My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Tidak Dibiayai Lagi



Bob tak melepaskan pandangannya dari Jansen saat putranya masuk ke dalam. Jansen terlihat baik-baik saja tapi dia tidak akan bertanya pada Jansen di mana dia tinggal agar putranya tidak mengira jika dia mengkhawatirkan dirinya apalagi setelah ini, Jansen pasti akan semakin membenci dirinya.


Jansen tidak menyapa ayahnya sama sekali. Dia bahkan terlihat tidak peduli dengan kehadiran ayahnya karena dia tahu, ada hal tidak menyenangkan yang terjadi sebentar lagi. Jika dia dikeluarkan dari kampus itu oleh ayahnya maka saat ini juga dia akan memutuskan hubungannya dengan sang ayah.


"Apa sikapmu seperti itu pada tamu? Meski kau adalah putra Tuan Howard bukan berarti kau bisa berperilaku seenaknya karena kau hanyalah murid di universitas ini!" ucap sang rektor yang tidak suka dengan sikap Jansen.


"Tidak perlu basa-basi. Segera katakan kenapa aku dipanggil di sini, aku tidak punya banyak waktu karena sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai!" ucap Jansen sambil duduk.


"Kau tetap saja tidak memiliki sopan santun!" ucap ayahnya.


"Sudah aku katakan, aku tidak memiliki banyak waktu. Katakan sekarang juga tujuanmu tanpa perlu banyak protes akan sopan santun yang aku miliki. Ingat, sikapku ini aku dapatkan darimu!"


"Cukup,  jangan mempermalukan aku!" bentak ayahnya kesal.


"Jadi, apa mau mu?" tanya Jansen sinis.


"Kau benar-benar mengecewakan aku karena kau jauh berbeda dengan Richard!" ucap ayahnya tanpa sadar jika dia sudah melukai perasaan Jansen dengan perkataannya itu.


"Cukup! Jangan membandingkan aku dengan anak ja*alang yang lebih mendapatkan perhatian darimu itu!" teriak Jansen tidak terima.


"Memang itu kenyataannya. Kau tidak seperti dirinya karena kau sangat mengecewakan aku!" teriak Bob pula.


"Jika kau hanya ingin membanggakan anak ja*angmu itu sebaiknya aku pergi!" rasanya menyakitkan dipanggil hanya untuk mendengar pujian ayahnya yang memuji anak ja*ang yang dia bawa pulang.


"Duduk di sana karena aku belum selesai!" teriak Bob mencegah. Sang rektor baru hanya diam saja karena dia tidak mau ikut campur dengan apa yang sedang ayah dan anak itu debatkan.


"Apa lagi\, hah? Jika kau hanya ingin membanggakan anak ja*ang itu sebaiknya jangan memanggil aku. Ini terakhir kali jadi cepat katakan apa yang ingin kau katakan selain pujian dan rasa banggamu pada baji*ngan itu!"  ucap Jansen.


"Dengar baik-baik, mulai sekarang kau harus membayar uang kuliahmu sendiri!" ucap ayahnya. Tadinya Anne memintanya untuk mengeluarkan Jansen tapi dia tidak bisa melakukan hal itu pada putranya karena dia khawatir tidak ada kampus yang mau menerima putranya oleh sebab itu, dia memutuskan Jansen harus membayar uang kuliahnya sendiri mulai sekarang.


"Apa kau bilang?" Jansen cukup terkejut mendengar perkataan ayahnya yang sudah tidak mau membiayai uang kuliahnya.


"Aku sudah memikirkan hal ini, sudah lima tahun aku membuang uangku untuk kuliahmu jadi mulai sekarang, aku tidak mau membiayai uang sekolahmu lagi. Aku benar-benar akan lepas tangan dan tidak memiliki tanggung jawab lagi padamu!" ucap ayahnya.


"Richard tidak seperti dirimu yang begitu mengecewakan aku. Jika aku tahu kau tidak akan berguna seperti ini, sudah aku buang kau ke tempat pengasingan!" Bob jadi tersulut emosi karena dia perkataan Jansen.


"Jadi kau menyesal telah membesarkan aku? Kau menyesal telah mengeluarkan uang untuk membiayai aku?"


