My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Rencana Jahat Lainnya



Elena bangun lebih pagi, karena dia harus menghadiri rapat dengan para dosen di kampus. Mariana tidur dengannya namun gadis itu belum bangun. Elena tidak mau mengganggu gadis itu, sebab itulah dia pergi secara diam-diam namun Jansen yang sangat penasaran justru berniat mengikutinya secara diam-diam.


Mungkin saja Elena pergi untuk melakukan sebuah pertemuan dengan seorang rekan. Dia jadi curiga jika Elena benar-benar seorang intel. Mungkin saja dia bisa mendapatkan petunjuk sehingga dia tidak penasaran lagi tapi sebelum Jansen pergi, pemuda itu membangunkan Mariana terlebih dahulu.


Panggilan dan ketukan di pintu, membangunkan Mariana. Gadis itu bergegas menuju pintu dan membukanya.


"Bos, ini masih pagi. Untuk apa kau membangunkan aku?" tanya Mariana yang masih menahan kantuk.


"Segera bangun, Mariana. Aku sudah harus pergi!" perintah Jansen.


"Bos mau pergi lalu apa hubungannya denganku?" tanya Mariana tidak mengerti.


"Aku hanya punya satu kunci saja, jika kau masih berada di sini maka aku tidak bisa pergi!"


"Bagaimana dengan kakak ipar?" Mariana kira Elena berada di kamar mandi.


"Dia sudah pergi dan aku ingin mengikutinya oleh sebab itu, cepatlah pergi!" pinta Jansen.


"Bos, kau pergi saja dan tinggalkan kuncinya. Aku akan mencarimu nanti untuk memberikan kunci itu."


"Apa?"


"Please, Bos," pinta Mariana memohon.


"Baiklah, awas jika sampai tidak dan ingat, jangan melakukan apa pun yang bisa membuat Elena marah!"


"Roger, aku akan menjamin semuanya aman!" ucap Marian.


"Sudah, aku mau pergi!"


Jansen melemparkan kunci rumah sebelum ia melangkah pergi. Jangan sampai dia terlambat dan melewatkan hal menarik yang tidak boleh dia lewatkan.  Motor dibawa secepat mungkin agar dia segera tiba di kampus sebelum Elena yang menggunakan transportasi umum tiba terlebih dahulu. Beruntungnya Elena meminjamkan motornya sehingga dia memiliki kendaraan.


Jansen hampir saja berpapasan dengan Elena yang sudah terlebih dahulu tiba. Elena buru-buru sampai membuatnya harus berlari karena rapat sudah mau dimulai.  Jansen berusaha mengikuti, tidak ada yang aneh. Apa dugaannya jika Elena adalah seorang intel adalah salah?


Tidak mau menyerah karena dia penasaran, Jansen menunggu sampai Elena selesai rapat. Kampus masih sepi, belum ada mahasiswa yang datang. Elena mendapatkan sebuah panggilan ketika Jansen mengikuti secara diam-diam. Elena terlihat melihat sekitar hanya untuk menjawab panggilan itu, tentunya hal itu membuat Jansen sangat penasaran.


"Siapa?" tanya Elena.


"Nona, Tuan besar mengutus aku untuk memberikan sesuatu padamu. Sekarang aku berada di depan kampus."


"Apa?" Elena terkejut dan bergegas keluar dari kampus. Anak buah yang diutus oleh ayahnya sudah menunggu di depan, Elena buru-buru menghampiri dan berbicara dengan anak buah ayahnya secara diam-diam. Jansen yang sedari tadi mengintip semakin yakin jika Elena adalah Intel dan orang yang dia temui itu, pasti rekannya.


Dia tidak menduga, pantas saja Elena begitu mudah memukul kalah dirinya dengan para anak buahnya dan begitu mudahnya menyelamatkan Mariana. Elena yang sudah mendapatkan barang yang dititipkan oleh ayahnya pun bergegas kembali namun langkahnya terhenti karena dia dicegat oleh Jansen.


"Jansen? Kenapa kau sudah berada di kampus? Bagaimana dengan Mariana?" tanya Elena.


"Jika aku tidak datang maka aku tidak akan melihat apa yang kau lakukan!" ucap Jansen.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang kau lihat?"


"Aku tahu kau bukan dosen biasa. Pria yang kau temui itu, dia pasti rekanmu, bukan?"


"Rekan apa?" Elena benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Jansen maksudkan.


"Jangan pura-pura, Elena. Sudah pasti kau seorang intel karena baru saja kau bertemu dengan rekanmu!"


"Aku benar-benar ingin tahu siapa kau sebenarnya!"


"Sebaiknya tidak terlalu penasaran, Jansen. Dari pada kau penasaran dengan identitasku lebih baik kau mencari pekerjaan. Kau harus memulainya dari sekarang karena aku tidak bisa membantumu terlalu lama. Mungkin saja aku tidak akan bisa menjadi dosen di kampus ini terlalu lama," ucap Elena.


