
“Selamat pagi untuk kalian semua, seperti yang kalian lihat. Pelajaran kali ini adalah membersihkan peralatan perang dari debu dan partikel aneh yang menempel di dalamnya.”
Seperti yang kalian dengar, pagi ini di isi dengan pelajaran membersihkan unit Remi-class dari sisa-sisa pertempuran satu malam.
Sejujurnya, itu bukanlah pertempuran. Itu hanyalah menerobos barikade manusia dengan sedikit sentuhan kecil yang menyakitkan.
“Guh~ menjijikan” tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu setelah melihat keadaan unit Remi-class yang mengerikan.
“Apa ini?” tangan ku bergerak untuk meraih sisa-sisa armor yang menutupi sela-sela bagian bawah unit Remi-class. Sebuah jari manusia yang memakai cincin tersangkut di dalamnya. Di lihat dari ukiran cincin nya, itu adalah cincin yang digunakan oleh komandan perang tetangga sebelah Kerajaan Flora.
Tunggu sebentar!
Tanpa sadar kami menabrak komandan mereka?
Nah, itu bukan hal yang biasa jika dalam kondisi berperang.
Bercak noda darah yang berwarna merah dan mengumpal pun memupus semangat ku untuk membersihkan unit Remi-class. Bau amisnya sedikit menusuk hidung, tapi kendaraan ini masih diperlukan untuk bertahan dari invasi yang akan datang.
Salah satu tetangga kerajaan kami memang menyebalkan, situasi Kerajaan Flora memang dalam kondisi kacau. Tapi, itu bukanlah alasan utama untuk menyerang Ibukota Kerajaan Flora menggunakan pasukan penyihir.
Situasi berperang telah terjadi namun tanggapan Raja Kerajaan Flora masih terdiam. Kami masih mengamati mereka, namun tampaknya mereka terlalu menganggap remeh tetangga kita.
Beruntungnya, sisa-sisa orang kami cukup untuk di tampung di bunker darurat. Inilah alasan kenapa kami terlalu santai karena persiapan seperti ini telah di rencanakan.
Well, pihak ketiga ini di luar prediksi sih. Tapi, itu tidak mengubah persiapan kami yang telah matang.
Gadis-gadis serigala yang berada di dalam komando ku kali ini terdiam. Mereka terlalu fokus membersihkan sisa-sisa organ tubuh yang menempel di unit Remi-class mereka.
“Pertama, kalian bersihkan noda yang menempel di sela-sela kendaraan. Walaupun itu kecil, namun itu sangat berpengaruh dalam pertempuran. Kalian tidak ingin jika unit Remi-class kalian berhenti berfungsi saat bertempur kan?” sembari mengatakan itu, aku membersihkan celah-celah kecil di bagian bawah. Menggosoknya secara perlahan dan menarik sobekan armor yang menganggu.
“Yah, lihat kan. Bahkan potongan armor seperti ini bisa ditemukan di sela-sela terkecil. Ini sangat berbahaya untuk fungsional kendaraan kalian.”
Saat aku mengatakan itu, gadis-gadis serigala pun bergegas memeriksa bagian bawah kendaraan mereka. Mencari sisa-sisa noda kotoran yang menempel dan mengumpulkannya di tempat khusus.
Bukan salah kami, itu adalah jalan umum dan mereka menggunakan semua jalurnya. Tidak ada yang keberatan jika kami sedikit melakukan perlawanan kecil kan? Apalagi kondisi mantan kerajaan kami yang sedang berperang.
Yah, korban jiwa di kondisi perang sangat wajar kan?
Perang tanpa korban jiwa itu sangat sulit loh. Belum ada satupun kerajaan yang berperang tanpa ada korban jiwa di kedua belah pihak.
Kecuali...
Jika kami melakukan peperangan jarak jauh menggunakan teknologi.
Jika kami serius, peperangan yang kami lakukan akan membuka jalur perang baru. Kami sudah siap untuk itu, tapi.. sebisa mungkin kami tidak melakukannya.
Untuk saat ini, bersantai dan mengamati kondisi sudah cukup.
Jika mereka menginvasi wilayah kami, kami akan membalasnya.
Jika tidak ya... bersantai apa susahnya?
Saat aku kembali melihat tempat sampah khusus, beberapa sampah yang menumpuk tinggi itu pun membuat ku kebingungan.
“Ugh, mau di buang kemana sampah-sampah ini?”
Ya.. itulah pertanyaanya.
Kemana aku akan membuang sampah-sampah ini.
Aku tidak tahu untuk urusan seperti ini, jadi.. akan lebih baik jika Chiyuki yang mengurusnya.
Em.. pilihan yang bijak untuk saat ini adalah menyerahkan sampah itu pada Chiyuki.
[...]