My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!

My Little Sister Cute Outside, But Yandere Inside!
Chapter 42 - Dewi Kematian



Di malam yang hangat ini, aku terpana melihat keindahan Ibukota Kerajaan Flora.


Sosok Dewi telah turun dari langit.


Lebih tepatnya, seorang Dewi Kematian turun dari langit. Aku tidak bercanda untuk satu hal ini, karena...


Itu adalah Chiyuki yang sedang mengamuk di atas sana!


Bagaimana situasi ini terjadi?


Well.. kita akan mundur dan mengingat kembali tentang kejadian pagi hari.


Seperti biasa, aku dan Chiyuki sedang bersantai menikmati indahnya pagi hari. Rutinitas melepas pelukan Chiyuki sudah menjadi kebiasaan dalam hidup ku. Yah, melepas pelukan dari seorang adik itu mudah, tapi untuk melepasnya tanpa kehilangan nyawa sudah menjadi level yang berbeda kan?


Setiap hari!


Aku hampir mati dalam tidur nyenyak ku.


Masalah itu timbul ketika kami mendapat undangan untuk kedua kalinya. Undangan itu berasal dari pihak kerajaan yang dengan tulus dan memohon untuk menghentikan serangan Duke Flora ke pihak kerajaan.


Kali ini, mereka membawa pasukan khusus untuk mengawal Duke Flora. Sepertinya mereka belajar atas kesalahan mereka tempo hari yang tidak sengaja mengusir kami.


Well, sebenarnya keluarga kami sangat benci untuk menunggu dan secara kebetulan nasib perang antara kita dan pihak kerajaan belum mencapai titik terang.


Tidak ada salahnya memberi mereka dorong kecil kan?


Yep, seperti menabur mayat layaknya menabur biji-bijian ke unggas.


Tindakan kami sebenarnya masuk ke dalam istilah “Disrespect to Death”, tapi...


Siapa juga yang peduli dengan nyawa bandit? Well.. setidaknya kami melakukan improvisasi kecil dengan mengenakan armor pasukan kerajaan pada tubuh mayat bandit.


Dan hasilnya? Well.. sedikit masalah kecil bermunculan tapi.. itu bukan urusan kami. Itu adalah masalah untuk pihak kerajaan. Yah, terkadang ide jenius Chiyuki sedikit berbahaya tapi efektif.


Setelah membaca surat dari pihak kerajaan, aku tidak tahu seberapa banyak kata-kata di dalamnya, tapi surat itu dibawa bersamaan dengan surat lainnya. Mereka masuk ke dalam ruangan khusus kami, dimana Mercedes, Chiyuki, dan aku menguping pembicaraan mereka.


Hal yang mengejutkan adalah..


Ayah kami tampak tidak peduli dengan utusan kerajaan dan terus mendesak untuk keluar dari sistem bangsawan Kerajaan Flora. Bahkan, dia mengancam akan membunuh mereka jika terus memaksa menghadiri persidangan kerajaan.


Ayah kami tidak selunak itu, walaupun kalian memohon sembari membanjiri air mata kalian dengan darah. Dia akan tetap pada pendiriannya, aku sedikit penasaran darimana sifat keras kepalanya itu. Tapi, saat berhadapan dengan pihak kerajaan. Dia sangat menikmati proses itu hingga ke akarnya.


Dia hanya memberi satu syarat untuk bisa menghadiri persidangan tersebut. Dia menuntut untuk menyerahkan hak ekslusif Duke Flora yang telah lama direbut oleh pihak kerajaan.


Hak Ekslusif itu hanyalah kewenangan mengeksekusi pihak kerajaan jika dirasa melanggar sumpahnya sebagai Raja, termasuk bangsawan mereka yang melakukan tindakan di luar aturan.


Melihat kondisi Kerajaan Flora yang rusak ini, Hak Ekslusif ini sangat mengiurkan, terutama oleh Chiyuki yang sangat senang dengan berita ini.


Aku bisa melihat dengan jelas, senyuman manis seorang gadis polos yang sedang mengasah pisau. Kesampingkan itu, bahkan anak-anak serigala kami pun memiliki reaksi yang sama. Layaknya predator yang bersiap berburu, mereka dengan hati-hati mempersiapkan senjata kecil mereka.


Uh, senjata itu kecil tapi terasa menyakitkan. Hanya sebuah crossbow dengan anak panah kecil.. namun bisa meledak.


Yah.. kalian bisa tahu itu salah siapa.


Mengajari mereka untuk membuat bom kecil adalah kesalahan terbesar ku. Tapi, mereka bisa menemukan inovasi baru dengan menambahkan peledak di anak panah.


Dalam urusan efisiensi membunuh tentu saja.


Singkat cerita, kami tiba-tiba sepakat dengan urusan persidangan ini. Entah kenapa, pihak utusan kerajaan keluar dalam kondisi lelah fisik dan mental. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas perbincangan mereka, karena predator-predator ini sibuk mempersiapkan taring mereka.


Saat hari menjelang malam, kami bergegas menuju Ibukota Kerajaan Flora sekali lagi. Hanya untuk menuntaskan masalah kecil ini.


Saat kami tiba di pintu masuk Kerajaan Flora, suasana terlihat sedikit heboh.


Dari luar, kami bisa mendengar teriakan, suara ampunan yang disusul teriakan, dan.. gemuruh asap tebal yang membumbung tinggi.


“Apa ini? pesta?” canda Ayah kami untuk memecah suasana.


“Pestaaaaa!!!” balas Chiyuki dengan riang gembira.


Untuk suatu alasan..


Aku merasakan aura buruk tentang ini.


Tatapan Chiyuki beralih ke senapan mesin kendaraan kami.


Oh, yeah! Tentu saja! Aku paham dengan tatapan itu.


“Chiyuki?” aku sedikit memanggilnya untuk mengalihkan pandangannya pada benda berbahaya itu. Aku saja bisa ketagihan, apalagi dengan Chiyuki kan?


“Emm.. ada apa Onii-sama?” balas Chiyuki yang sedang tersenyum.


Berbeda dengan senyuman yang biasa ku lihat, senyuman ini berisi kaldu dan racun.


Senyuman lembut yang dibalut kehangatan tentang kematian yang nikmat.


Di balik mata merahnya itu, sosok Dewi yang turun langit ini menghiasi pandangan mata ku.


“Onii-sama, bukankah kita harus membantu orang-orang kesusahan ini?”


“Bukankah menyakitkan jika mereka mendapat luka seperti itu?”


Mendengar perkataan Chiyuki, aku melirik seseorang yang sedang tertimpa batu besar. Kondisinya begitu mengenaskan dengan kaki yang remuk tertimpa batu besar.


Errr.. bagaimana caranya?


Siapa juga yang bisa melempar batu seperti itu?


Namun, jawaban itu ada di depan ku. Sosok golem yang berbalut api memasuki pandangan ku.


“Onii-sama...” Chiyuki kini memandang ku.


Sosoknya yang bagaikan Dewi Kematian ini pun terekam jelas di ingatan ku. Dia hanya ingin mengurangi penderitaan mereka, jadi apa salahnya?


“Chiyuki... mari kita tolong orang-orang ini.”


Mendengar balasan dari ku, Chiyuki tersenyum riang dan bersenandung riang.


[...]