My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Jangan Menyerah



Meski harus menghadapi kenyataan jika ayahnya sudah tidak mau membiayai uang sekolahnya lagi dan sudah membuangnya, hal itu tidak membuat Jansen terpuruk atau apa pun. Dia kembali ke dalam kelas sebelum Elena datang. Dia tidak akan meratapi nasibnya karena tidak akan ada yang berubah.


Elena yang sudah datang pun tampak puas karena Jansen berada di kelas sesuai dengan perkataannya. Sangat bagus tapi pemuda itu terlihat murung dan tidak bersemangat. Entah apa yang dia pikiran, Jansen tampak termenung tapi bukan berarti dia tidak menyimak apa yang sedang diajarkan. Sudah lima tahun duduk di bangku kuliah tentu saja sudah membuatnya hapal semua pelajaran di luar kepala. Yang perlu dia lakukan hanya bersikap baik agar tidak dikeluarkan lalu dia akan lulus dengan nilai terbaik tentunya semua itu tidak perlu dia perlihatkan karena dia ingin menjadi seperti murid yang lainnya.


Dia melakukan hal itu bukan supaya ayahnya bangga tapi untuk dirinya sendiri. Agar tidak ada yang tahu terutama ibu tirinya dan Richard, dia akan berpura-pura menjadi pria bodoh dan tidak berguna. Dia bahkan sudah tahu apa yang harus dia lakukan tapi dia akan berpura-pura seperti seorang pecundang.


Jam pelajaran sudah selesai, para murid berbondong-bondong keluar dari kelas. Elena merapikan buku dan menghapus papan tulis karena setelah ini akan ada dosen lain yang mengajar di dalam kelas itu. Elena menghapus bagian atas dengan susah payah namun Jansen yang melihat itu segera membantu karena dia memang masih belum keluar dari kelas.


Elena terkejut saat Jansen berdiri di belakangnya lalu memegangi tangannya yang sedang sibuk menghapus papan tulis.


"Apa yang kau lakukan?" Elena bertanya sepelan mungkin.


"Membantumu, apa lagi?"


"Jangan terlalu dekat!" Elena buru-buru menarik tangannya lalu melangkah pergi. Jangan sampai ada yang melihat lalu salah paham dengan kedekatan mereka yang tidak memiliki hubungan apa pun.


"Setelah selesai aku tidak pulang!" ucap Jansen.


"Mau ke mana? Jangan membuat keributan!"


"Tidak, aku mau mencari pekerjaan. Aku harus menemukannya karena mulai sekarang, aku harus membayar uang sekolahku sendiri!"


"Apa? Jadi ayahmu sudah tidak mau membayar uang kuliahmu lagi?" Elena berpaling, menatap ke arah pemuda yang masih sibuk membersihkan papan tulis.


"Yeah, baru saja dia datang dan berbicara denganku. Dia berkata jika dia lepas tangan mulai sekarang dan tidak mau lagi membayar uang sekolahku. Dia mengatakan hal itu karena dia tidak menginginkan aku lagi!" walau dia tahu ayahnya tidak peduli, tapi rasanya sedikit sedih karena ayahnya benar-benar tidak mau mempedulikan dirinya lagi apalagi ayahnya benar-benar menyayangi Richard dan memujinya secara terus terang tanpa mempedulikan perasaannya.


"Jadi ayahmu datang untuk mengatakan hal itu?" Elena kembali merapikan buku yang sudah hampir selesai.


"Tidak. Tidak semua ayah seperti itu, Jansen. Mungkin saja ayahmu berkata demikian dan sengaja berlaku kejam padamu demi suatu tujuan. Kita tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan, bukan? Mungkin ayahmu bersikap keras dan mengucapkan perkataan pedas agar kau bisa berubah. Semua yang dia lakukan mungkin untuk mencobai dirimu apakah kau sanggup atau tidak. Aku yakin ayahmu tidak sejahat yang kau kira," ucap Elena. Dia yakin Bob Howard tidak sekejam yang Jansen katakan, dia pun yakin Bob Howard masih peduli dengan putranya karena jika Bob tidak peduli, tidak mungkin pria itu meminta bantuannya untuk mendidik Jansen.


