
Mariana menahan tawanya ketika melihat Jansen yang sedang berada di dapur dengan ekspresi wajah cemberut. Semua itu gara-gara tendangan Elena yang secara tiba-tiba. Jansen melotot ke arah Elena yang sedang membuat sarapan, Elena cuek saja dan pura-pura tidak tahu.
Mariana melewati Jansen sambil menahan tawanya karena dia tahu apa yang terjadi semalam. Dia tidak masuk ke dalam kamar, Mariana justru mengintip untuk melihat apa yang mereka lakukan dan tak menyangka, dia mendapatkan tontonan yang tak terduga.
"Kakak ipar, kau sedang buat apa?" tanya Mariana basa basi.
"Sarapan. kau bisa melihatnya."
"Bolehkah aku membantumu?" Mariana sudah berdiri di sisi Elena karena dia ingin membantu.
"Aku sudah mau selesai tapi kau bisa membantu aku membuat kopi jika kau mau."
"Serahkan padaku!" Mariana mengambil kopi dan beberapa gelas karena dia akan membuat kopi.
"Bikin yang enak, ingat tanpa gula!" ucap Jansen.
"Berisik! Kakak ipar, semalam aku mendengar kakak ipar membahas masalah otot dan teriakan seseorang akibat ototnya terjepit!" Mariana melirik ke belakang untuk melihat ke arah Jansen.
"Enak saja, otot siapa yang terjepit!" ucap Jansen.
"Untuk yang merasa saja!" goda Mariana.
"Awas kau ya!"
"Hei, kalian bukan anak kecil. Mariana, bukankah kau ada tugas? Segera buat kopi, kita akan pergi setelah ini karena aku harus ke kampus. Hari ini kemungkinan aku pulang malam jadi kita harus segera menyelesaikan permasalanmu!"
"Kakak ipar tidak jadi berhenti, bukan?"
"Tidak, seseorang tidak bisa aku tinggal sendiri!" ucap Elena.
"Aku juga sangat berharap kakak ipar tidak berhenti karena aku ingin melanjutkan kuliahku di kampus itu."
"Benarkah? Jadi kau ingin melanjutkan pendidikanmu?"
"Yeah, tapi setelah aku bebas dan terlepas dari tua bangka itu. Seperti yang kakak ipar katakan, aku akan melanjutkan kuliahku karena aku sudah menentukan tujuan hidupku!" ucap Mariana.
"Bagus, itu sangat bagus. Aku memang membantu tapi aku hanya membantu kalian membuka jalan dan sisanya, kalian yang menentukan!"
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah kakak ipar berikan!"
"Bagus, segera bergegas!" ucap Elena.
"Kalian ingin pergi ke mana?" tanya Jansen.
"Menjebak tua bangka itu agar masuk penjara bersama dengan kedua putranya yang baj*angan!"
"Aku ikut, jangan sampai terjadi sesuatu pada kalian berdua jadi aku ikut!"
"Bukankah bos harus pergi ke kampus?" tanya Mariana.
"Tidak, aku memiliki banyak waktu jadi aku ikut dan aku akan membantu kalian. lagi pula sangat berbahaya jika tidak ada laki-laki di antara kalian jadi biarkan aku ikut!"
"Kebetulan aku memang butuh bantuanmu jadi kau ikut saja, Jansen!" ucap Elena.
"Aku akan membantu, Elena. Lagi pula aku harus melindungi kalian dan hari ini, aku ingin membebaskan Mariana."
"Bagus, jangan membuang waktu. Segera sarapan!" makanan yang sudah jadi dibawa ke meja, Mariana juga sudah membuat kopi untuk mereka. Jansen yang tidak tahu apa rencana mereka pun diberi tahu agar Jansen dapat bekerja sama. Rencana yang cukup berisiko untuk Mariana tapi demi sebuah bukti, ada harga yang harus dibayar.
Setelah selesai sarapan, mereka segera pergi menuju tempat tinggal Mariana. Sudah lama tidak pulang, membuat Mariana tampak canggung. Tidak hanya itu saja, dia takut. Bisa dilihat apa yang sedang dia alami saat ini, kedua tangan Mariana terlihat gemetar.
"Ma-Maaf, aku hanya takut saja."
"Ada kami di sini, kau tidak perlu takut. Lakukan, aku pasti akan menegakkan keadilan untukmu!"
Mariana mengangguk, dia harus bisa meski dia takut. Cukup hadapi tua bangka itu maka semuanya selesai. Mariana melangkah perlahan, menuju rumahnya. Dia tampak ragu, ludah bahkan ditelan dengan susah payah ketika dia sudah berdiri di depan pintu. Mariana bahkan semakin ragu untuk masuk ke dalam seolah-olah ada monster yang menunggunya di dalam sana.
