhati-hati untuk selanjutnya.”
“Xia, ingat ini.. status kita saat ini adalah bagian dari Duke Flora. Selama kontrak itu mengalir di dalam kita, selama itu pula rasa hormat kita akan mengalir.”
“Aku akan ingat itu, Hime-sama.”
Setelah memahami kesalahannya, Xia sedikit penurut untuk mulai memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh Karl-sama dan selanjutnya Chiyuki-sama mempersilahkan kami untuk mencoba apa yang baru saja diajarkan oleh Karl-sama.
Perangkap yang diberi nama Booby Trap itu merupakan seni jebakan yang sangat indah. Pedang bermata dua yang mampu mempermainkan pemburu dan yang di buru. Hidung ku masih mengingat bahan apa saja yang dicampur oleh Karl-sama.
Dengan sedikit konsentrasi dan ingatan kecil aroma yang ku hirup, aku berhasil menciptakan ramuan yang sama.
“Oh! Kau sudah selesai rupanya” Chiyuki-sama melihat ku yang tengah memegang ramuan peledak dan berjalan menghampiri ku.
Ini pertama kalinya aku di puji seperti ini selain oleh kedua orang tua ku.
“T-terima kasih” balas ku.
“Hmm.. melihat bakat mu yang seperti ini. Kenapa kita tidak langsung berburu saja?”
“Eh?”
Aku tidak tahu jika percakapan kecil kami membawa kami dalam perburuan Queen Thorn Wild Boar. Berbagai strategi dasar untuk mencari tempat tinggal mereka sangat mudah di dapat, itu karena aku sudah terbiasa memburu mereka.
Aroma itu mirip dengan peledak yang kami buat, namun kurasa itu memiliki daya hancur yang lebih tinggi.
Saat kami menemukan keluarga Thorn Wild Boar dan Queen Thorn Wild Boar yang tertidur, aku menyampaikan rencana ku untuk memasang jebakan besar yang cukup untuk membuat panik monster-monster itu.
Ide kecil ku ini disambut baik oleh Chiyuki-sama yang ikut bersama dalam perburuan kami.
Kami bergegas membuat jebakan yang sering di lalui oleh monster-monster itu menggunakan jejak kaki dan aroma tubuh mereka. Jebakan yang kami siapkan ternyata sangat mudah untuk dibuat dan hanya memerlukan waktu 15 detik untuk pemasangan.
Yang menjadi masalah adalah..
Bagaimana kami memancing mereka datang ke jebakan kami.
Chiyuki-sama tampaknya menyadari masalah yang kami hadapi. Chiyuki-sama tersenyum melihat tingkah kami yang tampak seperti pemula.
“Kurasa.. kalian masih terlalu kecil untuk berburu sendirian” setelah mengatakan itu, Chiyuki-sama segera mengangkat benda yang selalu dibawanya dan tersenyum lembut menatap Queen Thorn Wild Boar.
“Untuk kali ini saja, Onee-san akan membantu kalian” tepat setelah itu, sebuh pekikan suara yang datang tiba-tiba merasuki telinga kami.
Suara itu menghasilkan suara ledakan yang membangunkan Thorn Wild Boar dan bergerak panik setelah bangkit dari tidur mereka.
*KABOOOM!
Tiba-tiba saja, Queen Thorn Wild Boar terbujur kaku di hadapan kami. Dengan bagian perutnya yang pecah dan bau daging panggang yang menusuk hidung kami.
Saat itu, entah kenapa kami teringat dengan kata-kata Karl-sama yang menjanjikan kami makanan berdasarkan hasil buruan kami.
Dengan kata lain, makan malam kami nanti adalah..
Daging Queen Thorn Wild Boar?
“Fufufu~ Onii-sama pasti akan terkejut jika melihat daging ini,”
Bagaikan seorang malaikat, kami menyaksikan senyum manis Chiyuki-sama.
“Ah, kerja bagus Hime-chan!” sekali lagi, perasaan hangat dari pujian Chiyuki-sama meluluhkan hati ku.
"Ah! itu artinya Hime-chan yang mendapatkan hadiah dari Onii-sama?"
Entah kenapa, sebuah perasaan yang begitu menakutkan datang kepada ku. Bulu tubuh ku tiba-tiba berdiri tegak.
[...]