"Kenapa kau berkata demikian? Dia selalu memuji Richard dan membuat aku sakit hati akan perkataannya!"


"Kau tahu, Jansen?" Elene menarik kursi dan duduk, tatapan matanya pun tak berpaling dari Jansen yang sedang melihat ke arahnya.


"Aku rasa perkataan itu bukan untuk membuatmu sakit hati!" ucap Elena lagi.


"Maksudmu?"


"Mari kita pandang dari sisi baiknya terlepas ayahmu sudah tidak peduli denganmu atau tidak. Ayahmu selalu membanggakan Richard di hadapanmu, dia melakukan hal itu karena dia ingin kau marah lalu kau tidak terima dengan ucapannya sehingga kau berusaha berubah dan membuktikan pada ayahmu jika kau bisa melampaui Richard yang selalu dia banggakan itu. Terkadang perkataan pedas itu memiliki tujuan. Perkataan yang diucapkan dengan lemah lembut belum tentu mendidik tapi perkataan yang pedas meski menyakitkan tapi dari perkataan itulah bisa kau jadikan motivasi. Dari pada kau sakit hati dan memendam perasaan kecewa pada ayahmu, lebih baik kau jadikan setiap perkataannya untuk bangkit. Kau bisa mengambil sisi baik dari setiap perkataan yang dia ucapkan dan tunjukkan pada ayahmu bahkan pada semua orang yang telah meremehkan dirimu jika kau bisa meski tanpa bantuan ayahmu!"


"Tapi itu tidak mudah!" ucap Jansen.


"Jangan menyerah sebelum berperang, Jansen. Tidak ada orang bisa sukses dalam satu malam, buktikan jika kau mampu dan langkah pertama yang harus kau lakukan adalah, segera selesaikan kuliahmu ini. Kau sudah terlalu lama terjebak di kampus ini dan kaulah yang telah membuat orang-orang meremehkan dirimu jadi sekarang buktikan jika kau bisa!"


"Aku tahu, terima kasih atas nasehatmu!"


"Bagus!" Elena sudah selesai jadi dia keluar dari ruang kelas agar tidak ada yang melihat mereka lalu mengira mereka sedang melakukan perbuatan yang tidak benar. Orang-Orang yang membenci Jansen sangat banyak, mereka bisa mengatakan apa saja untuk menjatuhkan Jansen jadi lebih baik mereka waspada.


Jansen masih berada di tempatnya. Entah ini sebuah keberuntungan atau bukan yang pasti dia sangat beruntung dapat bertemu dengan Elena padahal dia adalah dosen baru yang mendadak peduli dengannya. Sampai sekarang dia masih penasaran dengan sosok Elena karena dia cukup misterius.


Seperti yang Elena katakan, dia memang harus mengambil hikmah dari setiap perkataan yang diucapkan oleh ayahnya. Lima tahun sudah dia menyia-nyiakann waktu hanya untuk menarik perhatian ayahnya tapi hasilnya tetap sama tapi kini, dia akan buktikan jika dalam waktu lima tahun, dia akan menjadi pria yang sukses dan membuktikan pada ayahnya jika dia bukanlah anak tidak berguna seperti yang ayahnya duga tapi dari mana dia harus memulai?


Jansen mengambil ponsel, untuk menghubungi seseorang. Dia akan memulainya dari bawah terlebih dahulu dan ketika sudah saatnya tiba nanti, setelah dia lulus barulah dia membuat gebrakan. Untuk saat ini biarkan saja musuh mengira jika dia hanya sampah karena dengan begini, musuh akan mengira jika mereka sudah menang. Anne dan Richard, pasti akan dia tendang pada saatnya tiba nanti.