
Semua diluar perhitungan karena Mariana berkata hanya ada ayah tirinya seorang. Elena hanya membawa sepucuk pistol untuk berjaga-jaga. Dia tidak mungkin menenteng senjata api laras panjang di pagi hari karena itu bisa mengundang petugas yang sedang bekerja.
Senjata tajam mau pun senjata tumpul sudah diambil oleh puluhan orang yang ada di dalam rumah Mariana. Para wanita penghibur yang tadinya bersenang-senang pun mengambil apa saja yang bisa dijadikan sebagai senjata. Mariana ditahan oleh dua orang, dia tak bisa bergerak sama sekali akibat tenaga lelaki yang menahan tubuhnya.
Meski mereka mabuk tapi mereka tidak boleh diremehkan begitu saja karena sebagian dari mereka adalah brandalan dan penjahat yang selalu berada di club malam serta di jalanan. Mereka melangkah maju sambil membawa senjata mereka, ayah tiri Mariana pun maju karena dia ingin melihat siapa yang berada d depan pintu itu.
"Cih, ternyata dua anak muda yang sok jago dan cari mati!" cibirnya.
"Lepaskan Mariana, maka aku tidak akan melempar kalian semua ke dalam penjara!" ucap Elena.
"Apa? Melempar kami ke dalam penjara?" ayah tiri Mariana memandangi para rekannya yang sudah siap dengan senjata mereka lalu dia melihat ke arah Jansen dan Elena yang tak memiliki senjata apa pun. Tawanya terdengar disusul dengan tawa para rekannya yang menganggap Elena hanya menggertak saja.
"Entah apa yang Mariana katakan pada kalian berdua tapi sebaiknya kalian pulang jika tidak aku akan menjual kalian beserta dengannya!" ancam ayah tiri Mariana.
"Jangan sesumbar, kau tidak akan bisa mengalahkan kami!" ucap Jansen.
"Hanya dua bocah ingusan, apanya yang sulit?" ayah tiri Mariana terlihat begitu sombong karena dia meremehkan Jansen dan Elena.
"Seseorang yang memegang senjata tapi jika tidak memiliki kemampuan sama saja bohong jadi jangan berbicara sombong sebelum tahu kemampuan lawanmu!" dia berani mengatakan perkataan itu karena dia melihat jika sebagian dari mereka sedang mabuk. Lagi pula dia dan Jansen saja sudah cukup untuk melawan mereka ditambah mereka sudah memiliki rencana sebelum mereka memutuskan untuk menerjang masuk.
"Jangan jauh-jauh dariku, Elena," ucap Jansen.
"Tidak perlu khawatir, kita cukup mengulur waktu saja dan pada saatnya tiba, mainkan peran dengan baik."
"Aku tahu, aku tidak akan merusak rencanamu!"
"Jangan basa basi. Segera pukul mereka!" teriak ayah tiri Mariana.
"Serang, yang wanita itu kita nikmati sebelum dijual!" teriakan itu terdengar disusul dengan teriakan orang-orang dari dalam yang ingin melawan Elena dan Jansen.
Jansen berlari masuk untuk melawan musuh lalu disusul oleh Elena. Meski mereka melawan dengan tangan kosong tapi mereka berencana merebut senjata musuh atau apa pun yang bisa mereka lakukan sebagai senjata.
Pengeroyokan terjadi, dua anak muda tanpa membawa senjata melawan puluhan orang. Mariana berteriak agar mereka berhenti dan tidak mengeroyok Elena dan Jansen. Situasi yang sulit bagi Elena dan Jansen karena mereka diserang tanpa ampun tapi pemabuk tetaplah pemabuk. Situasi yang tadinya tidak menguntungkan bagi Elena dan Jansen karena mereka dikeroyok kini mulai berbalik setelah Jansen dan Elena mendapatkan senjata.
Tongkat besi yang mereka dapatkan membuat mereka dapat melawan. Para musuh yang hendak melukai dengan senjata tajam mulai mendapatkan pukulan dari mereka. Para pemabuk itu tumbang dalam satu kali pukulan. Ayah tiri Mariana yang melihat itu tentu saja sangat murka, dia tidak menduga jika Mariana kembali dengan dua pemuda yang ternyata tak bisa diremehkan sama sekali.
