My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Elena, Queen OF Mafia



Mendapat kabar jika Jansen sedang berkelahi dengan sekelompok orang tentu saja membuat Elena marah. Padahal dia sudah mewanti-wanti akan hal ini tapi Jansen kelepasan juga. Seharusnya dia tahu, satu kesalahan yang dia lakukan bisa dimanfaatkan banyak orang. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemuda itu? Sungguh pemuda yang tidak tahu diri. Diq bahkan begitu berani mengutus anak buahnya untuk datang dan meminta bantuan padanya tapi kali ini, dia tidak mau terlibat.


Rasa kecewa terhadap Jansen Elena rasakan, padahal dia percaya dengan pemuda itu tapi Jansen benar-benar mengecewakan. Kali ini dia benar-benar, terserah Jansen mau melakukan apa, dia tidak mau tahu. Seharusnya Jansen bisa mengontrol emosi, seharusnya bisa tapi kenapa lagi-lagi harus berakhir seperti itu?


"Aku tidak bisa membantu!" penolakan Elena tentu saja membuat anak buah Jansen terkejut.


"Kenapa, Kakak Ipar? Jika kau tidak mau membantu, lalu bagaimana dengan kami?"


"Maaf, aku tidak mau terlibat dengan permasalahan kalian lagi. Kalian sudah dewasa, seharusnya kalian sudah tahu apa yang boleh dilakukan dan apa  yang tidak. Pergilah, katakan pada Jansen aku tidak bisa membantu. Dia harus belajar menyelesaikan permasalahannya seorang diri mulai sekarang!" cukup sudah, dia memang iba dan akan membantu tapi untuk yang membangkang dan yang selalu mengulangi kejadian yang sama serta yang tidak tahu akan risiko apa yang dilakukan, dia tidak akan bermurah hati.


"Bukan Bos yang memulai, Kakak Ipar. Bos hanya pergi untuk membantu Mariana yang hendak di jual ke club malam oleh keluarganya untuk menjadi wanita penghibur!" ucap anak buah Jansen.


"Apa kau bilang?" Elena yang hendak pergi menghentikan langkahnya. Dia tampak terkejut dengan perkataan anak buah Jansen.


"Mariana sedang berada di dalam masalah. Dia hendak dijual di sebuah club malam oleh sebab itu bos pergi untuk membantu dirinya dan sekarang, bos dan yang lain justru terlibat perkelahian dengan sekelompok mafia pemilik club malam itu dan kami kalah jumlah oleh sebab itu aku datang untuk meminta bantuan kakak ipar!"


"Bodoh, kenapa tidak bilang dari tadi. Sekarang tunggu di sini!" Elena berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil senjata api yang dia beli secara diam-diam karena dia memiliki hobi mengoleksi senjata api. Dua senjata api laras panjang sudah berada di punggung. Dua pistol berada di pinggang serta dua pisau. Senjata peledak dan peluru senjata api serta tas berisi sebuah senjata otomatis di selempangkan ke dada. Setelah siap, Elena berlari keluar. Anak buah Jansen terkejut, mulutnya bahkan menganga ketika Elena melangkah melewatinya.


"Ka-kakap ipar?" kenapa jadi seperti ingin pergi berperang saja?


"Jangan membuang waktu, antar aku ke sana!" dia tidak akan tinggal diam apalagi menyangkut human trafficking.  Mariana gadis yang baik, dia pasti akan membantu gadis itu.


Anak buah Jansen segera membawanya ke tempat terjadinya perkara di mana Jansen dan anak buahnya yang lain masih melawan kelompok yang sedang menyandera Mariana untuk dijadikan sebagai wanita penghibur di sebuah club malam. Keributan itu tidak terjadi di sebuah club tapi di sebuah tempat terpencil yang digunakan untuk melakukan transaksi.


Akibat kalah jumlah dan senjata yang memadai, tentu membuat mereka terpukul kalah apalagi tidak adanya persiapan. Jansen bahkan sedang bekerja saat mendapatkan laporan dari anak buahnya. Dia rela meninggalkan pekerjaan pertamanya demi menolong Mariana. Mereka sudah seperti keluarga, saling membantu jadi dia tidak akan membiarkan Mariana di jadikan pel*ur di club malam.


"Lepaskan aku!" teriak Mariana dari dalam.


