My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Bukan Dosen Biasa



Kedua saudara tiri Mariana terjepit sehingga membuat mereka tidak bisa keluar dari dalam mobil. Mariana yang mengalami benturan dan mendapat beberapa luka ringan berusaha merangkak keluar dari mobil. Dia harus pergi sebelum ditangkap lagi oleh kedua saudara tirinya yang gila. Setelah ini dia tidak akan mau kembali ke rumah terkutuk itu lagi meski dia tidak tahu harus pergi ke mana.


"Mariana!" teriakan Jansen memberikan angin segar bagi Mariana. Ternyata yang membantunya adalah bosnya, dia tahu bosnya tidak akan membiarkan dirinya dijual oleh kedua saudara tirinya yang jahat.


"Bos, aku di sini. Tolong tarik aku keluar!" pinta Mariana.


"Jangan coba-coba lari, Mariana!" teriak salah satu kakak tirinya yang masih berusaha melepaskan diri agar dia bisa menangkap Mariana.


"Cepat, Bos!" teriak Mariana.


"Cepat keluar," Jansen sudah membungkuk dan mengulurkan tangan untuk menarik Marian keluar dari mobil yang terbalik.


"Kurang ajar kau! Jika kau berani membawa Mariana pergi maka aku akan membunuhmu!" teriak kakak tiri Mariana mengancam.


"Bawa dia pergi, Jansen. Aku yang akan membuat perhitungan dengan mereka!" Elena sudah berdiri di sisi mobil yang terbalik dengan senjata api laras panjang yang diletakkan di bahunya.


"Kakak ipar!" Mariana semakin senang melihatnya setelah berhasil keluar dari dalam mobil.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Elena.


"Tentu saja, kakak ipar. Ternyata kau juga datang untuk menolong aku!" ekspresi wajah Mariana berseri, dia juga tidak menduga Elena akan datang.


"Pergi, bawa Mariana pulang. Mereka berdua adalah bagianku!" perintah Elena.


"Apa yang mau kau lakukan, Elena?" tanya Jansen.


"Pergilah, sekarang!" teriak Elena. Mereka tidak perlu tahu apa yang akan dia lakukan pada dua saudara tiri Mariana.


"Baiklah, segera kembali. Kami akan menunggumu!" ucap Jansen. Mau tidak mau mereka meninggalkan Elena di tempat itu meski dia sangat ingin tahu apa yang akan Elena lakukan.


Jansen membonceng Mariana dan membawanya pergi dari tempat itu, sedangkan Elena mengokang senjata apinya sehingga membuat kedua saudara tiri Mariana terkejut.


"Siapa kau, siapa sebenarnya kau?" tanya mereka.


"Keluar, sekarang!" perintah Elena.


"Kaki kami terjepit, tidak bisa keluar!"


"Oh," Elena menyimpan senjata apinya lalu mengeluarkan dua pisau yang ada di pinggang. Dengan santainya. Elena mengangkat satu kakinya dan meletakkannya ke sisi mobil lalu menggesekkan kedua benda itu hingga berbunyi. Kedua kakak tiri Mariana bergidik ngeri mendengar suara gesekan pisau yang terus Elena gesekan dengan sengaja untuk menakuti mereka. Mereka dapat mendengar dengan jelas karena kaca mobil sudah pecah.


"Jika memang tidak bisa keluar maka aku akan memotong kaki kalian berdua agar kalian bisa keluar!" ancam Elena.


"Jangan lakukan, kami akan segera keluar!" Mendapatkan ancaman seperti itu tentu saja membuat mereka takut apalagi mereka tahu jika mereka tidak bisa meremehkan Elena begitu saja setelah melihat aksi Elena saat menghentikan laju mobil mereka.


"Waktuku tidak banyak, jika kesabaranku habis maka kedua kaki kalian akan melayang!" Elena kembali memberikan ancamannya.


"Kami akan segera keluar!" kedua kaka tiri Mariana semakin berusaha dengan keras untuk keluar dari mobil. Kedua kaki mereka yang terjepit pun dipaksa keluar meski mereka menjerit akibat rasa sakitnya. Elena menunggu, menunggu sampai kedua pria yang hendak menjual Mariana keluar dari mobil.


Mereka berdua tidak bisa berkutik saat Elena menyambut mereka dengan senjata api. Entah kenapa dia menebak jika kedua pria itulah yang telah melecehkan Mariana selama ini. Elena memerintahkan mereka untuk berlutut dengan kedua tangan berada di belakang kepala. Kedua pria itu tidak berdaya selain mematuhi perintah dari Elena.


