My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Kemarahan Seorang Ibu



Elena tersadar dari pengaruh obat. Seluruh tubuh terasa sangat sakit namun tidak hanya itu saja, wajahnya pun terasa sangat sakit. Rahangnya seperti bergeser akibat pukulan yang dia dapatkan. Elena mengira dia berada di rumah sakit karena ruangan yang serba putih namun suara mesin pesawat membuatnya sangat heran.


"Jansen?" Elena mencari keberadaan pemuda itu tapi yang dia dapatkan justru ayah dan kakaknya yang menjaganya di dalam kamar itu.


"Daddy, kakak?" Elena sangat senang, tak menduga ayah dan kakaknya berada di sana.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Elena? Katakan pada Daddy!" ucap ayahnya.


"Seluruh badanku rasanya sangat sakit, rahangku pun seperti bergeser!"


"Jika begitu jangan banyak bicara!" ucap kakaknya.


"Bagaimana kalian bisa? Lalu para pemuda itu?"


"Sudah aku katakan, jangan banyak bicara. Kau harus banyak beristirahat. Kami akan membawamu kembali ke California dan wanita itu, dia pasti akan mendapatkan ganjarannya!"


Elena diam, jika mendengar perkataan dari kakaknya itu berarti Anne sudah mereka dapatkan. Dia tidak akan melibatkan Richard karena pemuda itu tidak ikut andil saat ibunya  menganiaya dirinya tapi Richard tidak akan melihat ibunya lagi setelah dia pergi. Yang dia pikirkan justru Jansen serta anggota Black Circle, dia sudah tidak berada di sana lagi , apa mereka bisa menjadi pemuda yang jauh lebih baik?


Dia tahu ayah dan kakaknya tidak mungkin mengijinkan dirinya kembali lagi ke sana setelah dia mengalami kejadian tidak menyenangkan ini. Dia harap para pemuda itu tidak tersesat lagi dan menemukan jalan yang mereka cari selama ini. Kasus Mariana akan tetap dia bantu begitu juga dengan Leo, dia tidak akan lepas tangan meski dia sudah tidak berada di sana.


"Lihat keadaanmu, kenapa kau harus dihajar oleh wanita itu?" tanya ayahnya yang sudah duduk di sisi ranjang.


"Ada sedikit salah paham Dad."


"Sedikit salah paham seperti apa? Kau tidak mungkin meminta bantuan pada Samuel untuk menghancurkan seseorang jika tidak terjadi hal yang serius jadi jangan menutupi apa pun dari Daddy."


"Aku hanya ingin menghancurkan kesombongan seseorang saja. Aku tidak tahan!"


"Baiklah, sekarang istirahat. Nenek dan ibumu pasti akan sangat marah melihat keadaan babak belur seperti ini. Wanita itu akan mendapatkan ganjarannya setelah kita tiba!"


Elena mengangguk dan tersenyum, dia memang ingin istirahat. Tidak saja rasa sakit di tubuhnya, dia juga sangat lelah karena dia masih dalam keadaan demam. Semua yang dia alami sudah pasti karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Jika dia tidak sakit, Anne tidak mungkin bisa menyentuhnya bahkan ujung rambutnya pun wanita itu tidak akan bisa menyentuhnya.


Perjalanan menunu California cukup memakan banyak waktu, Elena benar-benhar beristirahat secara total selama berada di dalam pesawat. Lagi pula dia tidak diperbolehkan bangun oleh ayahnya dan begitu mereka tiba, ibu dan neneknya sudah menunggu. Mereka terlihat sangat cemas, ini kali pertama mereka melihat Elena sangat menyedihkan.


"Ya ampun, Elena. Apa yang terjadi padamu?" ibunya benar-bebar terkejut karena keadaan putrinya yang babak belur.


"Aku baik-baik saja, Mom," ucap Elena dengan pelan.


"Apa yang terjadi dengan Elena,  Edward?" tanya Samantha, dia adalah nenek dari Elena.


"Siapa yang melakukan hal ini pada Elena, Edward?" tanya ayah pula.


"Seorang wanita tua yang bosan hidup!" jawab Edward dan pada saat itu, terdengar suara teriakan Anne yang memang dibawa serta di dalam pesawat itu. Anne ditarik dengan paksa untuk keluar dari pesawat hingga wanita itu jatuh ke bawah. Anne berteriak marah, namun dia justru terkejut karena dia berada di sebuah bandara yang seperti sebuah bandara pribadi. Sial, di mana dia saat ini? Anne melihat sekitar dan terkejut melihat orang-orang yang menatap tajam ke arahnya.


