
Mereka melakukan aktivitas seperti biasa meski lelah dan kurang tidur karena mereka kembali saat pagi sudah datang. Jansen berusaha untuk tidak tidur ketika Elena memberikan materi pelajaran yang sesungguhnya sudah dia hapal di luar kepala.
Jika kondisinya seperti waktu itu, dia sudah pasti tidur tanpa perlu memikirkan apa pun tapi saat ini situasi sudah berbeda. Kedua mata Jansen sudah terpejam karena dia sudah tidak tahan dan tidak bisa berkonsentrasi lagi mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Elena.
Kepalanya sudah hampir jatuh ke meja akibat tidak bisa menahan rasa kantuk lagi namun pada saat itu, sebuah benda terlempar ke arahnya dan mengenai tepat ke dahinya. Jansen terkejut dan memegangi dahi, tatapan tajam Elena yang dia dapatkan.
Menyebalkan, padahal Elena juga tidak tidur tapi dia tidak terlihat mengantuk sama sekali bahkan Elena tampak segar bugar. Sebaiknya dia harus meminta resep kenapa Elena yang memiliki stamina yang begitu bagus sehingga dia tidak terlihat lelah sama sekali.
"Jansen Howard, maju ke depan!" perintah Elena.
"Apa? Kenapa harus aku?" Jansen tampak enggan apalagi dia sedang mengantuk berat.
"Saat aku menjelaskan kau tertidur jadi ulangi apa yang baru saja aku jelaskan tanpa buku!" perintah Elena.
"What?" semua terkejut lalu melihat ke arah Jansen. Mengulangi apa yang dosen mereka jelaskan tanpa buku, sepertinya mustahil.
"El. hm..Mam, sepertinya itu mustahil!" hampir saja dia kelepasan memanggil nama Elena.
"Jika tidak bisa maka kau akan mendapatkan hukuman!"
"Sial, baiklah.. baik!" mau tidak mau dia harus maju agar tidak mendapatkan hukuman dari Elena. Sesungguhnya dia tidak mau ada yang tahu tapi untuk menghindari hukuman karena dia ingin pergi tidur setelah ini agar dia memiliki stamina saat bekerja sehingga tidak membuat kesalahan, Jansen benar-benar mengulangi apa yang Elena jelaskan tanpa buku. Lima tahu kuliah dengan mata pelajaran yang sama, dia benar-benar sudah menghapal semuanya. Dia memang sering bolos dan tidur di kelas tapi itu dia lakukan karena dia sudah tahu semua materi yang telah dipelajari.
Semua terkejut, tidak ada satu pun dari mereka yang percaya jika Jansen bisa melakukan hal itu karena selama ini dia tidak pernah fokus saat mengikuti materi yang dijelaskan oleh pada dosen. Elena tampak puas, ternyata Jansen tidak tong kosong nyaring bunyinya.
Bisik-Bisik para mahasiswa yang tidak percaya terdengar karena bad boy yang selalu membuat ulah itu membuat sesuatu yang sulit mereka percaya. Kabar itu pun sampai ke telinga sang rektor baru yang bertugas memantau gerak gerik Jansen. Kelima pemuda yang ditugaskan untuk memukul Jansen pun berada di dalam ruangan itu karena di panggil.
"Kalian lihat? Kalian ditugaskan untuk memukulnya satu kali saja tapi kenapa tidak bisa?" tanya sang rektor baru pada kelima pemuda yang menunduk karena tak berani memandanginya.
"Ada yang melindungnya, Sir. Kami sudah berusaha tapi gagal!" ucap salah satu dari mereka.
"Aku tidak mau tahu, kalian lakukan tugas kalian dengan baik. Jangan sampai dia semakin berprestasi karena tugas kita adalah mengeluarkannya dari sekolah dan kalian, jika ingin uang kuliah gratis maka lakukan tugas kalian yang hanya perlu memukulnya saja!"
"Akan kami usahakan!" meski kelima pemuda itu berkata demikian tapi mereka selalu dicegat. Jansen seolah-olah memiliki pengawal bayangan sehingga mereka kesulitan untuk memukul.
"Ikuti dia saat pulang. Mungkin kalian bisa memukulnya saat berada di luar kampus!" ucap sang rektor saat kelima pemuda itu hendak keluar dari ruangan. Kelima pemuda itu saling pandang, sepertinya bukan ide yang buruk. Mungkin saja saat berada di luar Jansen tidak memiliki pengawal. Akan mereka lakukan nanti saat pulang tapi sebelum itu, mereka mencoba mencari keberadaan Jansen. Mungkin saja mereka beruntung dapat memukul Jansen hari ini.
Jansen menyelinap untuk mencari Elena. Dia benar-benar mengantuk tapi sebelum dia memanfaatkan waktu untuk tidur, dia ingin mencari tahu kenapa Elena begitu berstamina. Dia harus tahu karena dia juga ingin tahu apa yang dikonsumsi oleh Elena.
Waktu istirahat dipergunakan dengan sangat baik untuk beristirahat. Elena Lebih memilih tidur di ruangan kesehatan yang sudah tersedia. Dengan alasan sakit kepala, dia dapat tidur dengan tenang. Jansen yang sedari tadi mencari akhirnya menemukannya setelah melompat masuk ke dalam ruangan itu melalui jendela.
