My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Jangan Menyesal



Suasana hening setelah Anne melontarkan ide gilanya. Bob juga diam saja karena dia tidak peduli. Dia justru ingin lihat apakah preman berkedok dosen itu mau melakukan apa yang istrinya perintahkan atau tidak. Dia sangat yakin tidak mungkin karena tidak ada satu orang pun yang mau mempermalukan dirinya sendiri untuk orang lain apalagi untuk pemuda berandalan seperti Jansen. Dengan begini Jansen bisa melihat jika tidak ada yang peduli dengannya.


Suasana hening itu membuat canggung namun Elena tiba-tiba tertawa. Tawanya terdengar pelan namun semakin lama semakin keras. Anne yang terlihat sudah puas mendadak jadi kesal karena dia merasa Elena sedang menertawakan dirinya.


"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Anne dengan sinis.


"Tentu saja, apa kau tidak tahu? Kau begitu lucu, Nyonya!" ucap Elena. Kini dia tidak akan ragu lagi untuk memberikan pelajaran pada orang sombong yang ada di hadapannya.


"Tutup mulutmu, sekarang lakukan saja apa yang aku perintahkan jika tidak aku akan mendendang kalian bertiga secara tidak terhormat!" teriak Anne marah.


"Cukup, nenek tua!" Jansen menarik Elena dan melangkah maju. Elena jadi berada di dalam masalah karena dirinya dan sahabatnya. Lagi pula dia sudah berjanji akan melindungi Elena jadi akan dia buktikan meskipun dia akanb dikeluarkan dari kampus itu.


"Apa maumu?" teriak Anne, dia pun melangkah mundur karena dia takut Jansen akan memukulnya.


"Aku tidak akan membiarkan kau bertindak sesuka hati dan aku tidak akan membiarkan Elena merangkak untukku dan Leo. Aku tidak takut dengan ancamanmu jadi berbuatlah sesuka hatimu!" Jansen memutar langkah dan menarik Elena pergi. Sudah cukup. Dia tidak akan membiarkan Elena melakukan hal memalukan. Lagi pula tanpa menyelesaikan kuliahnya pun, dia bisa menjadi orang sukses.


"Tunggu Jansen, ini adalah satu-satunya kesempatan yang kau miliki jadi biarkan dia melakukannya!" teriak ayahnya.


"Kau benar-benar ayah paling tidak berguna yang ada di muka bumi!" ucap Jansen yang sudah begitu kecewa pada ayahnya.


"Dan kau putra paling tidak berguna!" teriak ayahnya pula.


"Kau tahu, Dad? Sudah sampai sejauh ini, tapi kau masih saja memperlakukan aku seperti orang lain. Apa ja*ang ini lebih berarti dari pada aku?"


"Semua yang aku lakukan tidak ada hubungan dengannya!"


"Kau benar-benar sudah dibutakan oleh wanita, Dad. Jika kalian masih tetap memaksa, maka aku tidak akan ragu untuk menjadi lawanmu sekalipun kau ayahku. Aku bisa menghancurkan dirimu dengan mudahnya!" jika memang terpaksa, maka dia akan menunjukkan pada mereka siapa dirinya.


"Sebaiknya tidak membual!" teriak Anne yang hampir tertawa dengan perkataan Jansen.


"Menarik! Bagaimana jika kita lakukan saja?" ucap Elena yang sedari tadi menjadi pendengar dari pertengkaran mereka.


"Serahkan semua padaku, Elena. Lebih baik aku dikeluarkan secara tidak terhormat dari pada aku membiarkan kau merangkak seperti anjing!" kali ini dia akan membela Elena dan dia tidak akan membiarkan Elena dipermalukan.


"Serahkah hal ini padaku, Jansen. Dia tidak saja menghina dirimu tapi dia juga menghina aku jadi aku tidak akan tinggal diam."


"Tapi aku jadi seperti tidak berguna karena lagi-lagi kau yang bertindak."


"Untuk kali ini saja, aku tidak tahan melihat kesombongan mereka dan aku tidak suka dihina oleh mereka."


"Apa aku tidak berguna, Elena?"


"Kau salah paham, Jansen. Aku tidak menganggapmu seperti itu tapi dia menghina aku juga jadi aku tidak bisa tinggal diam. Percayalah, kali ini kita akan menghancurkan mereka berdua!"


"Jangan sombong, memangnya siapa kau? Hanya berandalan saja!" cibir Anne yang mendengar percakapan mereka.


"Ucapanmu benar-benar menunjukkan kualitas siapa dirimu, Nyonya!"


"Percayalah, Nyonya. Harga dirimu itu, jabatan yang suamimu miliki serta jabatan yang dimiliki oleh Richard, semua harga diri yang kalian miliki dapat aku hancurkan dalam sekejap mata dan percaya pulalah jika aku bisa mendepak kalian dalam waktu lima belas menit!" ucap Elena. Menghadapi orang sombong seperti Anne, harus dengan kekuasaan.


"Apa kau bilang?" Anne menatap Elena dengan tatapan tajam namun dia justru menganggap ucapan Elena hanyalah gertakan saja oleh sebab itu dia menertawakan Elena dengan keras.


