My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Memanfaatkan Situasi



Seperti yang Jansen katakan, dia tidak pulang setelah selesai kuliah. Jansen pun tidak mengatakan pada Elena ke mana dia akan pergi. Dia sudah memiliki rencana sendiri, dan rencananya tidak ada yang boleh tahu agar rencana yang dia miliki tidak gagal.


Elena pun tidak bertanya, dia percaya Jansen pasti akan melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Jika pemuda itu ingin sukses, dia rasa Jansen tahu apa yang harus dia lakukan. Lagi pula dia bukan anak kecil lagi yang harus harus diajarkan banyak hal tapi satu hal yang sangat dia khawatirkan adalah, dia khawatir Jansen tidak bisa menahan emosinya saat ada yang menantang.


Keadaan Jansen bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak menyukai dirinya, dia harap Jansen tahu situasi itu sehingga tidak melakukan kesalahan agar tidak ada celah untuk orang-orang yang memusuhi dirinya karena mereka pasti akan menghancurkan Jansen.  Meski tidak mudah tapi dia harap Jansen bisa melewatinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore ketika Elena keluar dari kampus. Entah Jansen akan pulang atau tidak untuk makan malam, dia akan menyisakan makanan untuk pemuda itu. Dia tidak akan menghubungi agar Jansen tidak besar kepala dan merasa jika dia mengkhawatirkan dirinya. Meski dia iba tapi rasa ibanya itu jangan sampai dimanfaat oleh Jansen.


Elena melihat jam, dia berencana pergi membeli beberapa bahan makanan yang sudah habis terpakai saat membuat spageti. Bersama dengan anak-anak itu menyenangkan, sepertinya dia harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka agar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Dia memutuskan demikian karena dia ingin membantu para pemuda itu.


Seorang pemuda yang sedang bersandar di mobil menarik perhatian Elena. Pemuda itu sudah pasti Richard yang datang untuk menemui dirinya. Richard Memperlihatkan senyuman menawannya namun Elena justru berpaling dan melangkah pergi tanpa mempedulikan pemuda itu. Sepertinya senyuman saja tidak cukup untuk menarik perhatian Elena.


"Elena, tunggu!" Richard mengejar Elena mau tidak mau meski kesal apalagi dia menganggap Elena sedang jual mahal. Entah apa yang membuat Elena tidak tertarik dengannya yang pasti dia semakin penasaran dengan wanita itu.


"Maaf, Tuan Howard. Ada masalah apa?" tanya Elena.


"Makan denganku, bagaimana?" tanya Richard.


"Maaf, aku tidak bisa!" tolak Elena.


"Apa? Kenapa tidak bisa? Hanya sebentar saja, bagaimana?" Richard masih tidak menyerah.


"Makanku banyak, Tuan Howard. Jangan sampai kau menyesal telah mengajak aku makan bersama!"


"Aku tidak keberatan. Jika kau mau, kau bisa memesan semua menu yang ada!" untuk mendekati wanita dia harus bisa mengambil hati wanita itu dengan cara mengabulkan semua yang wanita itu inginkan.


"Wah... kau sangat murah hati, Tuan Howard. Makanku tidak saja banyak tapi banyak keluarga yang harus aku beri makan!" dia ingin lihat sejauh mana Richard akan mengejarnya jika dia berubah seratus delapan puluh derajat.


"Maksudmu?" tanya Richard tidak mengerti.


"Kau harus tahu, jika kau ingin mengajak aku makan malam maka kau juga harus membelikan yang lainnya. Aku tidak bisa makan enak seorang diri, aku juga ingin nenekku, kakekku, ayah dan ibuku, paman dan bibiku serta kedelapan saudaraku juga beberapa sepupu dan keponakan makan makanan yang sama denganku. Kau tahu maksudku, bukan?"


Richard menelan ludah, apa dia tidak salah mendengar? Apa Elena serius dengan apa yang dia ucapkan? Kenapa begitu banyak?


"Kenapa? Jika tidak sanggup maka jangan mengajak aku makan karena banyak yang harus kau beri makan!" ucapan Elena justru terdengar seperti sebuah tantangan untuk Richard. Jika dia menolak, maka dia seperti seorang pencundang yang takut mengeluarkan uang.


"Jangan berkata demikian, ayo kita pergi. Nenekmu atau kakekmu, siapa pun itu bahkan tetanggamu pun akan aku belikan!" ucap Richard. Elena justru tersenyum penuh arti mendengar perkataan itu. Jika Richard tidak keberatan maka dia tidak akan ragu.


"Bagaimana, mau makan denganku, bukan?" Richard masih tidak menyerah untuk mendekati Elena.


"Jika kau tidak keberatan, maka aku tidak akan menolak!" ucap Elena.


"Tentu saja aku tidak keberatan, ayo pergi denganku!"


