
Sebuah rumor berkembang di kalangan prajurit kerajaan. Rumor mengenai pengubahan susunan militer milik Duke Flora beredar luas. Diantara rumor itu mengatakan bahwa Duke Flora membantai habis naga-naga yang menginvasi wilayahnya dengan menggunakan pasukan yang masih dilatihnya.
Karena rumor yang beredar itu, sebuah pertemuan penting militer kerajaan di selengarakan. Pertemuan itu membahas tindakan Duke Flora yang menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap pihak kerajaan.
Tanpa mereka sadari, sepertinya mereka telah mengusik singa yang sedang tertidur.
“Jendral Havoc! Kenapa anda diam saja! Kenapa informasi sepenting ini tidak dilaporkan kepada Raja!”
Sebenarnya tidak ada yang disini, mereka hanya menerima rumor yang tidak diketahui kebenarannya namun merchant-merchant yang datang ke wilayah Duke Flora kembali membawa sisik naga maka mereka mulai mempercayai rumor yang beredar itu.
Sungguh profesional sekali bukan?
“Tenang dulu! Apa kau tidak paham mengenai situasi saat ini?”
“Apa yang kau bicarakan! Jelas-jelas tindakan Duke Flora merusak rantai militer! Bagaimana bisa dia membangun ulang tempat tinggalnya setelah melatih militer rahasianya!”
“Jendral Malari! Perhatikan tingkah laku mu di depan Raja!” sanggah Jendral Havoc.
Pertengkaran kedua Jendral itu bagaikan anak-anak yang saling berebut permen. Padahal, Raja mereka saat ini sedang menahan keringat dinginnya. Kejadian seperti ini merupakan kelalaiannya untuk mengatur tingkah laku anaknya.
Di pikirannya hanya ada satu alasan kenapa Duke Flora mampu melakukan semua itu. Diantara Raja dan Duke hanya terpisah satu dinding kecil. Baik dari segi kekuatan dan keuangan mereka hanya berjarak satu langkah saja.
Bisa saja dia menarik semua pasukan kerajaan yang ada di wilayah Duke Flora tapi apa yang akan dilakukan Duke Flora setelah itu?
Membatasi kekuasaan mereka?
Menurunkan tingkat bangsawan mereka?
Memberi sanksi tegas?
Tapi untuk alasan apa? Semua ini dilakukan karena pihak kerajaan telah melanggar aturan mereka sendiri. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan dilakukan Duke Flora selanjutnya.
Pembataian naga? Harusnya itu bukan masalah besar karena kekuatan Duke Flora sendiri bagaikan satu divisi penuh pasukan kerajaan.
Raja hanya ingin masalah ini selesai tanpa adanya campur tangan pihak lain.
Berkas tebal itu sampai ke tangan Raja. Sang Raja menaruh perhatian penuhnya pada berkas itu dan keringat dingin mulai muncul di kepalanya.
“I-ini? bagaimana mungkin?” bantah sang Raja.
Isi berkas yang ada di dalam sebenarnya bukan hal yang cukup penting. Hanya saja, Duke Flora mulai tertutup untuk umum. Ia mengirim semua pasukan kerajaan yang tersisa di wilayahnya untuk pulang ke ibukota kerajaan lalu membentuk pasukan mereka sendiri. Tindakan yang begitu berani terutama setelah insiden pembantaian naga.
“Sudah jelas ini upaya pengkhianatan!”
“Tenang dulu! Kita tahu jika Duke Flora tidak sebodoh ini melawan kerajaan. Terutama setelah mereka menghabiskan uang mereka untuk membangun tempat tinggal mereka dan membelah tanah untuk menjadi sungai.”
“Raja! Tolong beri keputusan mu.. Jendral mu ini akan segera menuntaskan masalah ini. Duri kerajaan harus di singkirkan segera!”
“Jendral Malari! Dimana sopan-santun mu! Perhatikan tingkah mu dihadapan Raja!”
“Diam kau pecundang! Aku tahu hubungan mu dengan Duke Flora! Jangan coba-coba membelanya kali ini! pengkhianat harus dibunuh! Tanpa persetujuan Raja pun aku akan memburu Duke Flora!”
“Itu pengkhianat juga namanya! Membantah perintah Raja juga pelanggaran!”
Di hari itu, sebuah pasukan besar bergerak menuju wilayah Duke Flora. Pasukan yang berjumlah 500.000 ribu itu berjalan membentuk badai pasir disetiap langkah mereka.
Hingga mereka mendekati wilayah Duke Flora, sebuah pemandangan mengejutkan ada di hadapan mereka.
Sebuah suara yang menggema terdengar di telinga mereka.
“Ekhem! Semuanya! Mohon Perhatiannya!”
“Saat ini wilayah Duke Flora memasuki zona latihan perang dan di hadapan kalian adalah target latihan kalian saat ini.”
“Nah, kita sudah memulangkan mereka kan Onii-sama? Memulangkan mereka kembali menjadi mayat bukanlah masalah kan?”
[...]