Meski keberanian yang dia miliki tak lebih tebal dari selembar tisu tapi dia berusaha memberanikan diri. Mariana menarik napas sejenak dan setelah itu, dia membuka pintu rumah peninggalan ibunya yang telah dikuasai oleh tiga lelaki baji*angan yang telah dia usir dua namun satu lagi belum. Itu pula alasan dia bertahan dan tak pergi dari rumah itu.
Ayah tirinya terkejut melihat kepulangan Mariana dan Mariana terkejut melihat banyaknya orang di rumahnya. Sebagian dari mereka tampak mabuk dan yang sebagian lagi tampak bercumbu dengan wanita malam yang entah dari mana datangnya.
"Apa-Apaan ini? Keluar kalian semua dari rumahku?" teriak Mariana murka.
"Beraninya kau kembali setelah menjerumuskan kedua kakakmu ke dalam penjara?" teriak ayah tirinya.
"Mereka bukan kakakku, dan ini bukan rumahmu jadi bawa mereka semua pergi!" Mariana berusaha mengusir tapi tidak ada satu dari mereka pun yang mau pergi.
"Pergi kalian, pergi!" teriaknya lagi namun dia justru dicemooh dan diremehkan bahkan ayah tirinya melangkah mendekati Mariana dengan kemarahan di hatinya.
"Gara-Gara kau, aku hampir terbunuh karena hutang yang tak bisa aku bayar dan gara-gara kau, kedua kakakmu berada di dalam penjara!" ucapnya.
"Jangan menyalahkan aku. Bukan aku yang berhutang jadi kau tidak berhak menyalahkan aku!" teriak Mariana.
"Seharusnya aku menjualmu menjadi pela*cur sejak dulu!" ayah tirinya hendak memukul namun Mariana menghindar.
"Ibuku sudah meninggal jadi kita tidak memiliki hubungan lagi maka dari itu pergi dari rumahku!"
"Aku tidak akan pergi jadi berikan surat rumah ini dan bebaskan kedua kakakmu dari penjara!"
"Aku tidak sudi!" teriak Mariana. Dia tidak akan sudi memberikan surat rumah itu pada bajing*an yang telah merusak kehidupannya. Mariana dan ayah tirinya masih adu mulut tapi kesabaran ayah tirinya sudah habis oleh sebab itu, tanpa Mariana sadari tiba-tiba ada yang memukul kepalanya dari belakang. Mariana terkejut, begitu juga dengan Elena dan Jansen yang sedang mengintai dari jarak yang cukup jauh. Padahal mereka hanya bertugas memantau dan mengambil foto serta Video saat Maria dianiaya oleh ayah tirinya sebagai barang bukti tapi rencana Mariana sungguh berbahaya dan semua di luar rencana karena banyaknya orang di rumah Mariana.
"Tangkap dia dan bantu aku menjualnya di club malam!" teriak ayah tiri Mariana yang sudah lama menunggu kepulangan Mariana. Tidak menyangka pagi ini Mariana mendadak pulang setelah hilang beberapa hari dan hari ini, tidak akan dia lepaskan putri sambungnya itu.
"Tua bangka licik, aku akan membunuhmu!" teriak Mariana. Dia sudah dikeroyok dan di tangkap oleh beberapa pria sehingga Mariana tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku, aku akan menjebloskan kalian semua ke dalam penjara!" teriak Mariana.
"Bawa dia, aku akan menghubungi seseorang yang akan membelinya dengan harga tinggi jadi bawa dia."
"Tua bangka sialan, lepaskan!" teriak Mariana sambil memberontak saat dia hendak dibawa pergi.
"Aku benar-benar beruntung menikah dengan ibumu dan sekarang, aku akan mendapatkan keuntungan dengan menjualmu!"
"Kau tidak akan mendapatkan apa pun, tidak akan karena penjara sudah menunggumu!"
"Bawa dia, segera!" ayah tirinya sudah sangat senang karena Mariana yang dia cari selama ini akhirnya pulang dan sekarang bisa dia jual. Uangnya bisa untuk membayar hutang dan untuk menebus kedua putranya yang ada di penjara bahkan masih ada sisa banyak.
"Lepaskan, lepas!" teriak Mariana yang tak henti memberontak.
"Segera bawa dia pergi!" perintah ayah tirinya namun pintu yang ditendang dari luar mengejutkan mereka semua apalagi dua orang yang sedang berdiri di depan pintu, membuat semua yang ada di dalam terkejut selain Mariana.
"Siapa itu?" teriak ayah tiri Mariana.
"Lepaskan Mariana!" teriak Jansen. Elena berdiri di belakangnya dan tampak waspada.
"Tolong aku bos!" teriak Mariana. Jansen sangat marah, ketika melihat Mariana sedang ditin*dih oleh dua orang pria yang berbadan cukup besar.
"Lepaskan Mariana jika tidak aku akan membunuh kalian!" teriaknya marah. Jansen tampak menakutkan, dia benar-benar marah karena Mariana diperlakukan seperti itu. Hari ini, dia pasti akan membebaskan Mariana dari ayah tirinya yang keji.