
Pemandangan yang cukup mengerikan ada di depan ku.
Setelah sihir pelindung Kerajaan Abzien runtuh, mayat-mayat hidup yang berkeliaran di sekitar tembok Kerajaan Abzien mulai mengamuk. Gerakan mereka terlihat sangat kaku. Berkat bantuan mereka, kami berhasil menyelinap masuk ke Kerajaan Abzien melewati gerbang utama.
Prajurit Kerajaan Abzien sangat panik dengan serangan tiba-tiba ini. Bahkan pasukan penyihir dari Kerajaan Abzien hanya bisa berdiam diri saat sihir mereka tidak aktif.
Yang benar saja!
Apa kalian tidak mempelajari tentang kejadian aneh yang telah terjadi di Kerajaan Flora?
Apa kalian tidak berpikir jika menghilangnya jaringan sihir di Kerajaan Flora itu karena ada campur tangan pihak lain?
Sepertinya.. Kerajaan Abzien sangat lemah seperti Kerajaan Flora.
Mungkinkah.. semua kerajaan yang berdiri di sekitar kami itu lemah dan hanya mengandalkan jumlah untuk mengukur kekuatan tempur mereka?
Jika itu benar, wilayah kami bisa menjadi kerajaan baru dengan kekuatan tempur yang melebihi mereka.
Itu karena.. aku menyimpan hulu ledak nuklir yang tersembunyi. Dengan kekuatan hulu ledak nuklir artinya kekuatan tempur dari wilayah kami sangat tinggi, bukan?
Kami berjalan-jalan kecil di jalan utama Kerajaan Abzien. Pemandangan kami di isi dengan mayat-mayat yang bergerak bebas. Diantara mereka bahkan mengincar kami tapi berhasil di halau oleh Chiyuki dan Mercedes.
Pertanyaan yang muncul di kepala ku adalah.. kenapa mereka masih bisa bergerak?
Saat serangan mayat hidup di Kerajaan Flora, menghapus jaringan sihir membuat mereka tumbang kan?
Itu artinya sumber sihir Kerajaan Abzien tidak terhapus sempurna. Tujuan ku hanyalah menghancurkan sihir pelindung mereka. Tapi, kami malah dibuat repot dengan serangan mayat hidup.
Setidaknya, kami dan Kerajaan Abzien dalam keadaan yang sama.
Melihat situasi yang semakin kacau, aku sedikit melirik Chiyuki.
Dia hanya tersenyum dan menahan tubuhnya yang bergetar menahan kegembiraan saat melihat penderitaan orang lain.
“Chiyuki.. hanya mengingatkan saja.. jangan terbawa suasana. Target utama kita adalah Saintess!” ucap ku sembari mengingatkan Chiyuki.
“Aku mengerti.. tapi.. boleh sedikit saja, Onii-sama?” permintaan Chiyuki terdengar sangat mendesak. Itu seperti menahan gejolaknya yang semakin menumpuk.
“Hanya sedikit saja loh..” tanpa mendengar kata-kata ku yang belum sempat terucap. Chiyuki berlari menerjang mayat-mayat hidup.
Dalam sekejap.. serangan yang dilakukan Chiyuki seperti membuka jalan kepada ku. Mayat-mayat yang berada di jalan utama Kerajaan Abzien terbelah menjadi dua. Pemandangan seperti lautan mayat yang terbelah memasuki mata ku.
Dengan senyum di wajahnya, Chiyuki mengayunkan pedang miliknya. Tawa kecil dari Chiyuki pun terdengar.
Mendengar tawa kecil Chiyuki, aku teringat betapa spesialnya adik imut ku yang satu ini. Melihat dirinya yang seperti ini menjadi jaminan jika itu adalah sifat alami Chiyuki.
Sial! Hampir saja aku lupa dengan sifatnya yang satu ini.
Hidup dalam kedamaian membuat ku hampir melupakannya. Tapi.. dengan insiden kecil ini. Ingatan tentang adik imut ku kembali terukir dengan jelas.
“Master Karl.. boleh aku membantu Chiyuki-sama?” Mercedes yang berdiri di samping ku pun ingin beraksi.
“Silahkan saja.. tapi..” sama seperti Chiyuki. Mercedes bergerak cepat menerjang mayat-mayat hidup dengan senjata di tangannya.
Aku sedikit menyadari sesuatu..
Mayat-mayat hidup itu tumbang saat mendekati bagian terdalam Kerajaan Abzien.
Sepertinya.. paket exclusive ku ada di dalam sana dan mayat-mayat hidup itu bergerak acak mendekatinya.
Akan merepotkan jika kerajaan lain tahu, jika kami memiliki alat yang bisa menghapus sihir.
Well.. itu bukan masalah jika kami memperbesar efeknya kan?
Dengan ini.. aku memperbesar efek penghapusan sihir hingga melebihi Kerajaan Abzien.
Tiba-tiba saja, mayat-mayat hidup itu menjadi mayat mati untuk kedua kalinya.
“Eh? Onii-sama!!” melihat reaksi mayat yang tiba-tiba berjatuhan. Chiyuki menatap ku.
Dengan ekspresi cemberutnya, dia menatap ku.
Apa ini.. kenapa adik ku terlihat sangat lucu.
“Jangan buang waktu lebih lama lagi!” ucap ku.
Mendengar jawaban ku, Chiyuki membuang mukanya sembari berkata, “Hmph! Onii-sama Baka!”
[...]