My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tidak Akan Kembali



Elena masih berbicara dengan para anggota geng Black Circle. Meski mereka bercanda dan tertawa tapi ada kesedihan yang tak bisa mereka tutupi karena mereka tahu, mereka tidak akan bertemu lagi dengan Elena, orang yang sudah banyak membantu meski tidak semua dari mereka dibantu karena waktu yang begitu singkat tapi mereka semua sangat menerima keberadaan Elena yang membuat mereka belajar banyak hal.


Dulu mereka hanya pemuda yang mencari kesenangan saja akibat broken home. Mereka melakukan aksi balap liar untuk mencari kesenangan dan mencari perhatian dari keluarga namun ada beberapa dari mereka yang memang muak dengan keluarga mereka seperti Leo dan Mariana. Mereka bersenang-senang tanpa memikirkan masa depan tapi sekarang mereka sadar sudah banyak waktu yang mereka lewatkan.


"Apa kakak ipar tidak akan kembali lagi?" tanya Mariana.


"Sepertinya tidak. Aku tidak akan kembali ke sana jadi aku berharap kalian memiliki hidup yang lebih baik. Jangan memberontak lagi. Dari pada membuang waktu dan melakukan hal yang tidak berguna hanya untuk mendapatkan perhatian keluarga bukankah lebih baik kalian melakukan hal yang berguna untuk diri sendiri?"


"Kami tidak akan melakukannya lagi, kakak ipar!" ucap mereka semua.


"Bagus, aku senang mendengarnya. Aku akan menghubungi kalian lagi nanti," ucap Elena karena ayah dan ibunya masuk ke dalam bersama dengan kakaknya.


"Tunggu, Elena!" pinta Jansen. Pemuda itu segera beranjak dan mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja agar semua dapat melihat.


"Wah... ada yang tidak rela!" sorak mereka semua.


Elena tersenyum namun senyumannya kembali hilang saat ayahnya berdehem. Elena tampak kesal, dia segera menarik selimut dan menyembunyikan diri di dalamnya. Padahal dia belum selesai tapi ayahnya justru sudah kembali dengan pasukan. Jangan katakan sebentar lagi kakek dan neneknya juga masuk ke dalam ruangan beserta kakek dan nenek buyutnya bahkan bisa saja dengan yang lainnya.


"Jansen, kita bicara lagi nanti," ucapnya.


"Kenapa? Aku sangat merindukanmu tapi sepertinya kau tidak."


"Sttss," Elena meletakkan jari di bibir berharap Jansen tidak banyak bicara apalagi membahas perasaan atau masalah rindu merindu.


"Kakak ipar, bos sangat merindukanmu!" teriak salah satu anggota Black Circle.


Elena menepuk dahi, habislah. Semuanya pasti mendengar. Interogasi sebentar lagi pasti akan dimulai . Rasanya ingin mengintip dan melihat tapi dia tidak berani. Ayah dan kakaknya pasti menjadi orang yang paling posesif dalam hal ini apalagi dia belum pernah dekat dengan laki-laki.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti, sekarang aku mau istirahat!" ucap Elena.


"Baiklah, kau memang perlu banyak beristirahat. Nanti aku akan menghubungimu lagi."


"Terima kasih atas pengertiannya. Jangan lupa dengan pesanku."


"Tentu, tiga tahun lagi aku pasti akan menemuimu."


"Aku tunggu," ucap Elena lalu mengakhiri percakapan mereka. Jika tidak ada keluarganya, masih banyak yang ingin dibicarakan tapi dia tidak mau keluarganya mendengar. Elena menyingkap selimut dan terkejut karena keluarganya sudah duduk di dekat ranjang dengan ekspresi ingin tahu.


"Guys, apa yang kalian lakukan?" tanya Elena. Walau sesungguhnya dia kesal karena diganggu tapi dia tidak bisa marah.


"Ingin mendengarmu berbicara dengan kekasihmu," ucap ibunya.


"Kekasih apa? Aku tidak punya!"


"Jika begitu siapa Jansen?" tanya kakaknya.


"Bermasalah seperti apa? Katakan!" pinta ayahnya.


"Tidak seperti yang Daddy pikirkan, dia mengalami masalah karena hubungannya dengan keluarganya."


"Oh, memangnya apa yang Daddy pikirkan?"