"Bunuh dia, bunuh!" teriaknya penuh emosi. Dia akan membunuh mereka berdua lalu menjual Mariana.
Para rekannya kembali menyerang, Elena dan Jansen pun kembali balas menyerang. Jansen terkejut ketika dua wanita yang hanya memakai celana minim menangkap kedua tangannya. Mereka menempelkan tubuh mereka ke punggung Jansen untuk mengalihkan perhatian pemuda itu karena wanita lainnya sudah akan menghunuskan pisau yang ada di tangan mereka ke perut Jansen.
"Kalianlah yang akan mati!" Jansen mengayunkan lengannya agar kedua wanita yang sedang menempel pada punggungnya terlepas. Jika situasi tidak sedang seperti itu mungkin dia akan sangat senang dan itu reaksi lelaki normal tapi dia tidak berminat pada wanita seperti.
Jasen menghindari pisau yang hendak menusuk perutnya, gara-gara dua wanita yang menempel di punggungnya membuatnya kewalahan. Jika dia tidak segera menyingkirkannya, maka dia akan kesulitan melawan apalagi wanita yang lainnya melompat ke arahnya.
"Menyingkir dari tubuhku!" teriak Jansen seraya membenturkan tubuhnya ke dinding. Para wanita itu berteriak, Elena yang melihat itu berlari ke arah Jansen dan memukulkan tongkatnya ke tubuh para wanita yang masih menempel di tubuh Jansen namun dia pun mendapatkan serangan.
Elena dan Jansen kembali dikeroyok, mereka menyerang tiada henti namun mereka masih terus melawan. Serangan tiada henti terus mereka dapatkan, perkelahian itu tidak seimbang dan pada akhirnya, Elena dan Jansen mendadak terpukul kalah.
Jansen dibekuk ke atas lantai, begitu juga dengan Elena. Senjata api yang Elena bawa bahkan dilucuti dan mereka semua tertawa karena kekalahan Elena dan Jansen. Mariana yang tidak tahu jika Elena dan Jansen sengaja kalah karena sudah memiliki rencana sangat terkejut melihat kekalahan mereka berdua.
"Kalian lihat, kalian hanya pecundang jadi jangan coba-coba melawan kami!" ucap ayah tiri Mariana.
"Lepaskan, lepaskan mereka!" pinta Mariana.
"Bersiaplah, kalian akan aku jual bersama!"
"Jangan, jual aku saja. Mereka tidak ada hubungannya!"
"Apa kami boleh memukulnya?" tanya salah satu rekannya.
"Jangan, kalian akan merusak nilai jualnya tapi kalian boleh memukul yang pria"
"Hei, lepaskan kami!" teriak Elena yang pura-pura. Jika sesuai dengan perhitungan maka rumah itu sudah dikepung. Dia dan Jansen sengaja mengulur waktu untuk rencana yang mereka buat dadakan sebelum menerobos dan mereka sengaja mengalah agar mereka terlihat lemah.
"Jangan lupa dengan perkataanmu, Nona. Kami boleh menjual kalian jika kalian kalah!"
"langkahi dulu mayatku jika ingin menjual mereka!" teriak Jansen. Rasanya ingin menyerang mereka tapi dia harus menahan diri jika tidak rencana mereka akan gagal total. Mereka sudah sengaja menagalah jadi jangan sampai akibat tidak sabar dia justru menghancurkan segalanya.
"Aku tidak menginginkan mayatmu, yang aku inginkan adalah yang dari hasil menjual kalian!"
"Menjual kami, aku pastikan tidak akan ada yang bisa pergi dari sini untuk menjual kami!" ucap Elena.
"Cukup dengan bualanmu. Sekarang bawa mereka semua untuk dijual dan kalian semua akan mendapatkan bagian!" teriak ayah tiri Mariana tapi lagi-lagi untuk kedua kali ada yang menerobos masuk melalui pintu yang sudah tertutup juga melalui jendela. Semua terkejut , kali ini tidak main-main karena banyaknya orang yang menerobos masuk dengan bersenjatakan api.
Ayah tiri Mariana hanya bisa mengumpat dan bertanya, apa lagi sekarang? Dia tidak menduga jika akan kembali mendapatkan serangan dan jangan katakan, kedua pemuda itu hanyalah umpan.