"Kau masih muda tapi kau bermimpi terlalu tinggi? Sebaiknya kau segera bangun agar tidak terlalu sakit saat kau sadar. Memangnya siapa kau? Hanya seorang berandalan saja jadi jangan bertingkah seperti orang yang memiliki kekuasaan besar dan berhentilah mengatakan lelucon yang menggelikan karena kau akan semakin malu. Jika aku jadi kau, aku akan langsung pergi atau merangkaklah dan meminta maaf padaku!" ucapnya.


"Baiklah, aku akan buktikan perkataanku dan aku akan menghancurkan harga diri yang kau miliki ini tapi ingat, jangan menyesal!"


"Aku benar-benar takut mendengarnya!" Anne bersedekap dada dan memperlihatkan kesombongannya.


"Cukup, jika kau mau pergi maka pergi saja!" ucap ayah Jansen.


"Jangan mengganggu, Bob. Aku ingin melihat dia membuktikan ucapannya agar dia tahu jika dia tidak boleh berkata sombong saat dia masih menjadi sampah."


"Aku memang sampah, Nyonya. Tapi sampah ini akan membuktikan padamu, jika sampah bisa menghancurkan kalian semua."


"Elena, apa yang mau kau lakukan?" Jansen mendekati Elena dan meraih lengannya. Dia harap Elena tidak gegabah.


"Jensen, jika hari ini aku menghancurkan ayahmu, apa kau akan iba dengannya dan kau akan marah padaku lalu menyalahkan aku?" Elena melirik tajam ke arah Jansen, dia ingin tahu apa jawaban Jansen dan dia harap tidak mengecewakan.


Jansen melihat ke arah ayahnya saat Elena bertanya demikian, apa dia akan iba dengan ayahnya jika Elena benar-benar bisa menghancurkan ayahnya? Jansen berpikir sejenak, tidak, dia rasa tidak. Mungkin ayahnya akan kembali padanya setelah dia tidak memiliki apa pun lagi dan dia yakin, siluman rubah itu akan meninggalkan ayahnya yang tidak memiliki apa pun dan dengan demikian, ayahnya bisa melihat siapa wanita yang selama ini dia bela.


"Tidak, jika kau bisa maka lakukan. Lagi pula mereka terlalu sombong. Aku tidak akan mencegah karena dia tidak pernah peduli padaku selama ini dan aku pun tidak akan peduli dengannya tapi lakukan dengan perlahan agar mereka menikmati prosesnya!" ucap Jansen.


"Baiklah, aku tidak akan ragu lagi," ucap Elena.


"Dasar kau anak tidak berguna!" teriak Bob marah karena putranya tidak membela atau mencegah meski dia yakin Elena tidak mungkin bisa melakukannya,


"Sudalah, jangan basa basi. Tunjukkan jika kau mampu!" Anne benar-benar meremehkan Elena karena dia tidak percaya Elena memiliki kemampuan untuk menghancurkan mereka.


Elena mengambil ponsel, semua mata tertuju padanya. Jansen pun demikian, dia ingin tahu apakah Elena serius atau tidak tapi selama dia mengenal Elena, wanita itu tidak pernah bercanda. Entah kenapa dia sangat yakin jika Elena benar-benar bisa menghancurkan ayahnya dalam sekejap. Selama ini Elena sangat misterius dan apa yang dia ucapkan kemungkinan bukalah isapan jempol belaka.


Elena melangkah menjauh untuk berbicara dengan seseorang dan tidak lama kemudian dia kembali lagi karena dia sudah selesai meminta bantuan pamannya yang adalah seorang pembisnis di kota itu. Jika keluarganya tidak jauh,  kakak atau ayahnya pasti sudah turun tangan.


"Mana? Jangan menipu dengan menghubungi seseorang untuk menggertak kami!" ucap Anne.


"Sepuluh menit, Nyonya, Tunggulah dan nikmati kehancuran kalian dengan perlahan!"


"Cih, hanya orang gila saja yang akan mempercayai perkataanmu!" Anne masih tidak percaya dengan apa yang Alena katakan tapi dia akan tetap menunggu apalagi hanya sepuluh menit saja. Dalam waktu singkat itu, memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak ingusan itu? Dia sangat yakin Elena hanya omong besar dan benar saja, sepuluh menit telah berlalu tapi tidak terjadi apa pun.


"Sepuluh menit telah beralu tapi kau lihat? Tidak ada apa pun. Kau sungguh sombong jadi sekarang kau harus berlutut di bawa kakiku lalu merangkaklah keluar!" ucap Anne.


"Sangat tidak sabar, apa yang aku katakan pasti terjadi jadi tunggulah sebentar lagi!"


"Dasar kau pecundang, masih saja bermimpi. Aku sungguh iba denganmu!" teriak Anne. Hari ini dia akan mempermalukan Elena dan Jansen sampai habis namun di tengah kesombongannya karena dia merasa sudah menang, mendadak Richard menghubungi ayahnya dan mengatakan jika saham perusahaan mereka mendadak jatuh. Berita pertama itu sungguh membuat terkejut dan tentunya masih akan ada berita lainnya yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.