
Sebuah surat datang ke kediaman Duke Flora.
Ah! Maaf. Bukan Duke Flora melainkan mantan Duke Flora. Surat yang terukir dengan balutan tinta emas dan simbol Kerajaan Abzien itu pun menarik minat keluarga kecil kami.
“Apa ini? menyerahlah sebelum kami menghancurkan kalian? Kenapa di pagi hari kita mendapatkan surat seperti ini?” tanya Ayah kami.
Ini terjadi setelah kami membersihkan unit Remi-class yang ternodai. Sepertinya, kehilangan beberapa pasukan dari unit invasi tidak membuat Kerajaan Abzien mundur. Mereka tampaknya tidak mengetahui jika keluarga ini telah membuang gelar bangsawan Duke Flora. Sebagai mantan bangsawan, penghinaan seperti ini terasa menghancurkan harga diri seorang bangsawan tetapi.. setelah kami keluar dari sistem bangsawanan.
Ancaman seperti ini hanyalah kicauan burung pagi.
“Sepertinya bukan kerajaan kita saja yang di isi orang-orang bodoh, tapi kerajaan tetangga juga sama” ucapan Ayah kami memang ada benarnya.
“Karl, apa yang akan kita lakukan?”
Aku yang sedang menikmati makan pagi ini pun tersedak kecil. Pertanyaan yang muncul tiba-tiba ini sedikit merusak suasana.
“Onii-sama...” Chiyuki memberi ku segelas air.
“Mereka baru perang satu hari dan menantang kita? Apa mereka tidak mendengar kabar tentang pembataian kecil kita?” ucapan ini keluar dari mulut Ibu kami. Dia sedikit khawatir dengan gadis-gadis serigala yang terpaksa berperang membawa nama kami.
“Mama, tenanglah.. Onii-sama pasti telah memiliki solusi dari masalah ini. Benar kan, Onii-sama.”
Sejujurnya, aku tidak yakin ini solusi atau bukan. Tapi.. ini layak untuk di coba.
Informasi ini datang setelah Mercedes selesai mengekstrak informasi dari mayat-mayat yang tersangkut di unit Remi-class. Mengenai cincin milik salah satu komando tertinggi, itu ada benarnya dan secara kebetulan.. dia adalah putra mahkota dari Kerajaan Abzien.
Kami tidak sengaja menjaring ikan yang besar kali ini. tapi.. dengan keadaan yang semakin tidak menentu ini. Kami bisa membuatnya lebih menarik lagi.
“Bagaimana dengan menggunakan itu?” balas ku.
“Itu?”
“Ituu??”
“Ituuu???”
Balasan yang beragam pun terdengar, aku sangat senang jika mereka perhatian seperti ini. Namun...
Entah kenapa mereka jauh lebih bersemangat dari biasanya.
“Tunggu dulu, Karl! Boleh Mama ikut bergabung? Mama sedikit kesepian ketika kalian sibuk!” tiba-tiba kami dikejutkan dengan penyataan Ibu kami.
“Vi-Victoria, kau tahu kan apa yang sedang terjadi. Ini bukanlah masalah yang kecil.”
“Aku tahu itu, tapi.. melihat kalian berjuang keras sedikit membuat ku ingin melakukannya juga!”
“Mama...” Chiyuki yang menyadari niat tulus dari Ibu kami sedikit tersentuh.
“Mama juga ingin merasakan bagaimana membunuh musuh dengan kedua tangan ini.”
Are?
Heh?
“Mama juga ingin mencoba senjata buatan Karl yang indah itu.”
A-Aku salah dengar kan? Seseorang! Tolong katakan jika telinga ku ini bermasalah!
“Bahkan saat melihat Chiyuki yang berjuang keras, Mama juga ingin berkontribusi di keluarga ini. Apa tidak boleh?” kini Ibu kami menatap mata Ayah kami. Tatapan itu dipenuhi dengan air mata yang melarutkan siapa pun.
Walaupun Ayah kami sangat peduli dengan keluarga kecil ini, tapi untuk urusan yang seperti ini ia perlu memantapkan hatinya agar tidak goyah dengan godaan seperti ini.
“Victori, ini perang. Apa kau pernah membunuh sebelumnya?” tanya Ayah kami.
“Belum sih, tapi kalau berburu monster dengan tangan kosong. Aku penah melakukannya.”
“Monster apa itu?”
“Um.. jika tidak salah. Monster itu bernama Minotaur?”
“Heh?”
“Heeeeeh??”
“Heeeeeeeeehhhhh??”
“Heh?”
“Heeeeh?”
Kami semua kebingungan dengan penyataan Mama kami.
“Erm, Victoria. Kau tahu kan.. Minotaur adalah monster dengan tubuh berotot besar dan memiliki kulit keras. Bagaimana mungkin kau membunuhnya dengan tangan kosong?”
“J-Jangan keras-keras! Aku sedikit malu tentang itu. Terdengar tidak elegan bukan?”
“Ayolah.. Victoria. Jangan bercanda di saat situasi genting seperti ini.”
“Dengan segala hormat, Tuan Charles. Apa yang di katakan oleh Nyonya Victoria adalah kenyataan. Dia pernah membunuh monster Minotaur dengan tangan kosong atau lebih tepatnya membunuh satu kawanan Minotaur yang menyerang tempat desa kelahiranya.”
Tepat di samping ku, Mercedes mengucapkan fakta yang mencengangkan ini. Bahkan, beberapa pelayan yang mempersiapkan hidangan penutup pun terkejut dan menjatuhkan peralatan makan.
Ayah kami terdiam ketika mendengar fakta ini.
“J-Jadi ini alasannya kenapa tulang rusuk ku selalu patah saat Mama kalian ngambek?” ucap Ayah kami.
“M-Moooo!! Jangan katakan seperti itu!” Ibu kami pun menampar pipi Ayah kami. Walaupun itu dilapisi dengan suara tawa kecilnya, namun suara patahan tulang terdengar jelas dan Ayah kami terkapar di lantai.
“MEDIIIIICCCC!!!” ucap ku dalam kepanikan ini.
Untuk pertama kalinya, aku mengetahui jika Ibu kami memiliki tenaga kasar yang luar biasa.
[...]