My Lecturer Is A Queen Of Mafia

My Lecturer Is A Queen Of Mafia
Diikuti



Sudah waktunya untuk pulang, Elena pun bergegas untuk pulang. Beberapa pekerjaan yang akan dia periksa di rumah dibawa, mungkin malam ini dia akan begadang untuk mengerjakan semua itu.


Elena melangkah melewati para mahasiswa yang belum pulang. Mereka memberi hormat ketika Elena melewati mereka. Semua benar-benar berjalan dengan lancar, sepertinya dia akan betah bekerja di sana apalagi Jansen sudah bisa dikendalikan dan tidak berbuat ulah lagi.


Semoga saja tidak ada gangguan tapi pemuda yang berdiri di depan gerbang benar-benar membuatnya sakit kepala. Siapa lagi jika bukan Richard. Seharusnya dia tidak langsung keluar sehingga dia bisa menghindari pria itu tapi sekarang, dia akan sulit menghindar karena Richard sedang melambai ke arahnya. Beruntungnya tidak ada mahasiswa yang melihat sehingga tidak ada yang melihat kedatangan Richard dan yang paling penting, Jansen sudah pulang sehingga dia tidak tahu karena dia tidak mau Jansen membuat keributan dengan saudara tirinya itu karena akan berakibat fatal.


Elena melangkah pergi, tanpa mempedulikan Richard. Dia tidak mau berbasa-basi dengan Richard apalagi dia tidak memiliki banyak waktu. Richard yang tidak terima diabaikan olehnya tentu saja mengejar Elena yang sudah melangkah pergi.


"Elena, tunggu!" pintanya sambil mengejar.


"Tolong jangan mengganggu aku!" pinta Elena.


"Kenapa? Aku tidak mengganggu, aku hanya sedang mendekatimu saja," ucap Richard.


"Aku tidak suka didekati oleh siapa pun, jadi berhentilah mengikuti aku!" Elena mempercepat langkah, seharusnya dia tidak memanfaatkan pemuda itu agar dia tidak datang lagi. Sekarang dia jadi terlibat tapi dia akan mengabaikan Richard agar dia tidak semakin terlibat.


"Ayolah, jangan bersikap seperti ini. Ayo pergi makan denganku. Kali ini kau mau membelikan makanan untuk seluruh keluargamu pun aku tidak akan keberatan!" ucap Richard.


"Wah, jangan terlalu baik karena kau akan menyesal nantinya."


"Untukmu aku tidak akan menyesal!"


"Jangan terlalu percaya diri, sebaiknya tidak terlalu jauh karena kau akan benar-benar menyesal telah mendekati aku. Terus terang saja, kau akan menghabiskan waktumu dan kau pun akan menghabiskan uangmu saja karena mendekati aku jadi berhentilah sebelum terlambat!" Elena sengaja memperingati agar Richard berhenti.


"Aku tahu kau hanya bercanda saja dengan ucapanmu ini agar aku tidak mendekatimu tapi semakin kau menolak, semakin aku ingin mendekatimu!" Ucap Richard yang tidak menyerah sama sekali.


"Ck, sebaiknya tidak melakukan apa pun. Aku sudah memiliki tunangan!" ucap Elena.


"Apa?" langkah Richard terhenti, dia terlihat sedikit terkejut mendengar perkataan Elena.


"Sudah tahu? Sebaiknya tidak mengikuti aku!" Elena kembali melangkah pergi. Dia harap Richard tidak mengganggunya lagi.


Richard berdiri di tempat, entah kenapa dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Elena. Dia yakin Elena hanya berdusta untuk membuatnya menyerah tapi dia tidak akan menyerah untuk mendekati Elena. Untuk saat ini dia tidak akan memaksa agar Elena tidak marah lalu membenci dirinya sehingga dia tidak bisa mendekati Elena lagi.


Selagi melangkah menuju halte bus, Elena menghubungi ayahnya karena dia ingin mengatakan pada ayahnya jika barang yang dititipkan sudah dia dapatkan. Elena terus melangkah namun dia merasa ada yang mengikuti langkahnya. Dia kembali berbalik karena dia mengira Richard mengikuti tapi ternyata pria itu sudah pergi. Aneh, apa ada yang hendak memata-matai dirinya?


"Dad, aku sudah mendapatkan barang yang kau titipkan," ucap Elena ketika ayahnya sudah menjawab panggilan darinya.


