My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Dia Bukan Ayahku



Elena sudah berada di rumah sakit dan sedang dirawat. Beruntungnya dia memiliki fisik yang cukup kuat. Semua itu berkat latihan fisik yang dia lakukan tapi dia benar-benar tidak berdaya meski dia tidak pingsan. Jansen menunggu Elena seorang diri, menunggu Elena selesai ditangani sedangkan anggota gengnya menunggu di dalam ruangan di mana Mariana sedang dirawat karena Jansen juga membawa Mariana ke rumah sakit itu.


Selama menunggu, Jansen benar-benar merasa bersalah karena Elena harus mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Entah sudah berapa kali Elena menghadapi bahaya dan entah dengan cara apa dia membalasnya nanti tapi yang dia khawatirkan bukan saja keadaan Elena tapi reaksi keluarga Elena saat tahu bagaimana dengan keadaan Elena.


Beberapa orang pria yang tampak mencurigakan terlihat mondar mandir di sekitar ruangan di mana Elena sedang menjalani perawatan. Entah apa yang orang-orang itu lakukan yang pasti orang-orang itu melihatnya sesekali. Jansen sempat curiga tapi dia tidak memikirkannya karena dia lebih mengkhawatirkan keadaan Elena.


Richard yang ingin melihat keadaan Elena justru mendapati Jansen seorang diri dan ketika melihatnya, emosi menguasai hati Jansen oleh sebab itu, pemuda itu segera menghampiri Richard lalu meraih kerah bajunya.


"Untuk apa kau datang kemari, hah?" Jansen benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya pada Richard karena hubungan mereka memang tidak pernah akrab.


"Aku ingin melihat keadaan Elena, tidak ada hubungannya denganmu!"


"Melihat keadaannya? Apa kau tidak tahu apa yang ibumu lakukan padanya? Atau kau hanya pura-pura tidak tahu!"


"Aku tahu, sebab itu aku datang untuk meminta maaf pada Elena. Aku tahu apa yang ibuku lakukan salah dan aku akan meminta maaf padanya. Aku juga akan menggantikan ibuku menanggung semua yang dia lakukan pada ibumu. Aku yang akan menggantikan dirinya masuk penjara!" ucap Richard.


"Kau mau menggantikan ibumu berada di dalam penjara?" Jansen mendorong Richard dengan keras hingga pria itu membentur dinding rumah sakit, "Jangan harap kau bisa menggantikannya dan jangan harap ibumu bisa bebas setelah dia membunuh ibuku. Aku akan membuat perhitungan dengannya setelah ini dan kau pun tidak akan luput!" ancam Jansen.


"Apa yang bisa kau lakukan, semua yang Daddy miliki sudah habis bahkan semua yang dia miliki sudah akan dilelang begitu juga dengan kampus di mana kau sedang menuntut ilmu sekarang. Tidak ada yang bisa diselamatkan bahkan sebentar lagi Daddy akan kehilangan jabatannya!"


"Bagus, bukan? Bukankah semua itu karena ulah ibumu yang sombong itu? Inilah yang aku harapkan dan kau, awas jika kau meninggalkan ayahku saat dia sedang susah. Sewaktu senang dia selalu membela dirimu, kau yang paling banyak mendapatkan kasih sayang darinya dan kau yang paling banyak menikmati kekayaannya jadi kau tidak boleh meninggalkan dirinya begitu saja. Ayahku memang bodoh telah memelihara rubah di rumahnya tapi setidaknya kau tidak menjadi ular yang menggigitnya setelah semua yang telah terjadi!" Jansen kembali mendorong Richard sebelum melepaskan kerah baju pria itu. Dia tahu tidak akan ada lagi yang bisa diselamatkan oleh ayahnya apalagi keadaan Elena babak belur, sudah pasti akan semakin memperburuk keadaan.


"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak peduli sama sekali dengan keadaan ayahmu?"


"Untuk apa aku peduli? Dia tidak pernah peduli padaku selama ini jadi untuk apa aku peduli dengannya? Aku justru senang dengan kehancurannya saat ini. Biarkan dia merasakan dari apa yang dia tanam selama ini. Dia paling menyayangimu, jadi kaulah yang harus peduli dan bertanggung jawab padanya meski pun kau tidak memiliki hubungan darah dengan ayahku tapi kau harus balas budi pada ayahku yang telah membesarkan dirimu dan yang telah memberikan pendidikan tinggi untukmu. Aku berkata demikian bukan berarti aku lepas tangan karena bagaimanapun dia adalah ayahku meski dia tidak berguna. Jika kau berani meninggalkan dirinya saat susah atau ketika dia sedang sakit keras, percayalah padaku, aku akan datang padamu dan membuat perhitungan!" setelah berkata demikian, Jansen melangkah pergi.


