My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!

My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!
Chapter 47 - Sifat Kekanakan Mama



Seseorang pernah berkata kepada ku, “Jika kau ingin bertarung maka menyeranglah dan jika kau ingin bertahan maka buatlah benteng!”


Kenapa aku teringat dengan perkataan itu?


Ini terjadi setelah surat peringatan yang kedua datang dari kerajaan damai tetangga kita yaitu Kerajaan Abzien.


Tentu saja kami telah membalas surat itu dan mengatakan status kami. Tapi apa yang terjadi? Mereka menghiraukannya.


Jadi, situasi kami pun berubah menjadi pihak ketiga yang terseret dalam peperangan ini. Bahkan setelah kami keluar dari status kebangsawanan Kerajaan Flora, mereka masih saja mengundang masalah untuk keluarga ini.


“Fuu~ Fufu~ Fuuufuuu~”


Kalian tidak mengerti kan? Kenapa aku mempermasalahkan perang ini?


Ini karena! Ibu kami bersikeras untuk terjun di dalamnya. Dia bahkan telah memasok bahan makanan di dalam Remi-class. Karena kejadian ini, Ayah kami sedikit khawatir dengan perubahan Ibu kami. Sebisa mungkin, Ayah kami berusaha untuk menghindari peperangan yang tidak masuk akal.


Keamanan di dalam unit Remi-class bukanlah masalah, hanya saja.. itu akan menjadi masalah jika teknologi kami mencuri perhatian kerajaan tetangga.


Kecuali jika kami bisa menyerangnya dengan kejutan.


Kejutan?


Aku rasa.. kami memiliki benda yang cocok untuk itu. Walaupun benda itu digunakan untuk menerjunkan mayat sebelumnya. Tapi.. untuk yang satu ini, kurasa jauh lebih aman daripada menggunakan unit Remi-class.


Remi-class sangat berbahaya, karena sifat naturalnya untuk mengubah seseorang memiliki hobi baru yang aneh. Ah.. aku jadi ingin merasakan sensasi itu kembali. Sensasi ketika menembakkan peluru dari senapan mesin yang menggetarkan jiwa.


“Fuuu~ Fuuufufuu~ Fuuuu~”


“Em, Mama.. mau sampai kapan kau ada di situ?” aku memanggil Ibu kami yang berada di dalam unit Remi-class.


Berbeda dengan posisi sebelumnya yang berada di kursi belakang, kali ini ia menempati posisi sebagai penembak.


“Fufufu.. mari kita hancurkan orang-orang bodoh ini! jangan anggap remeh kekuatan Duke Flora.”


“Untuk catatan kecil, kita tidak memiliki status bangsawan lagi.”


“Ah! Benar juga, aku hampir lupa tentang itu. Jadi, kita menyebut diri kita apa?”


Pertanyaan itu ada benarnya, dulu kami dikenal sebagai keluarga Duke Flora. Namun, itu sudah tidak berlaku lagi. Kami membutuhkan nama baru untuk keluarga baru. Sistem penamaan keluarga kami sebelumnya mengikuti aturan nama keluarga kerajaan.


Nah.. inilah masalahanya. Kita tidak memiliki nama cadangan dan aku terlalu kaku untuk memikirkan sebuah nama.


“Yah, kita bisa membahasnya nanti. Sekarang.. tolong turun dulu, Mama.”


“Gak mau! Mama mau perang.. perang... peraaaaang!!!”


“Tolong jangan bersikap seperti anak kecil, Mama! Jika ingin ikut dalam perang, kita bisa memikirkan strateginya dulu.”


“Gak mau, pasti Karl akan menempatkan Mama di garis belakang kan?”


“Uguh!”


“Tuh kan! Kelihatan jelas!”


“Oh.. Mama ku tersayang, anak macam apa yang mengirim ibu mereka ke garis depan medan perang? Aku tidak cukup gila dengan strategi seperti itu.”


“Moooo~ bahkan Karl mengirim Chiyuki untuk bersenang-senang sendirian.”


“Ah, itu lain lagi masalahnya.”


“Tuh kan! Mama juga ingin bersenang-senang.”


“Kuh! Apa boleh buat. Bagaimana jika menghancurkan komando utama Kerajaan Abzien?”


Untuk pertama kalinya aku menyerah pada sifat kekanakan Ibu kami. Setidaknya, aku telah memikirkan cara yang aman untuknya berada di garis terdepan namun tak tersentuh.


“Benarkah?” ucap Ibu kami dengan memelas.


“Benarkan? Benarkah?”


“Benarkah? Benarkah? Benarkah?”


“Cukup, Mama! Jika dilanjut maka akan ku tarik kembali kata-kata ku” mendengar pertanyaan penuh semangat itu pun membuat hati ku ikut memelas.


“Jiiiiii~” kali ini Ibu ku menatap tajam ke arah ku.


“Janji?” selanjutnya ia mengulurkan jari kelingkingnya.


“Y-Ya, janji” balas ku sembari menarik ikatan jari kelingkingnya.


“Jangan bohong!” ucap Ibu kami dengan nada tinggi.


“Kapan aku berbohong ke Mama?”


“Benar juga sih, Karl adalah anak yang jujur dan menjadi kebanggaan Mama.”


Yah, aku akhirnya bisa sedikit meyakinkan Mama untuk keluar dari unit Remi-class. Sebenarnya, unit Remi-class ini dipersiapkan untuk melakukan patroli rutin dan memasang jebakan di sekitar wilayah kami. Namun, rencana itu sedikit terlambat karena tingkah Ibu kami.


Demi menjawab rasa keadilan akan kontribusinya di keluarga ini, aku membawa Ibu kami menaiki pesawat AC-130 dan menerbangkannya di atas langit-langit pasukan Kerajaan Abzien.


Membawanya bersenang-senang di atas langit telah memenuhi janji ku untuk membawanya ke garis depan peperangan. Dari atas langit sore ini, kami bisa melihat pasukan Kerajaan Flora sedikit kesulitan melawan pasukan Kerajaan Abzien.


Aku sedikit mengerti kenapa mereka percaya diri dengan surat ancaman itu.


Tapi..


Hari ini, keberuntungan mereka akan berakhir.


“Mama.. kau sudah siap?”


Mendengar pertanyaan ku, Ibu kami yang sedari tadi berada di bagian operator penembakan pun tersenyum. Ia memberi sinyal mengenai persiapan yang telah selesai.


AC-130 Gunship bukanlah pesawat biasa, dia dikenal sebagai “Angel of Death”.


Pertanyaan kecil tentang pesawat ini pun bermunculan.


Apa yang kalian bayangkan jika sebuah pesawat dapat mengangkut meriam, howitzer, dan senapan mesin berbagai kaliber secara bersamaan?


Atau sebuah pesawat yang mengangkut berbagai macam bom, hulu ledak kendali, dan kemampuan untuk menebar teror dari udara ke daratan?


Aku tidak bisa membayangkannya, apalagi..


Yang memegang kendali itu adalah Ibu kami.


Saat ini, aku hanya bisa berharap perang tidak penting ini berakhir dan membuat Ibu kami kembali normal.


Itu yang aku harapkan, sebelum... aku mendengar suara tawa mengerikan di belakang kami.


“Dosa kalian memang tidak bisa di maafkan, tapi membawa kalian untuk menebus dosa kalian di hadapan Tuhan adalah kewajiban utama kami, FUHAHAHA!!”


Em, apa ini artinya hanya aku saja yang normal di keluarga ini?


[...]