Elena mengangguk dan tersenyum. Semoga Richard tidak kapok setelah ini karena dia benar-benar akan menguras isi dompet pemuda itu. Anggap saja sebagai pengganti Jansen, dia akan mewakilkannya. Richard membukakan pintu untuk Elena, senyuman manis menghiasi wajah Elena.


"Kau bisa memesan semuanya!" ucap Richard.


"Terima kasih, Tuan Howard," Elena kembali tersenyum, semoga Richard tidak mengalami shock setelah ini.


"Panggil aku Richard saja, aku lebih suka kau memanggil aku seperti itu!" pinta Richard.


"Baiklah, Richard. Boleh aku pesan sekarang?"


"Tentu saja, pesan apa pun yang kau mau!"


Elena menarik napas lalu dia menunjuk semua menu yang ada di buku menu. Dia tidak peduli dengan harganya, lagi pula bukan dia yang membayar. Pelayan yang mencatat pesanannya sampai bingung dan melihat ke arah Richard yang sok cuek melihat buku menu tapi sesungguhnya di dalam hati dia ingin berteriak untuk meminta Elena segera berhenti. Bisa celaka jika ayahnya melihat laporan keuangan yang dia keluarkan hanya untuk makan. Semoga saja ayahnya tidak mempermasalahkan hal itu nantinya.


Elena selesai setelah setengah Jam. Dia kembali tersenyum dengan manis. Richard pun berusaha tersenyum. Dia tahu harus keluar modal untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan tapi wanita tipe seperti Elena, tidak boleh dibawa ke toko barang bermerek karena dia akan membelikan untuk semua keluarganya apalagi adiknya yang ada delapan, juga sepupu dan keponakannya. Sungguh menakutkan saat membayangkan dia harus memborong semua barang bermerek hanya untuk Elena.


"Terima kasih, aku tidak menyangka kau begitu baik mengajak aku makan dan bersedia membelikan makanan untuk keluargaku. Sekarang tidak saja aku yang bisa makan enak tapi semua keluargaku juga bisa makan enak. Cukup adil, bukan?" ucap Elena basa basi.


"Tidak perlu dipikirkan, Elena. Lagi pula tidak sering dilakukan!" semoga saja tidak sering karena dia bisa bangkrut hanya untuk membeli makanan untuk Elena dan keluarganya.


Makanan yang mereka pesan sudah datang. Elena makan dengan sikap anggun, dia tidak seperti wanita miskin yang tidak pernah makan makanan enak tapi entah kenapa dia berkata seolah-olah dia berasal dari keluarga miskin. Beberapa pertanyaan Richard lontarkan, Elena pun menjawab dengan seadanya dan percakapan mereka terhenti saat beberapa pegawai restoran mengantarkan pesanan Elena. Richard terkejut, dia hampir berteriak melihat begitu banyak yang dipesan oleh Elena.


"Terima kasih, Richard. Aku sudah selesai jadi aku pergi dulu!" ucap Elena seraya beranjak.


"Apa? Aku akan mengantar," ucap Richard karena dia ingin tahu di mana Elena tinggal.


"Aku tidak akan merepotkan dirimu. Aku akan naik taksi jadi terima kasih atas makanannya!" Elena meminta beberapa pegawai restoran untuk membantunya membawa semua makanan itu.


"Elena, apa kita akan bertemu lagi?" tanya Richard yang sudah beranjak.


"Tentu, itu jika kau tidak kapok!" jawab Elena sambil tersenyum.


Elena pamit pergi, semua makanan itu bisa dinikmati oleh anak buah Jansen nantinya. Kebetulan, dia tidak perlu masak. Richard meminta bill untuk membayar, dia sangat terkejut melihat total yang harus dia bayar. Hampir enam ribu dolar yang harus dia keluarkan untuk makanan itu. Jika ibunya tahu, dia pasti akan dimarahi oleh ibunya habis-habisan.


Elena pulang ke rumah dengan semua makanan gratis yang dia dapatkan. Lumayan, dia mulai pandai memanfaatkan situasi. Sekarang saatnya menghubungi Jansen dan memintanya pulang dengan geng motornya tapi suara ketukan pintu menghentikan niat Elena.


Suara ketukan yang begitu keras membuat Elena bergegas untuk membukanya. Seorang pemuda yang babak belur tentu membuatnya terkejut ditambah pemuda itu adalah anak buah Jansen.


"Apa yang terjadi?" tanya Elena.


"Kakak ipar, tolong. Bos sedang berkelahi!" pinta pemuda itu.


"Apa?" Elena terkejut. Apa yang sedang dilakukan oleh Jansen? Jangan katakan Jansen lupa dengan keadaannya yang bisa dimanfaatkan oleh musuh dengan mudah. Mendadak dia jadi cemas, pemuda itu benar-benar sulit mengontrol emosi tapi apa yang sebenarnya terjadi?