
Nama ku Chiyuki de Flora, anak terakhir dari keluarga Duke Flora. Walaupun kami sudah keluar dari kebangsawanan Kerajaan Flora, kami tetap memakai nama ini sebagai pengingat.
Saat aku bangun tidur, tanpa sengaja aku melihat Onii-sama dan Mercedes duduk sangat dekat.
Di pagi hari ini, detak jantung ku dipenuhi rasa cemburu yang begitu kuat.
Apakah itu salah? Jika seorang adik mencintai kakaknya?
Tapi, mencintai keluarga sendiri lebih baik daripada salah mencintai seseorang.
Sebenarnya, ada rahasia besar yang ku sembunyikan saat ini. Aku ingin menceritakan ini ke Onii-sama, tapi.. apakah dia akan menerima ku apa adanya setelah pengakuan ini?
Aku berjalan ke arah Onii-sama, matanya terlihat mengantuk seperti tidak tidur satu malam. Aku duduk sembari memeluk dirinya dan menghirup aroma tubuhnya.
Seketika itu juga, respon tubuh Onii-sama bergerak. Aku tahu apa yang ia rasakan, jadi.. aku sedikit menggodanya.
Hingga.. sebuah pujian yang mengejutkan keluar dari mulut Onii-sama.
“Tanduk yang indah, Chiyuki.”
Tanpa sadar, ketika aku menggoda Onii-sama, rahasia kecil ku terbongkar.
Onii-sama mengetahui diri ku yang memiliki tanduk, sayap, ekor, dan taring kecil.
Ya, bisa di bilang. Aku bukanlah manusia.
Penampilan ku ini menyimpan sebuah rahasia besar.
Aku, Chiyuki de Flora adalah Ratu Iblis masa depan yang melompati ruang dan waktu untuk kembali ke masa lalu.
Bisa dibilang, saat itu aku adalah gadis yang sangat bodoh.
Membunuh keluarga ku sendiri? Aku melakukannya tanpa rasa bersalah. Namun, setelah aku mengetahui jika laki-laki yang ku cinta hanya memanfaatkan ku. Aku tenggelam ke dalam jurang penuh penyesalan.
Orang yang ku cinta saat itu adalah calon pahlawan.
Saat itu, sebuah ramalan mengatakan.. seorang pahlawan telah terlahir ke dunia ini. Kabar mengejutkan ini membuat orang tua ku sedikit sibuk mencari pahlawan dan meninggalkan semua pekerjaannya ke Onii-sama.
Onii-sama saat itu hanyalah kakak yang tidak berarti bagi ku, jadi.. saat membunuhnya.. aku tidak merasa kehilangan. Onii-sama saat itu hampir kabur, namun aku berhasil mengejarnya.
Bagaimana dengan nasib ku?
Awalnya, kami berlatih keras untuk membunuh Raja Iblis yang tiba-tiba menyerang. Sosok pahlawan ini dengan gagah berani mengalahkan pasukan Iblis yang dikirim untuk memusnahkan umat manusia, melihat sosoknya ini.. aku semakin jatuh cinta padanya.
Hingga.. sebuah lembaran baru terbuka lebar di depan ku.
Setelah Raja Iblis berhasil di kalahkan, dia menikahi Putri Kerajaan dan mencampakkan ku. Sebuah tuduhan mengenai pemberontakan dilontarkan kepada ku, tanpa kekuatan bangsawan.. aku tidak bisa membela diri dan di asing kan ke penjara.
Pahlawan itu berjanji akan kembali menemui ku.
Namun, setelah 20 tahun berlalu. Aku mendengar kabar mengenai anak pahlawan itu menjadi Saintess.
Omong kosong yang kutunggu selama 20 tahun membuat ku kesal, maka dari itu.. aku sedikit mengamuk dan membunuh semua rakyat Kerajaan Flora.
Apakah aku merasa bersalah? Tentu saja tidak. Yang ku pikirkan saat itu hanyalah kepuasan dari penantian yang terlupakan.
Hingga aku membunuh Pahlawan dan anaknya. Karena kejadian itu, seluruh kerajaan tetangga memburu kepala ku. Jadi.. kenapa aku tidak sekalian membersihkan mereka?
Aku benar-benar melakukannya.. hingga tubuh ku berubah menjadi Iblis secara alami. Kehadiran ku ini membuat ras Iblis yang tersisa merasa terancam, mereka merasa jika kehadiran ku adalah sumber ancaman yang tidak murni dan merusak tatanan alam.
Tanpa sadar, aku membunuh semua Iblis yang mengincar ku dan tubuh ku berevolusi menjadi Ratu Iblis.
Umur yang panjang dan kehampaan yang kurasa membuat ku teringat akan keluarga ku. Dengan kekuatan ini, aku kembali ke masa lalu.. jauh sebelum aku mengenal cinta dan sosok itu.
Aku ingin melihat sebuah dunia, dimana Ayah tidak mati di tangan ku atau Ibu yang mati sembari mengelus rambut ku.
Atau Onii-sama.. yang berhasil mengembangkan wilayah Duke Flora.
Hingga tibalah saat ini..
Onii-sama masih hidup dan mengembangkan wilayah ini tanpa batas.
Serta orang tua kami yang sepertinya akan menambah keluarga baru..
Kehidupan kali ini, aku sangat berterimakasih kepada jiwa-jiwa yang ku bunuh.
[...]