"Aku tidak percaya kau tidak peduli sama sekali dengan ayahmu!" teriak Richard.


"Apa kau tidak mendengar perkataan terakhir yang aku ucapkan? Sekarang kau yang harus balas budi padanya karena tanpa ayahku, kau tidak akan jadi seperti saat ini. Jika kau memiliki hati nurani, maka kau harus membalas budi dan jadilah anak yang berbakti untuknya!"


"Tapi dia adalah ayahmu!"


"Jansen, kau tidak boleh lepas tangan seperti ini terhadap ayahmu!" Richard mengikuti langkah Jansen, bagaimanapun Jansen harus peduli pada ayahnya. Setelah ini mereka tidak tahu harus tinggal di mana karena rumah yang mereka tempati saat ini sudah pasti akan dilelang. Kehancuran yang mereka alami begitu cepatnya, bahkan belum genap dua puluh empat jam.


"Kenapa tidak boleh? Waktu itu dia lepas tangan atas masalah yang aku alami bahkan dia tidak peduli aku mati atau hidup di dalam penjara!"


"Jangan mengungkit apa yang telah terjadi, dia adalah ayahmu!"


"Aku tidak mengungkit. Aku hanya ingin menikmati apa yang selama ini dia tanam dan kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu!"


"Tapi dia bukan ayahku!" teriak Richard.


"Oh, jadi setelah Bob Howard jatuh miskin dia bukan ayahmu lagi? Dia menjadi ayahmu saat dia berjaya saja? Entah kenapa aku sangat ingin si bodoh itu mendengar apa yang kau katakan agar dia melihat seperti apa anak yang selama ini dia besarkan dan dia bela sampai melupakan darah dagingnya sendiri!"


Richard terdiam, entah kenapa dia jadi merasa perkataannya sudah keterlaluan karena apa yang Jansen katakan memang benar. Bob memang lebih menyayangi dirinya, apa yang selalu dia inginkan selalu Bob berikan. Apakah adil meninggalkan orang yang sudah membesarkan dan menyayangi dirinya melebihi anak kandungnya di saat orang itu sedang berada di bawah?


Mereka berdua diam, tidak berdebat lagi. Jansen kembali menunggu begitu juga dengan Richard yang ingin melihat keadaan Elena. Seorang dokter dan perawat yang sudah selesai memeriksa keadaan Elena untuk melihat apakah Elena mendapatkan luka dalam atau tidak akibat pukulan dan tendangan yang dia dapatkan dari Anne keluar dari ruangan itu. Jansen menghampiri begitu juga dengan Ricahrd. Mereka hendak bertanya namun orang-orang yang sedari tadi tampak mencurigakan di sekitar ruangan justru menerobos masuk dan dua orang berdiri di depan pintu.


"Hei, apa mau kalian?" Jansen tidak jadi bertanya, dia justru hendak mencegah orang-orang yang tampak mencurigakan itu.


"Siapa kalian?" Jansen hendak masuk tapi dia dicegah oleh dua orang yang berdiri di depan pintu sedari tadi.


"Kau dilarang masuk!" ucap mereka.


"Apa, lepaskan. Kalian siapa?" teriak Jansen yang tidak tahu siapa orang-orang itu. Mereka justru semakin banyak, Richard yang hendak masuk juga ditahan dan suasana semakin terasa aneh saat dua orang pria yang datang kemudian di sambut sedemikian rupa. Kedua pria asing yang tak mereka kenal itu melangkah melewati mereka berdua begitu saja dan masuk ke dalam ruangan.


Siapa sebenarnya mereka? Sungguh pertanyaan itu memenuhi hati dan rasa penasaran itu semakin menjadi saat Elena dibawa oleh pria yang lebih tua dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat. Kedua pria itu berhenti di hadapan Jansen dan Richard lalu menatap mereka berdua dengan tajam.


"Kau mau bawa ke mana Elena?" teriak Jansen.


"Tarik mereka pergi!" dan setelah perintah itu diucapkan, Jansen dan Richard ditarik oleh orang-orang yang sedari tadi memegangi mereka. Jansen berusaha memberontak, dia juga berteriak agar Elena tidak dibawa namun dia tidak tahu jika kedua pria itu adalah ayah dan kakak Elena yang datang untuk membawa Elena pulang.