"Gara-Gara kau, semua jadi kacau!" seorang pria tampak marah. Seharusnya transaksi itu sangat rahasia tapi Mariana justru berhasil menghubungi rekannya. Pria itulah yang hendak menjualnya pada seorang mafia yang memiliki club malam.


"Aku akan membunuh kalian semua dengan si tua bangka sialan itu!" teriak Mariana.


"Bawa dia dan habisi semuanya. Para pemuda yang membuat kekacauan harus mati!"


Anak buah mafia yang kebetulan belum datang untuk melalukan transaksi bersiap-siap untuk kembali menyerang Jansen dan anak buahnya yang sedang bersembunyi. Mereka hanya berandalan di jalan, bukan penjahat kelas kakap tapi hari ini mereka harus menghadapi penjahat yang sesungguhnya oleh sebab itu mereka jadi terpojok.


"Apa pun yang terjadi, kita harus membawa Mariana kembali!" apa pun caranya meski harus mempertaruhkan nyawanya, dia harus menyelamatkan anak buahnya meski dia tidak tahu bagaimana caranya. Anak buah yang mencari Elena bukan dia yang utus, dia bahkan tidak mengetahui anak buahnya pergi.


Jansen tidak mungkin melibatkan Elena dalam hal itu, dia tidak akan mempersulit Elena yang sudah membantu apalagi Mariana adalah anak buahnya.


"Serang!" teriakan itu berasal dari pihak musuh. Mereka berlari ke arah Jansen dan anak buahnya yang sedang bersembunyi oleh sebab itu mau tidak mau, mereka keluar dari persembunyian untuk menyerang. Perkelahian kembali terjadi, mereka saling pukul menggunakan tongkat yang mereka miliki untuk melindungi diri.


Jansen dan anak buahnya yang masih saja berkelahi tak menyadari jika Mariana sudah akan dibawa pergi melalui jalan lain. Anak buah Jansen yang membawa Elena pun sudah tiba. Begitu mereka tiba, Elena melompat turun dari motor dan melangkah tanpa takut menuju tempat di mana bentrokan sedang terjadi.


"Kakak ipar, tunggu!" teriak anak buah Jansen yang baru saja memarkirkan motornya.


Elena tidak menunggu, kini dia berlari sambil membuka tasnya yang berisi senjata otomatis. Tidak akan dia biarkan Mariana dijadikan wanita penghibur. Semoga saja dia tidak terlambat.


"Mariana!" Teriakan Elena tentu membuat Jansen dan anak buahnya terkejut serta orang-orang yang sedang mereka lawan. Mereka melihat ke arah Elena yang sedang melangkah mendekati mereka dengan senjata api otomatis yang sudah berada di tangan.


"Minggir!" perintah Elena yang tampak marah.


Perkelahian Jansen dan anak buahnya yang sedang melawan musuh terhenti. Mereka berlari ke arah Elena sedangkan musuh berusaha menyelamatkan diri karena Elena mulai menghujani mereka dengan timah panas dari senjata api otomatisnya.


Musuh terus berlari menyelamatkan diri namun Elena melangkah maju. Jansen dan anak buahnya yang sudah mendapatkan luka akibat pukulan saling pandang dengan tanda tanya besar dia dalam hati. Siapa sebenarnya wanita yang sedang menembak itu? Elena mendadak berubah menjadi orang lain karena sikapnya sangat jauh berbeda dari yang mereka tahu.


"Pergi, cari Mariana!" teriak Elena.


"Berpencar!" perintah Jansen pada anak buahnya.


"Tunggu!" perintah Elena yang berhenti menembak sejenak. Dua pistol yang ada di pinggang diambil lalu di lemparkan ke arah anak buah Jansen lalu dua senjata api laras panjang yang ada di punggung pun ditarik dan dilemparkan ke arah Jansen dan seorang anak buahnya.


"Bunuh siapa pun yang menghalangi tanpa keraguan!" perintahnya.


"Baik, kakak ipar!" jawab mereka semua.


"Pergi, temukan Mariana!" setelah memberikan perintah, Elena melangkah maju untuk menghabisi orang-orang yang tersisa. Jansen dan anak buahnya segera berpencar, untuk mencari Mariana tapi semua tampak ragu menggunakan senjata api karena itu pertama kali mereka memegang senjata api tapi bagi Elena, itu adalah mainannya sejak kecil.