My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!

My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!
Chapter 92 - Altar Kuil



Kepanikan massal yang melanda Kerajaan Abzien membuka pintu peluang untuk kami. Bagian pintu utama kuil terbuka lebar. Aku akan menganggap itu adalah undangan untuk kami. Altar utama mereka telah dipenuhi oleh pengungsi dan pengurus kuil sedikit panik mengatasinya.


Aku, Chiyuki, dan Mercedes memasuki pintu utama kuil sembari membawa senjata lengkap.


Well.. senjata lengkap yang kami bawa sangat sederhana. Chiyuki dengan pedang tercintanya, Mercedes dengan senjata api laras panjang AR-15, dan aku yang membawa senjata ringan Kriss Vector.


“Permisi, apa kau tahu di mana Saintess berada?” tanpa banyak membuang waktu. Aku langsung menanyakan tujuan utama kami kepada salah satu pengurus kuil.


“Saintess saat ini berada di kerajaan lain” jawab pengurus kuil.


“Aku tidak membicarakan Saintess yang itu melainkan Saintess yang satunya lagi” mendengar jawaban ku, sang pengurus kuil mengambil pisau yang terselip di ikat pinggangnya.


Melihat kejadian yang terjadi secara cepat itu, Chiyuki menghalangi tubuh ku dengan pedang miliknya. Gerakan itu sangat cepat dan tepat sasaran. Walau pun Kerajaan Abizen tidak di aliri jaringan sihir tapi kemampuan bertempur seseorang tidak menghilang.


Aku sedikit meremehkan kemampuan pengurus kuil.


Tanpa sadar, cipratan berwarna merah membasahi pipi ku. Dalam keadaan panik kecil ku, Chiyuki berhasil membunuh pengurus kuil di depan ku. Melihat perlengkapan pisau kecil yang melekat di badannya, mereka sepertinya pembunuh yang ditugaskan di dalam kuil dan menyamar sebagai pengurus kuil.


Antisipasi mereka boleh juga.


“Mercedes.. ijin menggunakan senjata telah di setujui.”


Mendengar keputusan ku, Mercedes yang menahan dirinya untuk menembak bebas tiba-tiba tersenyum.


“Siap, Master Karl! Mercedes siap bertugas!” sebuah bunyi dari pin pengaman senjata yang terlepas pun terdengar.


Aku melakukan hal yang sama, melepas pin pengaman Kriss Vector.


“Target kali ini adalah tubuh Saintess, selain seseorang yang menghalangi kita, kalian boleh mengamankan mereka-”


Tanpa mendengarkan perkataan ku yang belum sempat selesai. Mercedes mengeluarkan serangan pertamanya ke langit-langit altar kuil. Seseorang yang mengenakan jubah hitam ada di atas kami, tanpa perlawanan khusus.. mereka terjatuh dengan tubuh penuh luka.


Aku membantu Mercedes dengan menembaki kepala mereka.


Well.. kau tahu.. hanya untuk memastikan mereka mati.


Ya.. aku ingin memastikan mereka mati saja. Akan repot jika mereka berhasil bertahan hidup.


Kegaduhan yang kami ciptakan di altar kuil membuat kepanikan tersendiri. Biasanya, orang-orang yang pertama kali mendengar suara tembakan akan panik dan berlari keluar. Tapi, reaksi yang ku dapat sangat berbeda. Mereka tertunduk dan terlihat pasrah dengan keadaan.


“Chiyuki.. jangan terlalu bersemangat!” aku perlu mengatakan ini karena di depan kami terdapat barisan prajurit Kerajaan Abzien yang menjaga pintu masuk bagian terdalam kuil.


Melihat perlengkapan mereka yang mengenakan armor yang tebal. Rasa kecurigaan ku semakin kuat.


Sang Saintess ada di kuil ini!


“Onii-sama, bukan kah itu terlalu sedikit?” balas Chiyuki yang bersiap-siap menyerang dengan pedangnya.


“20 detik!” aku menemukan peluru yang ku cari dan memasukkannya pada Kriss Vector.


“Kenapa semakin berkurang?!” Chiyuki berlari kecil ke arah penjaga di depan kami.


“10 detik!” aku telah selesai mengisi ulang Kriss Vector dengan peluru penembus baja.


“Onii-sama curang!!” dengan gerakan yang lincah. Chiyuki mengayunkan pedangnya ke sela-sela armor kepala mereka.


Armor yang menutupi seluruh tubuh sangat tebal dan berat tapi ada kelemahan di dalamnya. Di antaranya adalah area pergerakan tubuh seperti leher, paha, dan tangan.


Pedang Chiyuki bergerak seperti mentega yang memotong kertas.


Kenapa? Terdengar terbalik?


Ya.. itu karena..


Uh.. bagaimana untuk menjelaskannya. Chiyuki menusuk di leher mereka dan memutar pedangnya sehingga kerusakan yang diberikan sangat besar.


Itu seperti kau di tusuk menggunakan pisau lalu pisau itu berputar di dalam tubuh mu.


Gerakan itu lah yang dilakukan Chiyuki. Pemandangan yang indah ini menciptakan pantulan cahaya pelangi yang berasal dari genangan darah dan pantulan cahaya lilin di sekitar altar.


Chiyuki melakukan gerakan itu berulang kali, tidak ada di antara mereka yang berhasil menghindarinya.


Dan.. yang ku lakukan hanyalah menyaksikan pemandangan mengerikan ini.


Suara ketakutan ada di belakang ku. Bahkan di antara mereka ada yang mengucapkan kata-kata terlarang bagi ku.


“M-Mo-Monsteeer!!”


Mendengar adik manis ku yang di juluki monster, aku tanpa sengaja mengirim peluru panas ke kepalanya.


“Jaga mulut mu!” ucapan ku yang dingin dan mengintimidasi membuat orang-orang yang ada di belakang ku terdiam.


Mungkin.. aku sedikit berlebihan tapi jika menyangkut harga diri adik ku.


Aku pastikan untuk membalasnya.


[...]