"Ya, mulai sekarang aku tidak akan membiayai dirimu lagi jadi kau harus membiayai uang kuliahmu sendiri dan ingat satu hal, kau adalah mahasiswa seperti yang lain oleh sebab itu, jika kau membuat kesalahan atau satu masalah saja ditimbulkan olehmu maka kau akan langsung di keluarkan dari kampus ini jadi kau tidak bisa berbuat sesuka hatimu lagi di kampus ini!" ucap ayahnya.


Jansen diam, tidak menjawab. Jadi itu yang ayahnya inginkan? Dia benar-benar terbuang dengan perlahan. Setelah menendangnya keluar dari rumah, kini dia semakin terasingkan dan ayahnya lebih menyayangi anak orang lain yang dia anggap lebih baik dari pada dirinya.


"Dengarkan perkataan ini baik-baik. Saat dia membuat masalah, berkelahi atau apa pun langsung saja keluarkan dia dari kampus ini!" perintah Bob pada sang rektor baru.


"Baik, Tuan. Aku akan mengawasinya dengan baik dan jika dia membuat ulah, aku akan langsung mengeluarkannya dari kampus!"


"Bagus, lakukan tanpa perlu bertanya padaku!"


"Baik," ucap sang rektor.


"Bagus, sungguh bagus, Tuan Howard yang terhormat," cibir Jansen. Tak menyangka hari di mana dia benar-benar terbuang akhirnya datang. Jansen beranjak, sudah cukup percakapan mereka dan inilah akhirnya tapi sebelum dia keluar, ada yang harus dia sampaikan dan mungkin saja ini untuk yang terakhir kalinya.


"Kau yang memutuskan jadi mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan lagi. Aku akan membuang nama Howard dari namaku tapi Jansen adalah nama yang diberikan oleh ibuku jadi kau tidak berhak atas nama itu. Ini terakhir kalinya kita berbincang seperti ini dan mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku selama ini!" Jansen membungkuk untuk memberikan rasa terima kasihnya pada ayahnya. Dia tidak menginginkan hal ini tapi ayahnya justru membuangnya.


Bob terkejut namun dia tidak bergeming. Dia harap suatu saat nanti Jansen mengerti dengan apa yang dia lakukan. Dia terpaksa melakukannya tapi dia tidak bisa menjelaskan. Dia yakin Jansen pasti akan mengerti nanti setelah dia bisa bangkit dengan kemampuannya sendiri karena mulai sekarang, Jansen harus menghadapi kehidupannya yang keras agar dia tahu bagaimana sulitnya untuk hidup.


Hanya dengan cara itulah, dia yakin Jansen bisa berubah dan menjadi orang sukses setelah menjalani kehidupannya yang tidak mudah. Untuk mendapatkan sebuah pisau yang tajam, besi memang harus ditempa dan diasah jadi dia harap Jansen menemukan jati dirinya dan menapaki tangga kesuksesan setelah tahu bagaimana kerasnya hidup yang dia jalani.


Jansen keluar dari ruangan, dia tidak kecewa ayahnya sudah tidak mau membiayai tapi dia kecewa dengan perkataan-perkataan yang ayahnya ucapkan. Apa sampai di sana saja? Sungguh cobaan yang bertubi-tubi tapi dia justru bersemangat untuk mencari pekerjaan. Meski ayahnya sudah tidak mau membiayai uang sekolahnya lagi tapi dia yakin jika dia bisa meski tanpa bantuan ayahnya.


Bob pun pamit pergi karena sudah tidak ada yang dia perlukan lagi. Semoga dia tidak  mendengar perbuatan putranya yang merugikan orang lain lagi dan dia harap Jansen benar-benar bisa menunjukkan pada dirinya jika dia bisa berubah dan sukses dengan kemampuannya sehingga membuatnya bangga.


Setelah kepergian Bob dan Jansen, sang rektor baru yang sudah terhasut menghubungi Anne untuk memberikan laporan apa saja yang Bob bicarakan dengan Jansen. Mendengar jika Bob mengakhiri hubungannya dengan Jansen dan membuangnya benar-benar membuat Anne bahagia.


Anne tertawa dengan keras, inilah yang dia inginkan selama ini. Akhirnya hubungan ayah dan anak antara Bob dan Jansen benar-behar hancur dan posisi putranya di rumah itu benar-benar sudah aman karena Jansen sudah terbuang dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang pecundang di luar sana.