
“Sepertinya mereka dalam bahaya” ucap Ivan sembari menatap layar monitor.
“Bukan kah mereka sudah dalam bahaya? Jika tidak salah, sudah ada tiga orang yang mati kan?” jawab Selena.
Karena tugas yang diberikan oleh Karl, mereka berdua sibuk mengamati simulasi mata-mata dan merespon setiap keadaan darurat.
“Seperti biasa, Master Karl bertindak di luar kendali. Hanya karena dia sudah tidak butuh mata-mata musuh, dia membuang mereka di simulasi ini!” gerutu Ivan.
“Jaga bicara mu, Ivan! Benda yang tidak berguna kenapa harus di simpan? Bukan kah ini ide mu untuk menerima mata-mata kerajaan lain di Akademi?”
“Itu ide ku sih, tapi.. tidak ku sangka akan berakhir seperti ini. Kita tahu jika Kerajaan Abzien menguasai ilmu sesat tentang perpindahan jiwa. Dengan ilmu sehebat itu.. kenapa berakhir seperti ini?”
“Pada akhirnya, itu memberi ide tentang kematian palsu yang sempurna kan?”
“Aku tidak tahu jika Master Karl mempunyai ide semacam ini. Inspirasi bisa datang dari mana saja rupanya” puji Ivan.
Ruang komando taktis terdiri dari berbagai unit mata-mata. Di antara mereka, Ivan dan Selena memiliki kedudukan yang paling tinggi. Memegang tanggung jawab setinggi itu membutuhkan kerja keras dan kesetiaan yang tinggi. Tanpa Karl ketahui, mereka terlalu bekerja keras di belakang layar.
Contohnya Ivan, dia telah menanam agen sleeper di setiap kerajaan dan akan aktif saat mata-mata tertangkap. Tentu saja, mempersiapkan agen sleeper membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Melatih mereka untuk bertindak saat keadaan mendesak memerlukan waktu hingga 5 tahun. Saat ini, agen sleeper mengambil peran sebagai kunci keluar dari agen mata-mata yang tertangkap.
Selanjutnya Selena, kondisi kehamilannya yang semakin mendekati hari lahir tidak membuatnya bermalas-malasan. Selena secara rutin mengawasi jalur informasi dan mengawasi agen mata-mata aktif untuk memastikan kesetiaan mereka. Walaupun Karl menyuruhnya untuk beristirahat selama kehamilannya, dia tetap aktif bertugas.
Ivan dan Selena adalah penduduk asli Kerajaan Flora, namun desa tempat mereka tinggal diserang oleh penyakit. Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Flora hanyalah tanah untuk mengubur mayat yang menderita. Dengan kata lain, Kerajaan Flora menelantarkan mereka.
Saat itu, Karl hanyalah anak kecil yang penasaran dengan penyakit yang sedang menyebar pesat. Hingga Karl tiba di desa tempat mereka tinggal dan memberi bantuan untuk mengobati penduduk yang terinfeksi penyakit. Penyakit yang menyebar saat itu adalah diare yang menyebabkan kematian. Kondisi itu diperparah dengan tata letak desa yang kotor sehingga sumber penyakit mudah menyebar.
Di pengungsian, mereka mempelajari apa yang terjadi di sekitar mereka. Ivan mempelajari bagaimana untuk menjadi mata-mata yang aktif bertugas di lapangan sedangkan Selena berperan aktif menjadi mata yang mengawasi agen mata-mata.
Kepopuleran atas karir mereka tumbuh hingga mengenal satu sama lain. Di tangan Karl, Ivan dan Selena berkembang menjadi sosok yang dikagumi dan ditakuti musuh. Kelihaian operasi mata-mata mereka menjadi kunci kesuksesan jaringan mata-mata Karl. Tanpa sosok Ivan dan Selena, mata-mata yang dimiliki Karl hanyalah bocah yang memegang senjata dan permen.
“Ugh, aku ingin mengatakan ini sejak tadi. Kita perlu mendidik mereka lebih keras lagi” gerutu Ivan saat melihat agen mata-mata mereka tertangkap.
“Aku setuju tentang itu, ini skenario yang cocok untuk mengirim White Flower keluar dari titik nyaman.”
“Eh, White Flower masih bertahan? Boleh juga..”
“Ya, dia telah bertahan semaksimal mungkin. Sudah saatnya dia merasakan beban yang kita alami.”
“Mari kita taruhan, aku yakin White Flower berhasil menyelamatkan mereka.”
“Heh.. jangan berharap pada sesuatu yang tak pasti. Ree akan mengambil tugas mereka.”
“Emm.. siapa itu Ree?”
“Ssstt.. kau tidak perlu tahu tentang itu.”
Tanpa Ivan sadari, Karl sedang bersenang-senang di medan perang menggunakan nama samaran “Ree”.
[...]