"Daddy sudah tahu, lain kali jika ada yang pergi ke sana Daddy akan menitipkan barang lagi untukmu," ucap ayahnya.


"Tidak perlu repot, Dad," Elena melangkah cepat tapi dia masih merasa ada yang mengikuti dirinya. Baiklah, sepertinya ada yang hendak bermain-main dengan dirinya. Entah siapa yang pasti, orang itu sudah bosan hidup. Tidak hanya satu tapi dia merasa ada beberapa orang yang mengikuti dirinya.


Elena melangkah cepat, dia harus menghindar agar orang-orang itu tidak mengikuti dirinya sampai ke rumah. Entah itu utusan Richard akibat ditolak olehnya yang pasti, jangan sampai ada yang mengikuti dirinya sampai ke rumah.


"Sorry, Dad. Aku sedang sibuk saat ini. Aku akan menghubungi Daddy nanti setelah aku selesai," ucap Elena yang masih melihat sekitarnya.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa mengabari Daddy jika terjadi sesuatu di sana. Daddy akan memerintahkan beberapa anak buah untuk membantumu!"


"Please, Dad. Selama bisa aku tangani maka akan aku tangani sendiri. Aku tidak ingin mempersulit Daddy jadi percayalah padaku jika aku pasti bisa menanganinya seorang diri," semoga ayahnya tidak tahu dengan apa yang telah dia lakukan untuk membantu Jansen.


"Baiklah, Daddy percaya padamu."


"Oke, aku sedang sibuk, nanti aku akan menghubungi Daddy lagi!" tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Elena mengakhiri percakapan mereka. Elena masih berjalan santai tapi semakin lama semakin cepat bahkan dia mulai berlari karena beberapa orang mulai menampakkan diri untuk mengikuti dirinya.


Sudah dia duga, sepertinya mereka mencari gara-gara tapi dia tidak membawa senjata api dan dia pun tidak mau  membuat keributan di area kampus sehingga ada yang melihatnya. Elena mulai berlari, dia harus menghindari orang-orang itu tanpa membuat keributan karena dia tidak mau ada yang tahu identitas dirinya yang sebenarnya.


"Sial, kejar dan jangan sampai dia melarikan diri!" Elena dapat mendengar seseorang berteriak demikian. Elena berpaling, untuk melihat ke belakang. Ternyata orang-orang itu mengejar dirinya bahkan jumlahnya semakin banyak saja. Elena mengumpat dan memaki, entah kenapa masalah jadi datang silih berganti. Untuk saat ini tidak perlu memikirkan apa pun karena yang harus dia pikirkan adalah lari.


Beberapa pemuda yang dibayar untuk menakuti dan mengancam dirinya terus mengejar. Lari Elena sangat cepat, mereka bahkan kewalahan apalagi Elena melarikan diri di kerumunan orang-orang dan terus menghindari mereka. Misi mereka adalah menangkap Elena lalu mengancam Elena. Hanya seorang wanita muda, tidak sulit bagi mereka apalagi Elena terlihat seperti wanita lemah pada umumnya yang hanya bisa lari saja.


Elena lari sambil mencari tempat untuk bersembunyi, dia pasti bisa menghindar oleh sebab itu Elena bersembunyi di dekat sebuah bangunan. Para pemuda yang mengejar terus mencari, mereka pun berpencar. Elena masih berada di tempat tersembunyi namun suara seseorang mengejutkan dirinya karena suara itu tidak asing baginya.


Dengan perlahan, Elena melangkah mendekati sumber suara itu, langkahnya terhenti karena dia melihat Jansen sedang dipukuli oleh beberapa orang tapi pemuda itu diam saja tanpa melawan. Elena hampir melupakan orang-orang yang mengejar dirinya namun dengan cepat Elena bersembunyi untuk melihat apa yang Jansen lakukan. Dia sungguh tidak menduga jika pemuda itu benar-benar memulai dari bawah.


Elena masih mengintip di mana Jansen tidak melawan sama sekali saat dia dipukuli oleh rekan kerjanya. Jansen berusaha menahan diri untuk tidak melawan karena jika tidak dia melawan maka dia akan kehilangan pekerjaan itu. Bagaimanapun pekerjaan itu sangat berarti dan dia harus bisa menahan diri.