
Berita tentang kerusuhan yang disebabkan oleh naga mulai menyebar. Bahkan kabar itu sampai pada telinga kakek ku yang sedang bersenang-senang menikmati pensiunannya setelah sekian lama mengabdi menjadi Duke Flora.
Dia kembali tidak sendirian! Dia kembali dengan menunggangi naga yang besar dan memimpin pasukan penunggang naga di belakangnya.
“Semuanya, bersiap-siap!” perintahnya.
Kurasa ada salah paham disini.
Kami baru saja keluar dari mulut gua dan disambut oleh pasukan naga. Tentu saja, dengan melihat kendaraan yang kami tumpangi sudah terasa aneh bagi mereka.
Beberapa todongan senjata tajam mulai membidik kami.
“Anu.. Karl.. bagaimana cara kita menjelaskannya pada mereka?”
“Serahkan masalah ini pada ku, Ayah” aku lalu membuka lubang palka yang berada di atas ku dan memunculkan wajah ku.
“Kakek~” sorak ku.
“Eh? Karl?”
“Apa yang kakek lakukan disini?” tanya ku.
“Aku mendengar jika tempat kalian diserang naga, jadi kami kembali untuk memberi bantuan.”
“Oh.. Ah!! Tenang saja, Kakek! Semua aman terkendali” balas ku sembari menaikkan jempol ku.
“Apa maksudnya? Dimana mereka, Karl? Jangan buang-buang waktu lagi! Keadaan sedang darurat dan kau harusnya tahu itu.”
“Yah.. bagaimana lagi.. mereka semua sudah mati, Kakek.”
“Lah?”
“Laaahh??”
“Laaaaaaahhh???”
“Laaaaaaaaaaaaaah????”
Kami sedikit bercanda seolah tidak mempercayai satu sama lain.
“Hey! Jangan bercanda dengan Kakek mu ini! dan dimana anak tak berguna itu? aku mencari-cari dia daritadi. Apa dia kabur?”
“Ekhem! Ayah! Aku disini!” balas Ayah ku sembari keluar dari lubang palka yang sama.
“Ayah, apa yang dikatakan Karl memang benar. Naga-naga itu sudah berpulang kesana dengan damai. Kalau tidak percaya, coba saja masuk ke gua belakang kami” Ayah ku langsung menunjuk gua yang tidak jauh di belakang kami.
“Semuanya!! Maju! Habisi naga-naga itu!” sembari mengatakan itu, Kakek lalu bergerak cepat menerjang gua di hadapannya.
“Etto.. Ayah.. sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini tapi kenapa sifat kakek tidak menular pada mu?”
“Yah, mau bagaimana lagi? Kakek mu hidup saat menjadi panglima dan dalam keadaan perang sedangkan Ayah mu ini lahir dalam keadaan damai.”
“Hmmm.. perlukah kita berperang kembali?”
“Jangan!! Kau pikir perang enak?”
“Bercanda sedikit, Ayah.. lagipula kita juga belum membuat pasukan pribadi. Semua pasukan yang kita punya masih milik pasukan kerajaan. Oh, ngomong-ngomong bagaimana kita menggunakan mayat naga-naga ini? bukankah kulit mereka cukup berharga untuk membuat armor?”
“Untuk naga normal mereka berharga namun untuk naga-naga kecil sangat tidak berguna. Kita simpan saja, siapa tahu di lain waktu akan berguna. Berjaga-jaga itu perlu, Karl!”
“Yah, kita kembali pulang saja sekarang. Masalah ini juga sudah beres sepertinya.”
Dengan kesepakatan yang berjalan satu arah, kami sepakat untuk kembali pulang. Dari kejauhan tampak Sebastian tengah memimpin beberapa petualang untuk menjaga kediaman kami.
Kendaraan kami bergerak menembus mereka. Bentuk dan kecepatan kendaraan ini sedikit memancing rasa penasaran mereka dan mengamati kendaraan ini dari jauh.
Aku jadi terpikirkan satu hal.
“Hey, Ayah, bagaimana menurut mu dengan kita mendidik ulang pasukan kita?”
“Bukankah itu sudah masuk ke dalam rencana mu?”
“Well, maksud ku. Bagaimana jika kita mengadopsi anak yatim-piatu dan mengajari mereka dengan teknik militer yang baru? Kendaraan dan senjara ini adalah hal baru di dunia ini kan? Aku tidak ingin orang-orang yang tidak dipercaya menggunakannya. Setidaknya, mendidik mereka dan mengajarkan kesetiaan layak dicoba.”
“Ide mu layak dicoba, kapan kau akan memulainya?”
“Yah, setelah masalah ini selesai.”
“Jika kau butuh tambahan uang, datang saja ke kantor Ayah.. Oh! Satu hal lagi! Jika kau ingin membangun kendaraan lagi.. aku akan menyerahkan orang-orang itu padamu.”
“Oh.. O-Oke” aku sedikit ragu saat mendengarnya. Melihat kenangan dimana mereka bekerja mati-matian dengan pisau di leher mereka kembali masuk ke ingatan ku.
Memaksa seseorang bukan hobi ku, tapi itu layak dicoba.
[...]