"Apa dia yang telah memukul Elena?" Amanda yang sedang kepalan tangan hingga berbunyi. Dia tidak akan memaafkan wanita itu karena keadaan putri semata wayangnya ternyata disebabkan oleh wanita tidak tahu diri itu.


"Tidak perlu, aku akan menghajarnya saat ini juga! Mom, tolong bawa Elena ke rumah sakit," pinta Amanda pada ibu mertuanya.


"Jangan terlalu berlebihan, maksudku jangan berlebihan dalam berbelas kasihan. Hajar saja sampai dia mati!" ucap Samantha.


"Aku tahu, Mom. Tolong bawa Elena karena dia masih butuh perawatan," Amanda melangkah mendekati Anne, dia tidak akan berbelas kasihan.


"Ayo kita pergi, Jhon. Elena harus segera di rawat," ajak Samantha.


"Apa kau tidak mau ikutan, Baby?"


"Tanganku gatal tapi Elena lebih penting," jika bukan karena keadaan Elena, dia pasti sudah ikut andil untuk memukul wanita itu. Lagi pula Edward dan Amanda bisa menangani wanita itu. Samantha dan Jhon pergi membawa Elena ke rumah sakit, sedangkan Anne harus menghadapi tiga orang yang marah.


"Siapa kau? Di mana aku dan lepaskan aku?" teriak Anne.


"Kau telah memukul putriku maka aku akan membunuhmu!" teriak Amanda yang sangat marah dan tanpa membuang waktu, Amanda menendang Anne yang sedang berbaring di landasan. Anne terkejut, dia mendapatkan tendangan yang tak juga berhenti dari Amanda. Anne menjerit saat tubuhnya diinjak menggunakan tumit high heel yang begitu lancip tapi semua itu tidak cukup bagi Amanda yang sangat marah.


Dia tidak pernah memukul Elena meski dia adalah ibunya tapi orang lain justru memukulnya sedemikian rupa hingga babak belur. Dia tidak akan pernah terima, sebagai ibu yang telah melahirkan Elena, dia tidak akan terima.


"Berikan aku sebuah tongkat!" pinta Amanda yang sedang marah.


"Hentikan, aku akan melaporkanmu pada polisi!" teriak Anne.


"Percayalah. Setelah aku memukulmu, kau akan mendapatkan pukulan lainnya yang lebih mengerikan!"


"Jangan membual!" teriak Anne. Sial, siapa sebenarnya Elena? Bukankah dia hanya dosen biasa tapi kenapa dia seperti dari keluarga terpandang? Bandara pribadi itu dilengkapi fasilitas mewah serta sebuah rumah megah yang berdiri tidak jauh dari mereka, hanya orang kelebihan uang saja yang mampu memilikinya. Apakah Elena dari kalangan konglomerat?


Jika begitu, bukankah dia sudah bertindak bodoh selama ini? Anne masih melihat sekitar tempat itu namun sebuah pukulan keras yang dia dapatan dari tongkat kayu mengejutkan dirinya. Anne berteriak, pukulan itu kembali dia dapatkan dari Amanda yang marah.


"Aku tidak pernah memukulnya tapi kau begitu berani memukulnya!" teriak Amanda sambil memukul.


"Ampuni aku, Nyonya. Aku tidak tahu Elena bukan orang biasa!" teriak Anne yang sekarang sudah tahu jika dia sudah salah memukuli Elena.


"Mau dia orang biasa atau bukan, tetap saja kau tidak berhak memukulnya!" Amanda terus memukul, permintaan maaf Anne tak dihiraukan. Seperti yang dia lakukan pada Elena, dia pun mendapatkannya tapi pembalasan memang selalu lebih kejam.


Anna sudah babak belur, dia benar-benar sudah tak berdaya lagi. Tubuhnya terasa remuk akibat pukulan tongkat kayu yang menghantam tubuhnya tiada henti ditambah injakan yang diberikan oleh Amanda. Amanda mengatur napas, dia tidak puas sama sekali. Amanda mendekati suaminya lalu memberikan tongkat yang dia gunakan.


"Kuliti lalu lempar ke kandang Singa Jacob!" ucapnya seraya melangkah pergi.


"Kau dengar perintah ibumu, lakukan!" perintah Edward pada putranya.


"Ajak Mommy pulang, aku yang urus!" ucap Henry. Beberapa anak buah diperintahkan untuk membawa Anne yang tak berdaya ke markas. Sesuai dengan permintaan Amanda, Anne akan mendapatkannya sebelum berakhir di dalam perut singa.