My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Sebuah Janji



Mariana bangun lebih pagi, semalam dia sudah tidur akibat kelelahan sehingga dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Jansen. Mariana yang menumpang tentu saja tidak enak hati dengan Elena jadi dia harus tahu diri. Entah sampai kapan dia akan berada di sana, yang pasti dia tidak bisa berlama-lama bahkan dia berniat untuk pulang tapi si tua bangka yang ada di rumah membuatnya ragu karena dia takut.


Entah bagaimana nasib kedua kakak tirinya, dia pun tidak tahu. Semalam memang ada seorang pengacara yang datang untuk menginterogasi dirinya dan dia rasa pengacara itu adalah utusan Elena. Mereka berbincang cukup lama, semua yang dia alami diceritakan dan tidak ada yang dia tutupi. Dia sangat ingin bebas dari ketiga lelaki bejat itu jadi dia tidak mau menutupi apa pun. Tadinya dia mau bertanya pada Elena akan hal ini tapi Elena sibuk sehingga dia tidak mau mengganggu.


Mariana membersihkan rumah, sebagai apresiasinya tinggal di sana. Dia sudah bertemu dengan orang yang sangat baik, maka dia tidak boleh mengecewakan orang itu. Suara benda yang dia jatuhkan tanpa sengaja mengejutkan Elena dan membangunkannya dari tidur.


Elena melihat sisi ranjang, di mana Mariana sudah tidak ada. Matanya masih terasa berat namun dia harus melihat apa yang terjadi karena dia khawatir gadis itu menghancurkan benda yang ada di rumahnya karena dia tidak mau ada satu pun yang rusak. Mariana yang masih sibuk membersihkan benda-benda yang ada di dalam lemari menghentikan kegiatannya saat Elena melangkah mendekatinya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Elena.


"Karena ini akhir pekan dan aku masih ada waktu jadi aku pikir lebih baik aku membersihkan rumah ini sebagai ucapan terima kasihku pada kakak ipar yang sudah memberikan tumpangan," jawab Mariana.


"Jika begitu panggil Jansen. Bersihkan berdua dengannya!" perintah Elena.


"Aku tidak berani kakak ipar."


"Dia tidak akan memukulmu, pergilah bangunkan."


"Kakak ipar, mengenai pengacara itu?" Mariana menghentikan perkataannya, dia jadi tidak enak hati karena dibantu sedemikian rupa.


"Oh... dia sudah datang mencarimu, bukan?"


"Yeah, aku sudah memberitahu semua yang telah aku alami selama ini. Tidak ada yang aku tutupi dan setiap kejadian yang aku alami sudah kau beri tahu padanya," ucap Mariana.


"Bagus, jika kau ingin terbebas dari kedua saudara dan ayah tirimu maka kau harus bekerja sama dengan pengacara itu. Dia orang yang sangat aku percaya jadi kau tidak perlu khawatir. Dia akan membantumu sampai masalahmu tuntas. Orang-Orang yang menindasmu selama ini, mereka tidak akan luput!"


"Terima kasih, kakak ipar. Aku sangat berterima kasih padamu dan aku sangat beruntung dapat bertemu denganmu. Aku rasa bukan aku saja yang beruntung tapi kami semua beruntung dapat bertemu dengan orang baik dan peduli seperti dirimu!" Mariana menahan air mata sehingga kedua matanya berkaca-kaca. Sungguh, dia sangat beruntung dan dia pun yakin, geng Black Circle sangat beruntung dapat bertemu dengan orang sebaik Elena padahal saat awal mereka hendak mencelakai Elena.


"Jangan terlalu berlebihan. Aku hanya orang yang kebetulan lewat. Manfaatkan waktu yang ada untuk memperbaiki diri kalian. Selama aku berada di sini, aku pasti akan membantu tapi kalian harus berubah menjadi lebih baik dan berhenti membuat kekacauan!"


"Apa kakak ipar akan pergi?"


"Tentu saja, sudah aku katakan aku orang yang kebetulan lewat!"


"Baiklah, bagaimana jika malam ini kita adakan balapan. Bukankah kakak ipar sudah berjanji akan melakukannya?"


"Boleh saja, tapi tidak untuk membuat keributan!"


"Tidak perlu khawatir, kakak ipar. Kita memiliki tempat bagus untuk melakukan adu balap yang jauh dari keramaian."


"Baiklah, bangunkan Jansen agar dia membantumu. Aku mau pergi untuk membeli barang setelah ini!"


"Baik, kakak ipar!" Mariana melangkah menuju kamar Jansen. Dia harus mengatakan pada bosnya untuk benar-benar mengejar Elena sebelum dia pergi karena dia yakin tidak akan ada orang sebaik Elena lagi yang akan mereka temui.


"Bos, kakak ipar memintamu untuk segera bangun!" teriak Mariana sambil mengetuk pintu.


"Berisik!" Jansen mengambil bantal untuk menutupi telinganya dan kembali tidur.


"Kakak ipar berkata akan membantingmu jika kau tidak segera bangun!"


Jansen buru-buru bangun setelah mendengar perkataan Marian. Apa Mariana melihat dirinya dibanting oleh Elena semalam? Menyebalkan, punggungnya bahkan masih terasa sakit akibat terbentur lantai yang keras dan akibat pukulan yang dia dapatkan, terdapat memar di wajahnya. Sungguh sial, sudah jatuh malah tertimpa tangga.


"Cepat, bos, Kakak ipar sudah menunggu!" teriak Mariana lagi.


