
Pertarungan antara Jansen dan Adam, ketua geng Blood's Rose terjadi dengan sengit. Leo hanya berdiri menyaksikan orang yang telah menolongnya itu bertarung untuk dirinya. Meski hanya menggunakan sebuah tongkat besi, Jansen tidak takut sama sekali menghadapi Adam yang notabenenya adalah penjahat kelas kakap.
Nyali yang dia miliki memang pantas diacungi jempol karena Jansen tidak takut sama sekali. Seperti ketika dia melawan dua puluh pemuda yang mengeroyoknya di kampus, seperti itu pula dia melawan Adam tapi kali ini dia memiliki senjata.
Leo tak bergeming setiap kali Jansen mendapatkan pukulan dari Adam yang dapat Jansen tangkis. Mereka berdua imbang karena mereka sama-sama bisa mengimbangi kekuatan lawan. Adam yang memukulnya tanpa henti mulai kesal karena sulit mengenai Jansen. Pemuda yang dia anggap sebagai pemuda itu cukup gesit. Para penonton dari dua kubu mulai tidak sabar apalagi anggota Blood's Rose. Mereka merasa bos mereka seperti sedang dipermainkan oleh Jansen saja.
"Aku akan membunuhmu, Jansen!" teriak Adam seraya mengayunkan tongkatnya namun lagi-lagi Jansen menghindar lalu menangkisnya.
"Kaulah yang akan berakhir di dalam penjara!" kini Jansen balik menyerang, tongkat yang ada di tangan disabetkan tiada henti ke arah Adam.
Adam mengumpat dan memaki, jangan sampai dia kalah oleh Jansen karena itu sangat memalukan namun naas, satu pukulan dia dapatkan di kepala ketika dia lengah. Darah mengalir dari kepalanya, Adam pun berteriak marah. Dia tidak terima oleh sebab itu, sebuah isyarat diberikan pada anak buahnya untuk balik menyerang.
Duel antara Jansen dan Adam mulai kacau karena anggota Blood's Rose menyerang secara tiba-tiba. Jansen terkejut begitu juga anak buahnya yang juga melakukan penyerangan sehingga bentrokan tak terhindarkan. Jumlah yang tidak seimbang membuat Jansen dikeroyok oleh Adam berserta beberapa anak buahnya.
Jansen mendapatkan luka dari sabetan benda tajam yang diberikan oleh anak buah Adam. Apa ini yang dia inginkan? Leo hanya menjadi penonton, dia tidak tahu harus melakukan apa.
Suara teriakan keluarganya terdengar dari dalam sana. Mereka meminta tolong dan memohon pada Leo untuk melepaskan mereka. Tidak ada yang menduga Leo akan bertindak gila akibat dendamnya atas perlakuan buruk mereka selama ini. Leo masih saja tidak bergeming, bukankah dia hanya ingin menghabisi keluarganya saja agar tidak ada yang membulying dirinya lagi? Bukankah dia bersedia menerima tawaran dari Blood's Rose demi tujuan yang sangat dia inginkan sejak dulu?
Leo kembali memandangi Jansen yang sedang melawan setiap serangan dari anggota Blood's Rose. Semua tidak memberikan ruang gerak yang cukup bagi Jansen sehingga dia mulai kewalahan. Bagaimanapun satu melawan puluhan orang itu tidaklah adil. Para rekannya juga sibuk, melawan anak buah Rose yang lainnya dan mereka melakukan itu untuk membawa Leo kembali.
"Pikirkanlah, Leo. Aku tahu kau tidak berniat menjadi penjahat!" teriak Jansen seraya menangkis pisau yang diayunkan ke arahnya. Beruntungnya dia membawa tongkat besi sehingga dia bisa melawan kelompok brutal yang tak memiliki belas kasihan itu.
"Sebaiknya kau memikirkan dirimu sendiri!" teriak Adam yang sudah berlari ke arah Jansen sambil mengayunkan sebilah pedang yang baru dia rebut dari anak buahnya ke arah Jansen.
Jansen terkejut, buru-buru menangkis tapi dia tidak bisa menghindari serangan yang lainnya yang diberikan oleh anak buah Adam. Dia mendapatkan serangan dari segala sisi, setelah menangkis yang satu dia harus menangkis yang lain sehingga Jansen kewalahan dan mendapatkan beberapa luka di lengan dan di tempat yang lainnya.
"Kau tidak akan bisa menghindar, Jansen!" teriak Adam yang kembali mengayunkan pedangnya ke arah Jansen di susul oleh anak buahnya yang lainnya.
"Aku pasti akan membawa Leo kembali dan membunuh kalian semua!" teriak Jansen yang tak henti menangkis setiap serangan yang dia dapatkan. Di situasi seperti itu, setiap orang harus menyelamatkan dirinya sendiri apalagi anak buahnya juga kewalahan.
"Kau tidak akan bisa, ha.. ha... ha.. ha!" tawa Adam begitu nyaring disusul dengan serangannya.