"Dad, ada apa sih dengan kalian semua?"


"Jangan menutupi, Sayang. Katakan pada kami siapa pemuda itu dan apa hubungan kalian berdua?"


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, Mom. Dia murid yang aku bantu bersama dengan anggota gengnya. Semua yang aku alami karena membela mereka. Kalian tahu aku paling tidak suka mencari masalah tapi aku tidak tega melihat pemuda-pemuda yang tersesat itu. Mereka memiliki keluarga tapi seperti tidak memiliki keluarga. Tahu maksudku, bukan?"


"Jadi kau membantu semua anak-anak itu?" tanya ibunya lagi.


"Yeah, tidak semuanya. Aku iba dengan mereka karena tidak ada yang peduli. Aku mengangkat Leo sebagai adik juga bukan tanpa alasan. Dia di bullying oleh keluarganya sendiri, dia tidak diinginkan sama sekali. Apa yang paling menyakitkan selain ditolak oleh keluarga sendiri? Bukankah Daddy selalu berkata untuk membantu orang lain? Sebab itulah aku membantu mereka karena aku iba."


"Kami tidak mempermasalahkan hal itu, Sayang. Kami justru bangga kau mau membantu orang lain. Niatmu ingin mengangkat Leo sebagai adik memang mengejutkan tapi setelah dipikir, tidak ada salahnya menambah satu anggota keluarga. Kami tahu kau tidak mungkin salah mengambil keputusan."


"Thanks, Mom. Aku seperti ini juga karena didikan dari kalian."


"Oke, masalah itu sudah selesai. Kami tidak keberatan dengan apa yang kau lakukan apalagi untuk membantu orang lain tapi sekarang katakan siapa Jansen dan ada hubungan apa di antara kalian?" tanya kakaknya.


"Sudah aku katakan dia pemuda yang aku bantu."


"Jangan menipu, aku bisa melihat jika kau menyukainya!" ucap Henry.


"Apa tidak boleh, kak? Apa aku tidak boleh menyukai seseorang?" tanya Elena.


"Bukan tidak boleh tapi aku tidak mau kau jatuh cinta pada pemuda yang salah!"


"Aku tahu maksudmu, kak. Aku yakin tidak akan menyukai pria yang salah. Meski dia masih belum memiliki apa pun, meskipun pendidikannya belum selesai tapi dia berkata akan datang menemui aku tiga tahun kemudian dengan keadaan yang berbeda. Yeah, kita liat saja nanti apakah dia serius atau tidak," ucap Elena. Dia tahu apa yang kakaknya khawatirkan dan dia pun ingin melihat kesungguhan Jansen.


"Jika begitu dalam waktu tiga tahun, kau tidak boleh menghubunginya!" ucap ayahnya yang sedari tadi diam saja.


"Apa? kenapa?"


"Jika dia benar-benar serius padamu, dia pasti akan datang mencarimu meski kau tidak memberinya kabar. Lelaki sejati pasti memperjuangkan cintanya dan jika dia tidak melakukannya, itu berarti dia hanya jatuh cinta padamu karena kau sudah menolongnya. Kau harus bisa membedakan mana cinta yang tulus dan mana cinta sesaat yang muncul akibat kebaikan!"


Elena diam, memikirkan perkataan ayahnya yang dia rasa benar. Bisa saja Jansen menyukainya karena dia adalah orang yang menolong Jansen. Seperti anggota Black Circle yang menyukainya karena dia membantu mereka, bisa saja Jansen juga demikian.


"Dengarkan nasehat Daddy, Elena. Jika pria bernama Jansen itu serius padamu, maka dia akan mencarimu lagi nanti. Kau boleh menyukainya tapi jangan sampai berlebihan. Kau paham, bukan?"


"Baiklah, Mom. Terima kasih untuk nasehat kalian," Elena tersenyum, apa yang diucapkan oleh ibunya memang benar dan dia akan mengikuti nasehat mereka. Dia pun ingin tahu, apakah Jansen akan datang mencarinya setelah tiga tahun tanpa adanya kabar? Bisa saja pemuda itu tidak datang karena cinta sesaat seperti yang ayahnya katakan. Dari pada terjebak pada cinta yang salah lebih baik dia mengetes apakah Jansen akan benar-benar mencarinya atau tidak meski mereka tidak saling bertukar informasi lagi.