"Si-Siapa kau? Kenapa kau ikut campur dalam permasalahan kami?"


"Jangan lakukan, apa kau sudah gila?" teriak mereka.


"Aku rasa kalian lebih gila dari pada aku karena kalian hendak menjual Mariana!"


"Dia adik kami, jadi tidak ada salahnya kami menjualnya untuk menutupi hutang!"


"Wah, sungguh luar biasa. Saudara mana yang tega menjual adiknya sendiri dan melecehkannya? Saudara yang mana?" tanya Elena.


"I-Ini bukan urusanmu!" teriak mereka lagi.


"Jawab!" teriak Elena seraya menembakkan senjata apinya. Peluru melesat cepat namun hanya menghantam tanah yang tidak jauh dari kedua kakak tiri Mariana karena itu hanya tembakan untuk menggertak.


"Mariana memang adik tiri kami, sebab itu kami ingin menjualnya dan kami sengaja melecehkan dirinya hampir setiap saat!" mendengar perkataan itu tentu saja membuat Elena murka. Dari pada seorang pembunuh, yang paling dia benci adalah penjahat kelamin.


"Beraninya kalian berdua!" Elena menembak sana sini untuk melampiaskan amarahnya tapi tidak ada satu pun peluru yang mengenai mereka karena dia memang sengaja.


"Hentikan! Hentikan!" teriakan itu terdengar di sela suara letusan senjata api. Elena yang marah pun berhenti, jika saat ini dia berada di rumah, sudah dia pastikan mereka berdua tidak akan bisa hidup lagi tapi yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah mengirim mereka ke penjara.


"Sekarang hubungi polisi dan katakan semua kejahatan yang telah kalian lakukan pada Mariana. Jika tidak, aku pastikan aset yang kalian miliki akan aku potong dengan kedua tanganku ini dan aku pun akan memotong kedua tangan dan kaki kalian. Jangan mengira aku tidak berani melakukannya. Aku tidak akan ragu apalagi kalian dalam posisi yang tidak menguntungkan!" perintah Elena.


"Apa? Jangan bercanda!" teriak kedua pria itu.


"Lakukan!" Elena kembali berteriak lalu menembak tapi kali ini peluru yang dia tembakan mengenai paha salah satu dari pria itu. Teriakan terdengar, salah satu dari mereka terkejut karena Elena tidak main-main.


"Apa masih belum mau melakukannya?"


"A-Akan kami lakukan, akan kami lakukan!" ucap mereka yang takut.


"Bagus!" dengan begini dia tidak perlu bersusah payah. Salah satu dari mereka segera menghubungi polisi dan mengatakan semua kejahatan yang mereka lakukan selama ini pada Mariana. Mereka pun mengatakan di mana mereka berada agar polisi dapat menangkap mereka. Elena tampak puas, mereka memang pantas berada di dalam penjara meski itu tidak cukup.


"Sangat beruntung kalian tidak berada di Amerika saat ini karena aku pastikan kalian pasti akan berakhir tragis jika berada di sana!" ucap Elena.


"Siapa sebenarnya kau?" tanya mereka berteriak.


"Sekarang ikat diri kalian di mobil itu!" printah Elena tanpa menjawab.


"Apa?"


"Ikat jika tidak aku akan memotong kedua kaki kalian agar kalian tidak bisa melarikan diri!"


Lagi-Lagi, untuk kesekian kalinya. Mereka tidak berdaya. Setelah salah satu dari mereka terikat, Elena pun mengikat yang lain. Dia tidak langsung pergi, Elena bersembunyi sampai akhirnya polisi datang untuk menangkap mereka. Sekarang beres, saatnya pergi dan tidak akan ada lagi yang akan melecehkan dan menjual Mariana.


Jansen yang membawa Mariana sudah tiba, para anak buahnya menunggu mereka pulang sambil membersihkan sampah yang ada di sekitar rumah sesuai dengan perintah Elena. Mereka sangat senang mendapati Mariana baik-baik saja tapi mereka tidak mendapati Elena.


"Di mana kakak ipar, Bos?" tanya salah satu anak buah Jansen.


"Kakak ipar akan segera kembali!" jawab Mariana.


"Bos, siapa sebenarnya Kakak ipar?" akhirnya pertanyaa ltu terlontar juga karena dosen yang mereka kenal selama ini diluar dugaan dan tidak seperti dosen biasa. Elena lebih mirip dengan anggota mafia dari pada seorang dosen. Siapa sebenarnya Elena? Sungguh mereka sangat penasaran dan sangat ingin tahu.