"Ck, aku cari ke mana-mana ternyata dia berada di sini!" Jansen melangkah mendekati Elena dan duduk di sisinya. Tatapan matanya tertuju pada wajah cantik Elena lalu turun ke bibirnya. Secara refleks Jansen pun menyentuh bibirnya sendiri. Sebaiknya tidak dia lakukan karena dia tidak mau Elena marah padanya.
Jansen menyentuh dahi Elena, dia hanya ingin tahu karena dia pikir Elena sedang sakit akibat kurang istirahat. Sentuhan tangannya justru membuat Elena terkejut dan terbangun dari tidurnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elena.
"Tadinya aku pikir aku mau tidur tapi ada kau. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku kira kau sedang sakit. Jika sakit, sebaiknya kau pulang saja."
"Tidak, aku baik-baik saja," Elena menyelinapkan rambutnya di telinga, mendadak dia canggung hanya karena berdua saja. Jansen tak memalingkan pandangannya dari Elena dan hal itu membuatnya jadi berdebar.
"Hm, aku perhatikan kau tidak terlalu bodoh," ucap Elena mengalihkan perhatian.
"Apa aku terlihat bodoh, Elena?" Jansen menarik kursinya agar lebih dekat dengan Elena.
"Bukan seperti itu, Jansen. Aku yakin kau memiliki prestasi dan tidak seperti yang orang-orang duga lalu kenapa kau tidak segera menyelesaikan kuliahmu? Kau bisa lanjut ke jenjang S 2 atau S 3 agar ayahmu bangga. Aku bisa melihat jika kau bisa memiliki prestasi."
"Apalah arti semua itu jika kau tidak dianggap, Elena?"
"Maksudmu? Apa kau mau sedikit bercerita padaku?" mungkin hari ini dia bisa tahu apa yang membuat Jansen menjadi pemuda nakal padahal dia memiliki prestasi yang bagus.
"Saat kau memiliki prestasi tapi prestasimu tidak dihargai, percayalah rasanya sangat menyakitkan."
"Ayahmu melakukan hal itu padamu?" Elena semakin penasaran.
"Yang tidak pernah diabaikan oleh orangtua pasti tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan," Jansen meraih tangan Elena lalu menggenggam tangan Elena. Ini kali pertama dia mau terbuka akan masalah hidup yang dia hadapi.
"Aku memang tidak mengerti, tapi aku bisa melihat sebuah luka dan kekecewaan dari tatapan mata dan ekspresi wajahmu," Elena menyentuh wajah Jansen lalu mengusapnya dengan perlahan. Jujur saja, dia iba dengan pemuda bermasalah seperti Jansen. Diabaikan oleh orangtua, bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Pastinya sangat menyakitkan.
"Aku memang kecewa pada ayahku, sangat kecewa!" ucap Jansen, Kini tangannya sudah berpindah dan berada di atas tangan Elena yang masih berada di wajahnya. Jansen bahkan mencium telapak tangan Elena, menghirup aroma manis dari telapak tangannya.
"Kekecewaanmu berdasar, bukan?"
"Yeah, saat ayahku membawa ja*ang itu pulang bersama putranya dan saat ibuku meninggal, hidupku benar-benar berubah. Aku selalu menyenangkan ayahku, Elena. Setiap prestasi yang aku dapatkan, aku tunjukkan tapi apa? Dia tidak peduli karena dunianya teralihkan oleh Richard. Aku selalu berusaha mengambil simpatinya tapi semua sia-sia sampai akhirnya aku berpikir, untuk apa piala prestasi yang aku dapatkan? Semua tidak ada artinya. Aku mulai memberontak, jika ayahku tidak peduli padaku meski aku berprestasi maka kekacauan yang aku buat pasti bisa menarik perhatiannya."
"Tapi kau salah, bukan? Ayahmu justru semakin tidak peduli padamu bahkan dia membenci dirimu yang selalu membuatnya kecewa."
"Kau benar, Elena. Dulu aku tidak peduli tapi sekarang tidak lagi. Aku akan berubah untuk diriku sendiri dan untukmu. Aku akan membuktikan padamu jika aku bisa kau andalkan dan aku pun akan membuktikan pada ayahku jika aku bisa sukses tanpa dirinya dan tanpa bantuannya."
"Aku yakin kau bisa," Elena beringsut hingga berada di sisi ranjang. Jansen menatapnya lekat namun tindakan Elena mengejutkan dirinya karena Elena memberikan sebuah ciuman di dahinya.
"Itu penyemangat untukku," ucap Elena seraya beranjak.
"Apa?" Jansen memegangi dahi, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja Elena lakukan.
"Aku pergi, jangan sampai ada yang melihat kita lalu salah paham. Aku tidak mau ada gosip tidak menyenangkan!"
"Tunggu Elena, ayo ulangi!" pintanya Jansen, rasanya ingin mendapatkan sebuah ciuman lagi dari Elena.
"Jangan coba-coba!" ucap Elena seraya berjalan menuju pintu. Sepertinya dia sudah gila mencium muridnya sendiri tapi dia merasa jika Jansen pantas mendapatkannya dan dia harap pemuda itu tetap memiliki semangat untuk memperbaiki hidupnya.