
Bagian singasana Kerajaan Flora tampak berbeda. Deretan bangku dan kursi di susun saling berjejeran. Bahkan, rakyat jelata pun sibuk mempersipkan bangku untuk ikut menyaksikan persidangan dari kejauhan.
Dari ruang pribadi Raja, sang Raja dalam kondisi terburuknya. Ia mengingat pertemanan baiknya dengan Duke Flora, sahabat masa kecil sekaligus teman curhat selama belajar di akademi kerajaan. Dengan kejadian ini, hubungan mereka tampak lebih renggang dari sebelumnya. Sang Raja merasa bersalah atas insiden ini, saat pertemuan dengan Jendralnya, ia merasa sangat bersalah saat memasukan Duke Flora sebagai pengkhianat kerajaan. Namun, semua itu berubah setelah Duke Flora membunuh salah satu Jendral perangnya dan membiarkan pasukannya kembali ke kerajaan.
Membiarkan sisa pasukan untuk mundur dan memotong pasokan makanan. Dua kejadian itu menandakan satu hal, Duke Flora sedang marah pada dirinya. Ini merupakan masalah yang besar jika Duke Flora benar-benar menjadi seorang pengkhianat kerajaan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi firasatnya mengatakan jika itu akan menjadi masalah besar.
Ketukan kecil terdengar, seorang ajudan Raja pun masuk dan memberi sebuah kabar kecil.
"Yang Mulia, Duke Flora telah tiba dan tampaknya dia membawa pasukan kecilnya. Apa yang akan kita lakukan?" tanya sang ajudan.
"Tentu saja menjamunya, apa lagi yang bisa di lakukan? kerusakan material kita lebih banyak daripada korban jiwa. Apa kau tidak tahu situasi kita saat ini?" ungkapan kekesalan Raja terdengar nyaring. Sang Raja sangat terpukul dengan keadaan kerajaannya.
Beberapa pemberontak dari rakyat bisa saja terjadi, jika mereka tahu kondisi kerajaan saat ini. Pasokan makanan mereka hanya bisa bertahan untuk tiga bulan dan mereka harus segera membelinya dari kerajaan tetangga.
Masalahnya adalah.. apakah Duke Flora akan membiarkan mereka melakukannya? Sang Raja sangat mengetahui apa yang akan dilakukannya. Karena, Duke Flora adalah murid terbaik dari akademi militer kerajaan dan itu dibuktikan dengan mengembalikan pasukan kerajaan lalu memukul mundur mereka.
Kabar ini pun beredar luas ke rakyat Kerajaan Flora, dimana mereka sangat terpukau dengan keberanian Duke Flora.
Sang Raja segera menuju ke singgasananya dan menyambut kedatangan Duke Flora.
Tepat di depan pintu masuk istana kerajaan, tampak sebuah kendaraan yang terbuat dari besi menarik perhatian beberapa prajurit kerajaan. Di badan besi itu terdapat simbol Duke Flora dan mereka mengerti apa yang ada di dalamnya.
Prajurit yang berjaga pun menghentikan mereka sembari menunggu perintah dari atasan mereka. Belum sempat perintah diturunkan, kendaraan itu pergi meninggalkan pintu gerbang istana kerajaan.
Sang Raja yang mendengar kabar ini pun panik dan memerintahkan untuk kembali menemui Duke Flora.
Satu hal yang pasti, sang Raja bergetar ketakutan setelah mengetahui kabar ini. Saat itu juga, sebuah burung yang membawa surat di kakinya mendatangi sang Raja. Burung itu pun duduk di tangan Raja.
Menyadari pesan itu ditujukan kepada dirinya, Sang Raja segera membaca isi pesan tersebut. Seketika itu, sang Raja berteriak dan panik.
"Pasukan! Bawa pasukan kemari!" ucap sang Raja dengan panik.
Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh datang dari langit. Sebuah benda seperti sekawanan burung besar datang mendekati istanan kerajaan. Burung itu seperti memuntahkan sesuatu di bagian belakangnya dan menjatuhi sebuah benda berwarna merah.
Sang Raja yang menyaksikan ini dikejutkan oleh sebuah bendera yang berkibar turun dari langit. Itu adalah bendera Kerajaan Flora dan sang Raja tiba-tiba pingsan.
Saat sang Raja pingsan, surat yang ada di tangannya turun dan memberikan jawaban atas apa yang akan mereka lihat kala itu.
"Aku dengan senang hati menerima undangan mu tapi kau masih menghadang ku? Jangan salah kan aku jika pasukan mu kembali dalam kondisi terburuknya."
Di hari itu, sisa pasukan kerajaan yang datang menyerang wilayah Duke Flora kembali dalam kondisi mengenaskan. Potongan tubuh mereka tersebar di ibukota Kerajaan Flora.
Dari kejauhan, Chiyuki yang merencanakan kejutan ini terus bersenandung bahagia.
"Onii-sama, tampaknya mereka sangat senang dengan kejutan ini."
Di sampingnya, Karl berdiri sembari memeluk Chiyuki dari belakang.
"Ahahaha.. tampaknya mereka menyukainya" jawab Karl sembari tersenyum paksa.
"Yah, mimpi buruk ku untuk malam ini bertambah tampaknya..."
"Chiyuki, kenapa kau kepikiran dengan cara ini sih?" tanya Karl.
"Eng? bukankah mereka hanya menjadi beban pasokan keamanan setelah kembali?" jawab Chiyuki dengan polosnya.
"Iya sih, tapi..." Karl yang merasa kasihan ini pun terpaksa menutup hatinya setelah melihat senyum menawan Chiyuki.
[...]