"Kenapa? Apa ayahku membuat ulah yang memberatkan dirimu?" tanya Jansen.


"Tidak, bukan begitu. Ini pekerjaan pertamaku dan aku sedang mencari pengalaman jadi kemungkinan besar aku akan pindah nantinya oleh sebab itu aku tidak bisa menetap lama di kampus ini bahkan bisa saja aku pindah dari kota ini jadi pikirkanlah dirimu mulai saat ini. Kau harus bisa bangkit dan tunjukkan pada ayahmu jika kau bisa bangkit tanpa dirinya."


"Jadi, kau akan pergi?" tak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Elena. Apa telah terjadi sesuatu saat rapat sehingga Elena berkata jika dia tidak akan lama di kampus itu?


"Yes, pada dasarnya aku memang mencari pengalaman jadi aku tidak mungkin menetap di kampus ini begitu lama jadi aku sangat berharap, bantuan yang aku berikan padamu tidak sia-sia. Aku tidak memintamu untuk membalas budi, tidak. Aku hanya ingin kau menjadi pemuda yang sukses dan jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku harap kau sudah berubah sehingga membuat aku bangga!" ucap Elena.


"Baiklah, aku tidak akan mengecewakan. Aku baru memulai, tapi aku akan pastikan jika aku bisa seperti yang kau harapkan!" Jansen mengatakannya dengan begitu yakin karena dia mempercayai dirinya sendiri.


"Bagus! Kau datang sepagi ini, apa sudah makan?" tanya Elena.


"Aku lupa untuk sarapan!" ucap Jansen.


"Ayo makan di kantin," ajak Elena.


"Aku yang traktir,'"Jansen meraih tangan Elena dan menggenggamnya.


"Apa yang kau kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat?" Elena berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Jansen tapi Jansen tidak melepaskannya.


"Tidak ada yang melihat, tidak perlu khawatir. Ijinkan aku menggenggam tanganmu meski sebentar!"


"Jika ada yang melihat maka kita akan berada di dalam masalah!"


"Tidak akan!" Jansen sudah menarik Elena pergi menuju kantin. Tidak ada siapa pun jadi tidak perlu khawatir. Jansen bahkan melirik Elena yang berjalan di sisi sesekali. Jansen bahkan melangkah sedikit merapat karena dia ingin memeluk pinggang Elena namun niatnya batal karena tiba-tiba saja terlihat beberapa murid tidak jauh dari mereka.


Elena dan Jansen buru-buru melepaskan pegangan tangan mereka. Elena melangkah menjauh, dia tampak gugup. Jansen mengumpat, menyebalkan tapi lain kali dia akan mencoba melakukan yang lainnya.


Suasana yang cukup damai namun kelima pemuda yang cari gara-gara dengan Jansen waktu itu sudah datang dan langsung dipanggil ke dalam ruangan sang rektor baru karena ada tugas yang akan mereka dapatkan tapi bukan dari sang rektor tapi dari seseorang yang berbicara dengan mereka melalui telepon dan sudah pasti orang itu adalah Anne yang tidak akan berhenti menghancurkan Jansen.


"Aku dengar kalian bertiga menyimpan dendam pada Jansen?" tanya Anne pada kelima pemuda itu. Sekecil apa pun peluang yang ada harus dia manfaatkan.


"Kami memang membenci dirinya dan ingin balas dendam!" jawab kelima pemuda itu.


"Jika begitu lakukan perintahku maka uang kuliah kalian gratis!" ucap Anne.


"Apa? Apa yang kau inginkan, Nyonya?"


"Aku ingin kalian membuat diri kalian dipukuli oleh Jansen!"


"Maksud, Nyonya?"


"Carilah perkara dengannya dan tantang dia. Jansen bukan orang yang sabar dan ajak dia berkelahi. Cukup membuatnya memukul kalian saja, tidak lebih!" dia tahu syarat yang harus Jansen lakukan jika tidak mau dikeluarkan dari sekolah itu adalah menjaga sikapnya. Saat Jansen membuat gara-gara dan memukul seseorang maka dia akan dikeluarkan. Dia akan membuat Jansen tidak berdaya karena dia lebih pantas menjadi seorang pecundang saja.


"Itu perkara yang mudah. Kami akan melakukannya!" ucap kelima pemuda itu. Hanya mengumpankan diri untuk dipukul oleh Jansen sudah memberikan mereka keuntungan, maka tidak akan mereka sia-siakan.


"Bagus! Lakukan jika ingin mendapatkan kuliah gratis!" Anne sangat yakin jika kali ini rencananya tidak akan gagal karena sifat Jansen yang gampang marah. Bob pasti akan mengeluarkan putranya dari kampus seperti yang dia ucapkan lalu dia akan membuat Jansen tidak diterima oleh universitas mana pun sehingga dia memiliki masa depan yang suram.