Leo tak memalingkan pandangannya dari bosnya yang sedang berjuang untuk membawanya kembali. Untuk apa? Apa dia begitu penting dalam kelompok Black Circle? Di dalam kelompok itu memang tidak ada yang membullying dirinya. Tidak ada yang pernah mencibir dan bertanya kenapa. Selama ini dia merasa memiliki keluarga saat bersama dengan kelompok Black Circle. Apakah benar ini yang dia inginkan?
"Mati kau, Jansen!" teriak Adam. Kali ini kemenangan sudah berada di depan mata, Jansen sudah terdorong kalah. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka yang tak henti dia dapatkan dan dia sudah lelah luar biasa. Tongkat besi bahkan hampir jatuh dari pegangan tangannya.
Leo mengepalkan kedua tangan, tidak. Bukan ini yang dia inginkan, dia tidak ingin bosnya terluka karena dendam yang telah dapat dia balaskan. Jansen menangkis dengan sekuat tenaga dan semakin terpukul kalah. Adam dan anggotanya benar-benar sudah berada di puncak kemenangan.
Satu ayunan pedang yang diberikan oleh Adam mementalkan tongkat besi yang ada di tangan Jansen karena Jansen tidak memiliki banyak tenaga lagi. Jansen terkejut akibat senjatanya yang sudah terlempar jauh dan setelah senjata itu, Adam menghunuskan pedangnya ke arah Jansen.
Mata pedang milik Adam sudah akan melukai dirinya tapi siapa yang menduga, Leo tiba-tiba saja berlari ke arahnya lalu berdiri di hadapan Jansen. Mata pedang itu menusuk punggung Leo hingga tembus ke dadanya bahkan mata pedang itu melukai dada Jansen . Jansen terkejut, begitu juga Adam dan anggotanya yang lain.
"Leo!" Jansen berteriak keras, para sahabatnya yang melihat pun terkejut. Sungguh tindakan bodoh yang berbahaya.
"Cih, dasar sampah!" Adam menarik pedangnya lalu menendang Leo hingga membuat Leo dan Jansen ambruk ke atas aspal.
"Leo, kenapa kau begitu bodoh?!" Jansen mengangkat tubuh Leo yang jatuh ke atas tubuhnya. Darah mengalir dari luka bekas tusukan, Leo yang tidak menginginkan semua itu terjadi tentu saja mengambil tindakan tanpa pikir panjang dan menggantikan bosnya untuk menerima mata pedang itu.
"Maaf, Bos. Aku hanya ingin mencari keadilan!"
"Bodoh, bukan seperti itu caranya!"
"Kurang ajar kau, Leo. Aku kira kau bersungguh-sungguh ingin menjadi anggotaku tapi kau sudah berkhianat sebelum resmi menjadi anggota Blood's Rose. Kami tidak butuh sampah seperti dirimu oleh sebab itu, aku akan membunuhmu bersama dengan Jansen!" Adam benar-benar murka, kali ini bukan pedang lagi yang akan dia gunakan.
Sebuah senjata api laras panjang dilemparkan oleh anak buahnya. Dia akan menghabisi Leo, Jansen dan seluruh keluarga Leo. Salahkan Leo yang mengkhianatinya sehingga pemuda itu pun harus mati di tangannya.
"Cepat pergi, bos. Pergi dari sini semuanya!" teriak Leo sambil mendorong bosnya agar pergi untuk menyelamatkan dirinya.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan dirimu, Leo!"
"Kami juga tidak akan pergi!" teriak para sahabatnya. Situasi jadi sedikit dramatis akibat serangan yang diterima oleh Leo.
"Aku tidak mau kalian celaka jadi pergi kalian dari sini!" teriak Leo yang tak berhenti mendorong.
"Terlambat untuk kalian, sekarang kalian harus mati!" Adam sudah mengangkat senjata api laras panjangnya, dia akan membunuh kedua pemuda itu dimulai dari Jansen.
Leo yang menyebabkan semua itu terus meminta Jansen untuk pergi tapi Jansen yang datang untuk menolongnya tidak akan membiarkan Leo mati seorang diri. Sebagai pemimpin, dia harus menyelamatkan Leo namun Adam yang sudah membunuh banyak orang, tidak terlihat segan sama sekali.
Senjata api sudah dikokang, kepala Jansen terlebih dahulu yang dibidik karena dia ingin membunuh Jansen terlebih dahulu barulah dia membunuh Leo. Dia ingin Leo melihat apa akibat yang akan dia dapatkan karena mengkhianatinya.
"Matilah kalian berdua!" Adam menembakkan senjata apinya tanpa ragu.
"Bos!" Leo berteriak lalu mendorong tubuh bosnya. Peluru yang melesat hendak meledakkan kepala Jansen justru menghantam aspal, Adam kembali membidik karena dia menganggap Leo dan Jensen adalah dua kelinci malang yang harus dia habisi.
Adam kembali membidik, dia akan meledakkan kepala Leo terlebih dahulu karena dia tidak menerima pengkhianat namun suara motor yang nyaring terdengar di susul dengan letusan senjata api sebagai peringatan, mengejutkan mereka semua. Semua melihat ke arah gerbang di mana sebuah motor melompat melewati pagar yang sudah tumbang dan si pengendara sudah membidikkan senjata apinya ke arah musuh.