"Aku tahu, jangan berisik!" teriak Jansen.


Mariana kembali melakukan pekerjaan yang tertunda, sedangkan Jansen mencuci wajahnya dan melihat rupanya yang babak belur. Jangan sampai membuat kesalahan lagi karena wajah tampannya akan hancur. Setelah mencuci wajah, Jansen keluar dari kamarnya.


"Ada apa memanggil aku?" tanya Jansen seraya melangkah mendekati Mariana.


"Kenapa dengan wajahmu, bos?" tanya Mariana.


"Tidak perlu banyak bertanya. Jawab saja kenapa kau memanggil aku!"


"Bantu aku membersihkan rumah, apa lagi?"


"Apa?"


"Tidak perlu berbohong, semua ini pasti ulahmu!"


"Ayolah, Bos. Kita harus balas budi pada kakak ipar. Kita tidak akan menemukan orang sebaik dirinya lagi jadi bos harus segera mendapatkan hati kakak ipar."


"Jangan mengada-ada. Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar!"


"Ck, jangan sampai menyesal karena kakak ipar akan pergi."


"Apa maksud perkataanmu?" Jansen menatap Mariana dengan ekspresi ingin tahu.


"Kakak ipar berkata dia akan pergi suatu saat nanti jadi jangan sampai menyesal!"


Jansen diam dan berpikir. Apa benar Elena akan pergi? Hal itu tidak mungkin tidak terjadi karena Elena masih sangat misterius. Tidak saja asal usulnya yang tidak dia ketahui tapi sampai sekarang dia belum tahu siapa sebenarnya Elena.


"Apa perlu aku bantu agar bos bisa mendapatkan hati kakak ipar?" tanya Mariana menggoda.


"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan darimu karena aku bukan anak kecil!"


"Jadi, bos bisa melakukannya sendiri?" goda Mariana.


"Berisik!" Jensen melangkah pergi sambil mengusap tengkuk. Pemuda itu melangkah menuju dapur di mana Elena sedang membuat sarapan. Langkah Jansen terhenti, pria itu bersandar di dinding sambil bersedekap dada dan tatapan matanya tertuju pada Elena.


Wanita yang cantik tapi? Sepertinya dia membutuhkan nyali yang cukup besar dan fisik yang kuat untuk mendekati dan menggoda wanita seperti ini. Sampai sekarang, dia benar-benar sangat penasaran dan ingin tahu siapa sebenarnya Elena.


"Dari pada berdiri saja di sana bukankah lebih baik kau membantu aku?" tanya Elena.


"Apa yang bisa aku lakukan?" Jansen melangkah mendekat lalu berdiri di sisi Elena.


"Cuci sayur yang ada di sana, jangan sampai salah!"


"Tidak akan!" Jansen melakukan apa yang Elena perintahkan namun dia berusaha melirik Elena sesekali.


"Kau berasal dari mana, Elena?"


"Setelah sekian lama, kau baru menanyakan hal itu sekarang?"


"Yeah, aku ingin mengenalmu lebih jauh."


"Untuk apa?"


"Dengar," sayuran diletakkan lalu Jansen melangkah mendekati Elena dan berdiri di sisinya kembali.


"Mungkin saat ini aku bukan pemuda yang berguna, Elena," ucapnya.


"Maksudmu?" Elena berpaling dan terkejut saat Jansen meraih tangannya dan menggenggamnya.


"Untuk saat ini, aku memang bukan pemuda yang berguna. Aku telah menyia-nyiakan banyak waktuku tapi aku berjanji padamu untuk lebih baik lagi. Aku akan menjadi pemuda yang bisa melindungimu suatu saat nanti, aku berjanji padamu akan hal itu," ucap Jansen seraya menggenggam tangannya dengan erat.


"Aku suka orang yang mau berubah dan mau berusaha, Jansen. Jadi mulai sekarang kau tidak boleh menyia-nyiakan waktumu lagi."


"Terima kasih," Jansen mengangkat tangan Elena dan mengecupnya. Dia harap tidak mendapatkan pukulan dan beruntungnya tidak karena Elena memalingkan wajahnya yang merona.


"Jangan melakukan hal itu!" ucap Elena tapi dia tidak menarik tangannya.


"Elena," Jansen menyelipkan rambut Elena ke belakang telinga. Elena terkejut, jantungnya hampir melompat keluar. Elena berpaling, senyuman menawan yang diperlihatkan Jansen membuatnya semakin gugup. Apa pemuda itu setampan itu? Mendadak dia lupa karena tidak terlalu memperhatikan.


"Ma-Mau apa?" Elena jadi salah tingkah dan semakin gugup.


"Aku hanya ingin melihat wajahmu yang cantik ini," tangan besar Jansen yang terasa hangat sudah berada di pipinya dan hal itu membuat Elena merasa wajahnya semakin panas.


"Ja-Jangan memuji, aku tidak suka!" Elena kembali berpaling namun Jansen sudah memegangi dagunya.


"Aku tidak memuji, kau benar-benar cantik. Aku pasti membuktikan padamu jika aku bisa kau andalkan dan bisa melindungi dirimu."


"Jika begitu buktikan, jangan hanya di ucapan saja!" Elena melangkah mundur, dia ingin lihat seberapa serius Jensen dengan ucapannya karena ucapan tanpa tindakan sama saja bohong. Jansen memandanginya, saat ini dia memang pemuda yang tak berguna tapi nanti, dia akan menjadi pria yang bisa menjaga dan melindungi Elena dan dia akan membuktikan hal itu.